
"Kamu selingkuh dari aku?" ucap Livy.
"Bukan aku yang selingkuh! Tapi kamu." ucap Angga. "Pria itu sudah tidur dengan kamu kan?" ucap Angga.
Livy terdiam. "Aku menjaga kamu, aku melindungi dan memberikan apa pun yang kamu mau, namun kamu memilih pria lain yang merenggut harga diri Kamu." ucap Angga.
"Kenapa kamu sangat tega berbicara seperti itu? Aku tidak melakukan hal seperti itu." ucap Livy sambil menangis.
"Kamu tidak perlu berbohong Livy." ucap Angga. Livy memegang Tangan Angga. "Aku mohon percaya pada ku, aku sangat jauh dari kamu, aku juga membutuhkan kasih sayang pria yang bisa memberi kan nya langsung." ucap Livy.
Angga menghela nafas panjang. "Kenapa kamu memilih tetap bersama saya yang jauh kalau begitu?" ucap Angga.
"Aku hanya menjadi kan mereka pelampiasan sayang. Kamu juga pasti memiliki wanita untuk menjadi pelampiasan kan?" ucap Livy.
Angga menggeleng kan kepala nya. "Tidak! Saya tidak memiliki Wanita lain. Saya tidak ada niatan untuk selingkuh namun kamu yang membuat saya tidak nyaman dan memilih membuka hati kepada wanita lain!" ucap Angga.
"Kenapa kamu begitu tega? Aku begitu tulus kepada kamu." ucap Livy. Angga tertawa.
Sementara di luar Tania melihat Angga tak kunjung kembali ke kamar nya.
"Tuan Angga bersama non Livy sudah hampir satu jam di ruangan tuan Angga. Mereka membicarakan apa yah? kenapa aku jadi khawatir." batin Tania.
"Aku tidak berfikir kalau Tuan Angga akan meminta putus dengan non Livy. Apa semua nya ini karena aku?" ucap Tania.
"Aku senang kalau Tuan Angga putus dengan Non Livy, Tapi aku juga takut kalau nanti semua orang tau aku dan Tuan Angga cukup dekat." ucap Tania.
"Tania.." panggil Angga masuk ke dalam kamar dan langsung menutup pintu karena melihat Tania yang duduk di pinggir kasur.
Tania langsung berdiri melihat Angga masuk. "Kenapa Tuan memutuskan hubungan dengan Non Livy?" tanya Tania.
Angga menatap wajah Tania. Dia mengelus pipi Tania.
"Karena saya mencintai kamu bukan mencintai Livy." ucap Angga.
"Aku tidak ingin Tuan memutuskan hubungan dengan non Livy karena aku." ucap Tania. Angga melepaskan tangan nya dari Tania.
"Saya mau mandi tolong siap kan pakaian saya." ucap Angga.
Tania Menghela nafas panjang melihat Angga.
"Ada apa dengan dengan tuan Angga? Kenapa wajah nya seperti itu kepada ku? Apa aku membuat kesalahan?" ucap Tania dalam hati.
Setelah sudah selesai mandi, Angga berpakaian dan sarapan.
Kali ini Livy duduk di samping Angga. Livy terus mencoba mendekati Angga sehingga membuat Tania yang menyiapkan makanan menundukkan kepalanya.
Livy tidak berhenti memandangi Tania.
__ADS_1
"Nih perempuan sangat mirip sekali dengan Lidya." ucap Livy dalam hati.
"Loh kamu mau kemana Tania? Ayo sarapan sama-sama." ucap Fani kepada Tania.
"Dia kan pelayan kenapa harus makan bersama kita di sini?" ucap Livy dengan tatapan sinis kepada Tania.
"Pelayan Tuan Angga setara dengan aku, Rendi dan Dara. Jadi wajar saja dia Duduk di sini." ucap Fani.
"Pelayan tetap lah pelayan!" ucap Livy.
"Saya akan Makan di belakang saja Mbak." ucap Tania.
Dia masuk ke dalam dapur dengan wajah yang sangat kesal sekali.
"Kenapa cemburu ku tidak bisa ku tahan ketika melihat non Livy menggandeng Tuan Angga seperti itu?" ucap Tania lesu.
