
"Dari mana saja kau?" tanya Angga. Tania tetap diam.
"Kau sengaja menghindar saya dengan cara mematikan handphone? Apa kau hanya butuh Pria yang bernama Aris itu?" ucap Angga.
Tania Menghela nafas panjang. "Tidak ada sangkut pautnya dengan Aris tuan, saya sudah menelpon Tuan dan meminta maaf, apa yang harus saya lakukan?" tanya Tania.
"Saya melihat dia menjemput dan mengantar kan kau pulang. Itu artinya kamu bersama dia!" ucap Angga. Tania Menghela nafas panjang.
"Saya mau tidur, assalamualaikum." dia langsung mematikan sambungan telepon. "Hei! Hei!! Berani-beraninya kau mematikan telepon dari saya!" ucap Angga.
Dia menelpon lagi dengan sangat emosi.
Tania mengabaikan nya dia di telpon terus menerus.
"Ada apa lagi Tuan? saya sudah sangat lelah." ucap Tania.
"Kau tidak sopan meninggalkan saya ketika lagi berbicara!" ucap Angga.
"Sekarang apa yang harus saya lakukan?" tanya Tania.
Angga terdiam.
"Apa saya harus mendengarkan Tuan marah-marah sepanjang malam?" tanya Tania.
"Saya tidak bisa tidur malam ini." ucap Angga dengan nada yang pelan.
Tania terdiam sejenak. "Sudah jam segini saya tidak bisa tidur, besok pagi saya harus bangun pagi untuk kerja." ucap Angga.
Tania menghela nafas panjang. "Saya harus apa Tuan?" tanya Tania.
"Cukup Temani saya tidur dengan cara tidak mematikan telepon nya." ucap Angga. Tania terkejut dengan permintaan bos nya itu.
"Apa ini benar-benar tuan Angga? kenapa dia tiba-tiba menjadi seperti ini." ucap Tania dalam hati.
"Kenapa kau diam? Kau tidak mau? apa saya harus membayar nya?" tanya Angga.
"Bu-bukan seperti itu Tuan. " ucap Tania. "Saya akan tidur, jangan mematikan telepon nya." ucap Angga.
"Saya kamu lagi ngobrol sama siapa?" tanya Livy melihat Angga di balkon.
Angga menoleh ke arah Livy.
__ADS_1
"Enggak kok, ini hanya orang iseng, kamu kembali tidur aja." ucap Angga. "Oohh ya udah kalo begitu, kamu tutup pintu balkon nya yah." ucap Livy. Angga menganguk.
Setelah beberapa lama Livy kembali tidur Angga memanggil Tania.
"Apa kau sudah tidur?" tanya Angga.
"Tuan sedang bersama Non livy kenapa Tuan menelpon saya?" ucap Tania.
"Tuan sengaja mau pamer kalau Tuan bersama non Livy?" ucap Tania. "Bukan seperti itu, saya benar-benar tidak bisa tidur, saya tidak berbohong." ucap Angga.
Livy mematikan handphone nya, Angga menghela nafas panjang.
Keesokan harinya..
"Good morning sayang.. Aku udah nyiapin makanan untuk kamu." ucap Livy membangun kan Angga lebih cepat.
Angga bangun dia melihat ke arah sarapan yang di bawa oleh Livy.
"Tumben-tumbenan banget." ucap Angga. "Humm aku juga mau berubah sayang. Aku mau menjadi istri yang baik, bisa mengurus suami dengan baik." ucap Livy.
Angga menaikkan alis nya kebingungan. Karena biasanya Livy selalu sibuk dengan urusan nya pribadi, dulu Angga yang selalu mengejar dia, mengemis perhatian namun setelah Angga Bosan sekarang Livy yang mengejar nya.
"Jangan terlalu banyak berfikir deh, aku suapin kamu yah." ucap Livy.
"Saya bisa sendiri." ucap Angga. Livy tetap ngotot mau menyuapi Angga. Saat Livy menyuapinya yang di ingatan nya hanya lah Wajah Tania yang selalu terlihat cantik di mata Angga.
