
"Sebaiknya Tuan segera memakai pakaian. Non Livy sudah menunggu di bawah." ucap Angga.
Angga memakai pakaian nya.
"Ambil ini!" ucap Angga. "Handphone baru?" tanya Tania kaget.
"Beri tahu saya jika kamu membutuhkan sesuatu. Jangan memberikan handphone ini kepada orang lain karena nomor saya pasti tersimpan di sana." ucap Angga.
Tania terlihat sangat senang sekali dia langsung mengambil ponsel itu.
"Terimakasih banyak Tuan. Saya janji tidak akan memberikan ponsel ini kepada siapapun." ucap nya.
Angga tersenyum. Angga keluar dari kamar itu meninggal kan Tania.
"Kamu ngapain dengan wanita itu di dalam kamar?" tanya Livy tiba-tiba yang sudah di depan pintu kamar.
Tania kaget. Sementara Angga memasang wajah biasa saja.
"Non jangan salah paham, saya hanya membantu Tuan Angga memilih pakaian dan ini adalah pekerjaan saya setiap hari nya." ucap Tania.
Livy mendekati Tania. Namun Angga menahan Livy.
"Jangan menambah masalah, sebaiknya kita pergi." ucap Angga.
Livy harus menuruti kata-kata Angga. Akhirnya mereka pun pergi.
Tania Menghela nafas panjang.
"Hufff Lega..." ucap nya.
Dia duduk di pinggir kasur.
"Apa aku terlihat seperti wanita murahan yah? Aku sangat cepat luluh pada Tuan Angga, aku seperti wanita yang bodoh karena cinta." ucap Tania.
Tidak berlangsung lama Dia menyusul Fani di depan rumah.
"Kamu lama banget sih. Ayo buruan berangkat." ucap Fani. Tania menganguk.
"Eh tunggu dulu deh, kamu yakin mau berpakaian seperti ini?" tanya Fani.
"Kenapa? Kamu mau ketemu teman-teman aku, jangan Buat aku malu deh." ucap Fani.
Tania bingung karena pakaian nya tidak memalukan. Jeans dan juga baju kemeja.
Fani membantu Tania menukar pakaian nya.
"Nah ini sudah jauh lebih baik." ucap Fani. "Ini sangat terbuka." ucap Tania. Fani menggeleng kan kepala nya.
"Ini sangat cocok dengan kamu. Aku yakin deh kamu pasti bisa mendapatkan pengganti Tuan Angga. Karena percuma saja berharap kepada tuan Angga." ucap Fani.
"Maksud mbak?" tanya Tania.
__ADS_1
"Kamu jangan panggil aku mbak, panggil nama Saja." ucap Fani. "Baiklah aku minta maaf. Maksud kamu apa?" tanya Tania bingung kata-kata Fani.
"Tuan Angga dengan non Livy sudah di restui oleh keluarga nya. Bahkan keluarga Tuan Angga dengan keluarga non Livy sudah sangat Dekat. Mana mungkin Tuan Angga menolak rencana keluarga untuk mereka menikah." ucap Fani.
"Oohhh...." ucap Tania. Sekarang dia sudah harus lebih sadar diri.
Mereka segera berangkat.
"Fani kamu akan membawa aku kemana? Kalau ke tempat hiburan sebaiknya jangan membawa Eki. Melihat ku berpakaian seperti ini membuat aku tidak percaya diri." ucap Tania.
"Baiklah kalau begitu." ucap Fani.
Sampai di tempat Tania duduk di tempat nya dengan wajah bingung. Dia bingung harus melakukan apa karena tidak ada satupun yang dia kenal di sana.
"Haii!!!" seorang pria datang menyapa nya.
Tania menoleh ke arah nya.
"Teman nya Fani kan?" tanya Pria itu. Tania menganguk.
"Boleh aku ikut duduk di sini?" tanya Pria itu.
"Boleh silahkan." ucap Fani.
"Terimakasih.." ucap pria itu sambil tersenyum dan duduk di samping Tania.
"Kalau boleh tau kamu Masih singgel atau sudah mempunyai pasangan? Kenapa datang ke sini sendirian?" tanya pria itu.