Waktu nya berangkat bekerja.
"Ini Tas nya Tuan." ucap Tania memberikan Tas kerja Angga. Namun tiba-tiba Livy mengambil nya.
"Biar aku saja!" ucap Livy ketika Angga hendak mengambil Tas nya dari Tania.
Tania diam. "Rendi kamu tidak perlu ikut dengan saya hari ini, kamu tolong jaga Livy. Bawa dia Kemana saja yang dia mau." ucap Angga.
"Baik Tuan!" ucap Rendi.
"Saya akan bertemu dengan orang penting hari ini.. Jangan mengganggu pekerjaan saya!" ucap Angga.
"Ya udah deh kalau begitu aku ke salon yah, malam nanti jangan di lupa kalau kita akan dinner." ucap Livy.
Livy tersenyum dia memeluk Angga. Angga melirik ke arah Tania namun Tania langsung pergi.
Tania duduk di kursi kamar nya sambil menenangkan diri nya.
"Tenang Tania.. Tenang..." Ucap nya pada diri nya sendiri.
"Kamu harus sadar diri.." Ucap nya lagi. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar Tania.
"Tok!! Tok!! tok!!" Tania menghapus air mata nya yang sempat keluar dan langsung membuka pintu.
"Dara!!" ucap Tania. Dara masuk ke kamar Tania dengan wajah yang sangat sedih.
"Ada apa?" tanya Tania duduk di samping Dara.
Dara tiba-tiba menangis.
Tania memeluk nya.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu menangisi satu pria yang tidak mencintai kamu." ucap Tania. Dara membalas pelukan Tania..
"Aku sedih kenapa aku harus mencintai dia sedalam ini." ucap Dara.
"Itu adalah hal wajar. Sekarang kamu coba melupakan dia, kamu pasti menemukan pria yang lebih dari dia." ucap Tania.
"Kamu benar, aku harus berusaha, aku tidak boleh menyerah." ucap Dara. Tania tersenyum.
"Oh iya tadi Tuan Angga memesan untuk meminta kamu mengantarkan makan siang nya ke kantor." ucap Dara. Tania menganguk.
"Aku harus kembali bekerja." ucap Tania. Dara menganguk.
"Oh iya besok hari libur. Aku ingin mengajak kamu jalan-jalan keluar, kamu mau yah." ucap Dara.
"Bagaimana dengan Tuan Angga? Mungkin dia tidak akan mengijinkan." ucap Tania.
"Besok Tuan Angga dengan non Livy akan ke rumah Orang tua Tuan Angga." ucap Dara.
"Oohhh." ucap Tania bengong pikiran nya entah kemana.
"Kamu tidak perlu khawatir. Kalau kamu mau membawa Eki atau Mona boleh kok." ucap Dara.
"Seriusan boleh?" tanya Tania. Mona menganguk.
Tania terlihat sangat senang sekali.
"Ya udah kalau begitu aku lanjut bekerja." ucap Tania. Dara menganguk.
Di dalam mobil perjalanan ke salon yang di mau oleh Livy. Handphone nya Berdering. Dia melihat siapa yang menelpon ternyata itu adalah selingkuhan nya dia menatap ke arah Rendi.
"Jawab saja non, saya tidak akan mengganggu." ucap Rendi.
"Halo..." Livy berbicara sangat singkat sekali, dia takut kalau Rendi memberi tahu Angga.
Di kantor Fani mengikuti Angga.
"Tuan dengan non Livy baikan?" tanya Fani. Angga diam.
"Tuan percaya dengan Livy lagi?" tanya Fani. Angga menatap Livy.
"Sebaiknya kamu kembali bekerja!" ucap Angga. Fani Menghela nafas panjang.
"Baiklah Tuan kalau begitu." ucap Fani. Dia keluar dari ruangan Angga. Semua orang melihat ke arah nya.
"Ada apa dengan kalian semua?" tanya Fani. Mereka tidak menjawab.
"Aku bingung deh pada mereka semua. Dari kemarin kelihatan nya menatap ku dengan tatapan aneh." ucap Fani.
__ADS_1