
Setelah berteriak, Elena sedikit lega. Suasana sunyi membuat hatinya lebih tenang. Berada di tepi pantai, ia terus menelusuri sisi pantai itu. Ia suka dengan suasana di sini.
Elena merentangkan tangan seraya menghirup udara malam di sana. Ia merelakan dokter Alan dengan suster itu, meski sakit tapi ia mencoba mengobati lukanya sendiri. Saking asyiknya, ia sampai tak menyadari bahwa sepatu yang ia kenakan terlepas dari kakinya.
"Hah, kemana sepatuku?" Ia mencari sepatunya sendiri sampai ia terus berjalan sedikit ke tengah, tetap tak ada hingga terus dan terus sampai air laut sudah nengenai lututnya.
Tiba-tiba ombak datang menerpa tubuhnya, untung ia masih bisa mengimbangi air laut itu. Sejenak, ia terdiam. Rasa sesak itu kembali muncul, wajah sumringah dokter Alan terus membayanginya.
"Aarrgghhh ..." Elena kembali berteriak.
* * *
Sedangkan Roy, pria itu baru saja sampai di pantai. Saat ia turun dari mobil, ia mendengar suara teriakkan. Dan ia yakini bahwa itu suara dokter Elena. Dengan cepat, Roy menuju pusat pantai. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling pantai itu.
Dokter Elena tak nampak di sana, ia pun terus mendekat ke bibir pantai.
Dan Elena terus mencari sepatunya yang ia yakini terbawa arus ombak. Tak lama, sorot matanya menajam saat melihat sesuatu mengambang.
"Itu dia, aku harus mengambilnya," kata Elena.
Kini, Roy melihat sosok Elena. Ia sangat terkejut melihat wanita itu terus berjalan menuju laut.
"Apa dia sudah gila?" Roy tidak bisa membiarkan ini terjadi. "Dia pikir hidup itu hanya untuk memikirkan cinta!" Omong kosong dengan yang namanya cinta, Roy sudah tidak percaya lagi dengan itu semua.
Elena mencoba menggapai sepatunya, hampir saja ia mendapatkannya, tiba-tiba saja tangannya ditarik oleh Roy. Elena terkejut akan hal itu, pasalnya yang ia tahu tak ada siapa pun di sana.
"Apa kamu sudah gila?" kata Roy saat berhasil menarik tubuh Elena ke daratan.
Elena tak menggubris, ia malah terus memperhatikan sepatunya yang masih mengambang di laut sana. Elena kembali berlari untuk mengambil sepatunya. Sayang, Roy kembali menangkap tubuh gadis itu. Meraih pinggangnya dari belakang.
"Lepas! Aku bilang lepaskan!" sentak Elena.
"Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu mati konyol."
Apa? Apa dia bilang? Mati? Siapa yang mati? Aku?
Karena Roy tak melepaskannya, Elena mencubit tangan pria itu sekuat mungkin. Cubitan itu menyisakan luka akibat kuku panjangnya. Roy sampai mengaduh dan melepaskan gadis itu.
"Sepatuku, ini gara-gara kamu. Lihat, sepatu semakin jauh terbawa arus," kesal Elena.
Roy melohok. Sepatu? Sial, aku kira dia mau bunuh diri.
__ADS_1
"Apa yang kamu pikirkan tentangku, hah?" tanya Elena.
Roy hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena ia sudah salah mengira.
"Aku pikir-."
"Kamu pikir aku akan bunuh diri begitu?" pungkasnya.
"Mungkin saja, bukannya kamu sedang patah hati?"
Kenapa dia tahu? Apa dia memperhatikanku dan mengikutiku sampai di sini?
"Benar 'kan kamu sedang patah hati?"
"Kata siapa? Jangan sok tahu!"
Elena pergi meninggalkan Roy dengan raut kesal, sudah kehilangan Alan, kehilangan sepatunya pula. Hingga ia harus berjalan tak menggunakan alas kaki. Cara berjalannya begitu sangat cepat, karena gelap, ia sampai tak memperhatikan jalan sekitar. Disaat itu juga, kakinya tertusuk sesuatu.
"Aduh, aduh, aduh ..." Elena kesakitan.
Roy yang melihat langsung menghampirinya.
"Kenapa?" tanyanya kemudian. Karena gelap, Roy menyalakan senter melalui ponselnya lalu mengarahkannya tepat di telapak kaki gadis itu.