Tidak beberapa lama dia meminta Fani untuk membawa nya pulang karena tidak nyaman sama sekali.
Fani tidak berhenti tertawa mengingat cerita teman-teman nya menceritakan tentang perkenalan nya dengan Tania yang terlalu jujur sekali.
"Kalau tau seperti ini aku tidak akan mau keluar bersama kamu." ucap Tania. Fani tertawa.
"Aku sangat menyukai tempat seperti ini." ucap Fani. Tania menghela nafas panjang.
"Kamu lanjut saja bersama teman-teman kamu, aku akan pulang naik taksi." ucap Tania.
"Kamu mau kemana? aku tidak yakin kalau kamu pulang ke rumah." ucap Fani.
"Aku mengunjungi anak ku terlebih dahulu." ucap Tania. Fani memberikan uang mengucapkan Maaf dan setelah itu dia masuk.
Tania mau menunggu taksi namun tiba-tiba ada mobil yang tak asing berhenti di depan nya.
"Tania..." Panggil Aris dari dalam mobil.
Tania tersenyum melihat Aris.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Aris. "Aku ada kepentingan." ucap Tania. "Sekarang kamu mau kemana? Aku anterin yah." ucap Aris.
"Aku mau ke butik Nada." ucap Tania.
__ADS_1
"Kebetulan banget. Aku juga mau ke sana." ucap Aris. Akhirnya mereka menuju ke Butik Nada.
"Ada kepentingan apa ke butik Nada?" tanya Tania.
"Tidak ada sih, biasa nya kalau ada waktu luang aku memang sering datang untuk bantu-bantu Dia, itung-itung cari perhatian." ucap Aris.
"Oohh gitu yah." ucap Tania.
Aris tersenyum.
"Terimakasih ya Allah, aku sudah bisa mengiklas kan Aris. Dan aku akan memilih berteman Selama nya dengan dia." ucap Tania dalam hati.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai. Nada melihat Aris dan Tania datang berdua jadi kebingungan.
Tania menjelaskan kenapa mereka bisa bersama datang ke sini.
"Bagaimana kabar kamu Tania? Kamu baru dari mana pakaian seperti ini?" tanya Nada.
"Nah itu dia masalah nya aku datang ke sini, aku mau pinjam baju kamu yang tertutup. Aku malu pulang ke rumah Bibik sisi dengan pakaian seperti ini. Mereka akan membicarakan yang tidak-tidak tentang aku." ucap Tania.
"Oohh baiklah kalau begitu aku akan mencari dulu yah." ucap Nada.
Setelah selesai berpakaian Tania Ijin mau pergi dulu.
"Kenapa kelihatan nya Tania sedang banyak fikiran yah?" ucap Nada pada Aris.
"Biasa saja kok." ucap Aris.
"Kamu sama sekali tidak memperhatikan nya. Padahal kamu adalah Teman lama nya." ucap Nada.
"Aku yakin dia pasti memiliki masalah." ucap Nada.
"Sudah lah dia sudah dewasa, dia pasti tau cara menyelesaikan masalah nya sendiri." ucap Aris. Nada menganguk.
Sementara di tempat lain Livy dan Angga sampai di rumah orang tua Angga langsung di sambut.
Orang tua Angga sangat menyukai Livy itu sebabnya mereka sangat senang.
"Jadi kapan rencana pertunangan kalian?" tanya Pak Adi Papah nya Angga. "Tergantung Angga Om." jawab Livy.
"Angga... Kalian sudah lama bersama, sebaiknya segera menikah. kasih Livy kepastian. Dia juga pasti ingin di seriusin." ucap Papah nya.
"Aku belum kefikiran Pah. Aku masih memiliki banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan." ucap Angga.
"Kamu selalu saja membuat alasan. Bagaimana kalau Livy pergi lagi sama seperti almarhum mantan kamu." ucap Mamah tiri nya yang bernama Mina.
"Jangan membahas itu Mah, aku tidak ingin membahas itu." ucap Angga.
"Itu sebabnya segera lah menikah." ucap Bu Mina.
"Nanti tunggu ada waktu nya Mah, Pah." ucap Angga.
__ADS_1