
"Tolong apa? Jangan bilang kalau kamu menyuruhku untuk membelikan pembalut?"
Nana nyengir kuda, itu memang dipinta oleh Nana.
"Mau, ya ..., please ....!" Nana mengatupkan kedua tangan tepat di dada, "kalau aku tidak memakai pembalut, lalu mau pakai apa? Bisa berceceran di mana-mana nanti, mau ya?" pintanya.
Tidak ada pilihan lain, membayangkannya saja Adam sudah bergidik.
"Ya sudah, Mas pergi. Tapi mau mandi dulu sebelum berangkat."
"Kelamaan, sekarang saja. Aku beri waktu 15 menit, di warung juga ada, Mas."
Bukan masalah tempatnya, malunya itu yang tidak bisa dibayangkan. Ini pertama kali dirinya membeli keperluan wanita.
"Cuci muka saja, tidak lama kok," kata Adam.
"Tidak perlu, Mas tidak usah cuci muka. Sudah ganteng kok meski tidak membersihkan dulu juga." Nana tanpa sadar mengakui ketampanan Adam, ia langsung saja menarik lengan pria itu dari tempatnya dan mendorongnya agar cepat keluar dari kamar.
💞
Di perjalanan, Adam malah tidak fokus. Baru kali ini ada yang bilang padanya kalau dirinya itu tampan.
"Masa sih aku ganteng?" Adam melihat bayangannya di kaca mobil yang menggantung di tengah. Mengarahkan ke arahnya sendiri, ia tersenyum tipis.
"Beli di mana? Pasti malu, mending kalau tidak ketemu ibu-ibu rempong saat membelinya, ke rumah Roy saja deh, dokter Elena pasti punya." Adam langsung mengarahkan mobilnya ke rumah Roy.
Setibanya di sana, Roy sedang menyiram bunga di pekalangan rumah. Tiba-tiba teehenti saat melihat sebuah mobil masuk, ia sudah hapal betul mobil tersebut. Roy menyudahi aktivitas-nya untuk menemui Adam.
"Tumben pagi-pagi sudah ke sini, ada apa?" tanya Roy.
Adam menarik baju yang dikenakan Roy.
"Minta tolong," ucap Adam.
"Tolong apa?" Roy penasaran.
"Istrimu punya pembalut tidak?"
Pertanyaan Adam membuat Roy bertanya-tanya, ada apa dengan dirinya? Sejak kapan pria ini menggunakan pembalut?
"Kamu datang bulan? Sejak kapan?" Pertanyaan Roy membuat Adam kesal, ia tengah serius tapi sahabatnya itu malah meledeknya.
"Punya tidak? Istrimu 'kan perempuan, dia pasti punya pembalut," kata Adam.
"Istriku memang perempuan, Adam ...," kesal Roy, "ngajak ribut kamu, hah?"
"Apa sih pagi-pagi sudah ribut?" sahut Elena yang baru saja keluar, ia masih berdiri di depan pintu, "ada apa ini?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Dia tanya, kamu punya pembalut apa tidak?" kata Roy pada istrinya.
"Sudah lama aku tidak memakai pembalut, 'kan sedang hamil, mana butuh yang begituan," jawab Elena. Lalu ia menghampiri lebih dekat kearah kedua pria itu, "untuk, Nana ya?" tanya Elena.
"Kok tahu," jawab Adam.
"Tahulah, mana mungkin kamu pakai pembalut? Ada-ada saja," ucap Elena.
"Wah, wah ... Perhatian sekali kamu sama pengasuh itu, sampai bela-belain datang jauh-jauh kemari. 'Kan bisa beli di supermarket," ujar Roy.
"Terpaksa, dia kehabisan stock. Malu kalau beli ke supermarket," sela Adam.
"Tapi aku gak punya pembalut, sudah sana beli saja di warung terdekat," perintah Elena, "kasian Nana lama menunggu."
Merasa sia-sia datang jauh-jauh tapi tidak ada hasil. Adam pun segera kembali dan mau tak mau membeli pembalut di minimarket terdekat.
Setibanya di minimarket, Adam mengambil beberapa jenis merk pembalut. Karena ia tidak tahu mana yang cocok untuk gadis itu. Wajah Adam terus menunduk ke arah jinjingan belanjaan.
"Banyak sekali belinya, untuk persediaan?" tanya salah satu pengunjung.
Adam malu bukan kepalang, yang bertanya seorang perempuan.
"Perhatian sekali sama istrinya, suamiku saja tidak seperti itu," kata pengunjung lain.
Adam hanya tersenyum tipis saat mendengar ucapan mereka yang tengah memujinya, ingin membantah kalau pembalut itu bukan untuk istrinya tapi takut mereka berpikir aneh-aneh tentangnya. Adam pun akhirnya selesai membayar beberapa pack pembalut itu.