"Ah ..." Elana merasa sakit saat duri itu tercabut, dan sampai mengeluarkan darah.
"Sudah hilang durinya," kata Roy.
"Terima kasih, tapi aku harus pergi." Baru saja Elena melangkahkan kakinya, tapi ia kembali merasakan sakit. Sepertinya duri yang menancap tak hanya satu.
"Aduh ... Sakit sekali," ucap Elena.
Entah ada dorongan dari mana, Roy berjongkok tepat di hadapan gadis itu.
"Ayo naik?" Kata Roy sambil menepuk bahunya sendiri, mengisyaratkan bahwa wanita itu harus naik ke punggungnya.
Elena tercengang, ia tak menyangka apa yang dilakukan pria itu padanya. Elena melihat sisi baik dari laki-laki itu baru kali ini, biasanya pria itu selalu menyebalkan.
"Ayo cepat naik! Apa mau aku tinggal di sini sendirian."
Baru saja berpikir dia baik, aku kira dia baik beneran. Elena memutar bola matanya jengah.
__ADS_1
"Cepat! Mau tidak?"
Akhirnya, Elena melabuhkan tubuhnya di punggung Roy. Dan Roy pun berdiri, lalu berjalan membawa gadis itu ke mobilnya.
"Apa kamu tidak ada kerjaan lain selain menguntitku?" kata Elena yang masih digendong oleh Roy.
"Siapa yang menjadi penguntit? Jangan ke PD-an, aku tidak sengaja mendengar teriakanmu tadi," elak Roy.
"Jangan bohong! Kalau bukan mengikutiku ngapain kamu di sini?"
"Aku di sini bersama tuan Andra." Roy kekeh tidak mengakui bahwa ia memang sengaja ke sini untuk melihat keadaannya.
Perlahan, Roy mendaratkan Elena sesampainya di mobil, mendudukkannya tepat di sebelah kursi kemudi.
"Aku akan mengantarmu pulang," ujar Roy.
"Tidak! Aku tidak ingin pulang," tolak Elena.
"Kenapa? Lalu kamu mau kemana?"
"Di sini, sampai pagi," jawabnya apa adanya. "Kalau kamu mau pergi, pergilah. Tapi antarkan aku ke mobilku dulu."
Roy tidak berkutik lagi saat Elena masih menginginkan akan keberadaannya di sana, ia merasa tak tega membiarkan wanita itu sendirian. Terlebih dengan apa yang dialami oleh gadis itu.
"Aku juga di sini saja, balik ke villa juga takut menggangu mereka," tutur Roy kemudian. "Bajumu basah, apa tidak kedinginan?" tanya polos Roy. Melihat baju Elena basah, ia masih bertanya. Jelas wanita itu pasti kedinginan. Ia pun merasakan dingin karena bajunya ikut basah karena sudah menggendong Elena.
Roy membuka bajunya. Elena yang melihat langsung berpikir yang tidak-tidak tentangnya.
Mau apa dia?
Roy bertanya dingin apa tidak kepadanya, jelas wanita itu langsung berpikir macam-macam. Jangan sampai pria itu melakukan yang tidak-tidak terhadapnya. Elena hanya bisa komat-kamit seolah berdoa.
Roy berhasil membuka bajunya di depan Elena, dan gadis itu langsung memejamkan matanya. Roy semakin mendekat kearahnya, dan mereka nyaris bersentuhan. Elena semakin dag dig dug dibuatnya. Sudah beberap menit, tak terjadi sesuatu padanya. Penasaran, ia pun membuka matanya.
Sial, ia sudah berpikir buruk terhadapnya. Ternyata, pria itu mendekat hanya untuk mengambil baju cadangannya yang terletak di belakangnya.
"Apa yang kamu pikirkan tentangku?" Pertanyaan darinya tadi ia kembalikan pada gadis itu.
"Ti-tidak!" elaknya.
"Masa?" Roy tidak percaya begitu saja, bahkan ketakutan di diri gadis itu nampak begitu terlihat. "Kamu bisa pakai bajuku kalau mau, bajunya ada di jok belakang."
__ADS_1
"Boleh aku pakai?"
"Boleh, kalau memang kamu mau." Setelah mengatakan itu, Roy menjauh dari mobilnya untuk memberi ruang pada gadis itu untuk mengganti bajunya yang basah.