"Mari, Bu. Saya duluan," pamit Adam ramah.
💞
"Beli ke mana sih lama begini?" gerutu Nana.
Tak lama, Adam kembali dan langsung menyerahkan beberapa kantong pembalut pada Nana. Sampai gadis itu kewalahan saat menerimanya. Adam mendudukkan diri di sofa, wajahnya masih terlihat merah karena selagi menuju ke apartemen banyak pasang mata melihat ke arahnya. Bukan karena melihatnya, melainkan dengan bawaan yang dibawanya.
"Banyak sekali ini, Mas."
"Untuk stock."
Nana menghela napas, pembalut banyak begini bisa sampai satu tahun ke depan, pikirnya.
"Sudah sana, ganti dulu pembalutmu."
"Sudah," jawab Nana.
"Maksudmu sudah?" Ekspresi Adam tercengang, apa ia terlalu lama sampai Nana membelinya sendiri? Pikirnya.
"Ternyata ada sisa di tas satu, keselip," jelas Nana.
__ADS_1
"Ya ampun, aku sampai menahan malu saat membeli itu. Kamu tahu? Aku sampai ke rumah Roy hanya untuk meminta pembalut pada istrinya," terang Adam.
"Maaf ya, Mas. Maaf sudah merepotkanmu," sesal Nana.
"Sudahlah, semuanya sudah terjadi. Lain kali beli stock yang banyak biar tidak kehabisan." Setelah mengatakan itu, Adam pergi ke kamar untuk membersihkan diri, tapi sebelumnya ia mencium Akhsa terlebih dulu yang berada di pangkuan Nana.
.
.
.
Waktu berputar cepat berlalu, Roy mempercepat acara resepsi pernikahan mereka. Karena sudah ada rencana bahwa ia dan Adam akan pergi ke luar kota mengenai bisnis yang dijalaninya.
Elena dan Roy sudah berada di pelaminan, acara diselenggarakan di hotel berbintang. Banyak tamu undangan yang hadir di sana, bahkan Nindya yang sudah pulih pasca operasi pun ikut hadir bersama keluarga besarnya. Nathan dan Nala pun diajak.
Tak lupa dengan Adam yang ikut serta, ia mengajak Nana ke pesta pernikahan itu. Akhsa semakin tumbuh dengan sehat berkat pengasuh cekatan seperti Nana.
"Hai, Dam," sapa rekan kerjanya, "oh, ini istrimu," katanya lagi.
Semua orang menyangka bahwa Nana-lah yang menjadi istrinya. Tidak banyak yang tahu kalau ia berpisah dengan istrinya, tidak ingin ada rumor tentangnya, Adam hanya tersenyum tipis menanggapi dugaan rekan kerjanya itu.
Nana pun hanya diam tanpa membantah, karena Adam sudah mewanti-wanti. Jika ada yang mengatakan sesuatu tidak usah dihiraukan, itu cukup membantunya dengan menyembunyikan tentang rumah tangga yang dijalaninya.
Meski Morano jahat padanya, ia tetap menjaga nama baik mertuanya itu.
"Kita ke sana," ajak Adam pada Nana untuk bergabung dengan keluarga Wiliam.
"Hai, Na," sapa Nindya.
"Hai juga," jawab Nana.
"Kalau diperhatiin, kalian cocok juga ya?" bisik Nindya di telinga Nana.
"Apa sih, jangan ngaur deh," bantah Nana.
Resepsi berjalan dengan lancar, semua berbahagia berada di sana. Dan mereka tengah mengadakan poto bersama dengan pengantin.
"Semuanya rapat," pinta sang poto grafer.
Semua merapat, bahkan Nana dan Adam pun begitu dekat. Mereka berdempetan, Nana jadi salah tingkah saat Adam merangkulnya.
"Semuanya tersenyum dan menghadap camera," pintanya lagi.
Semua menghadap ke arah camera terkecuali Nana, gadis itu malah mendongak ke arah wajah Adam. Sedangkan Adam fokus menghadap camera. Beberapa kali poto diambil, posisi Nana tidak berubah. Ada perasaan beda dalam hatinya.
Setelah acara potret selesai, dan semua mulai turun dari panggung pengantin. Nana dibantu turun oleh Adam, mencekal lengannya karena gadis itu tengah menggendong Akhsa. Nana semakin merasakan sesuatu dalam hatinya.
__ADS_1
"Sini, biar aku yang gendong Akhsa, kamu pasti pegal." Saat Adam mengambil alih dari Nana pun, gadis itu menjadi ambigu. Seperti orang terkena serangan jantung, napasnya terasa sesak saat hembusan napas Adam menerpa ke arah wajahnya.
Ya Tuhan, perasaan macam apa ini?