"Kenapa kamu terlihat gak nyaman sih Sama aku belakangan ini?" tanya Livy. Angga menggeleng kan kepala nya.
"Biasa saja, itu mungkin hanya perasaan kamu saja." ucap Angga. "Apa kamu sudah menemukan wanita baru? Apa kamu tidak mencintai aku lagi?" tanya Livy.
"Sssttt.... Jangan berbicara seperti itu, aku tidak pernah memiliki orang baru. Aku mencintai kamu." ucap Angga. Livy tersenyum dia memeluk Angga.
"Aku tidak tau ini benar masih cinta atau tidak, namun aku sudah mulai tidak memikirkan kamu." Batin Angga.
"Oh iya sayang aku boleh tau hubungan kamu dengan Wanita pelayan baru kamu itu?" tanya Livy. "Ada apa dengan dia?" tanya Angga.
"Dia menelpon kamu tengah malam. Aku rasa dia mengganggu kamu dan sebaiknya kamu tidak perlu berhubungan dengan dia, aku takut dia menggoda kamu." ucap Livy.
"Bagaimana bisa kamu tau dia menelpon ku?" tanya Angga.
"Aku melihat Handphone kamu, Tapi tenang aja, aku sudah blokir kontak dan menghapus nomor nya kok." ucap Livy.
__ADS_1
Angga menghela nafas panjang.
"Kamu gak marah kan sayang? Aku cemberut kalau kamu dengan dia sangat dekat, aku gak suka." ucap Livy.
"Hubungan saya dengan dia hanya sekedar pelayan dengan bos, tidak mungkin yang kamu pikirkan terjadi!" ucap Angga.
"Wanita jaman sekarang menghalal kan segala cara agar bisa menggoda Pria seperti kamu." ucap Livy.
"Buang jauh-jauh pikiran negatif kamu, tidak mungkin saya tergoda." ucap Angga.
Livy tersenyum.
"Nah gitu Dong." ucap Livy mencium pipi Angga. "Aku mau mandi." ucap Angga. Livy menganguk.
Tania di tempat lain baru saja selesai bersih-bersih membantu yang lain. Dia sarapan sendiri di dapur dan setelah itu dia ke ruangan menjahit.
"Aku baru saja sebulan bekerja di sini namun rasa tertekan nya sudah membuat kesabaran hilang. Ingin rasanya aku pergi menghilang saja." ucap Tania dalam hati.
Seseorang mengetuk pintu. "Masuk!!" ucap Tania. Ternyata itu adalah Rendi.
"Haiii..." Sapa Rendi. Tania hanya tersenyum.
"Apa ada sesuatu yang bisa saya bantu?" tanya Tania. "Dara ingin berbicara dengan kamu." ucap Rendi.
Tania berbincang-bincang dengan Dara cukup lama sambil menjahit juga. Dara juga memberi tahu kalau Livy datang dan dia akan merawat Angga selama di sini.
"Kemana Dara? Apa dia tidak mendengar perintah saya?" tanya Angga di dalam ruangan nya. Dia mencari Dara. Dan ternyata masih di kamar nya.
Angga masuk dan melihat Dara sedang berbicara lewat telepon.
"Tania seperti nya kita lanjut besok saja yah, saya harus kembali bekerja." ucap Dara. Tania menginyakan.
"Saya membawa kamu ke sini untuk bekerja bukan berbicara dengan orang lain!" ucap Angga.
"Maaf-maaf Tuan." ucap Dara. Angga Menghela nafas panjang.
"Kalau begitu Kamu lanjut saja, saya kembali bekerja." ucap Rendi.
"Apa kamu dengan Dara sudah lama bersama?" tanya Tania. Rendi menatap Tania. "Kamu tau kami memiliki hubungan? Atau Daraa menceritakan sesuatu?" tanya Rendi.
"Saya mohon jangan memberi tahu kepada tuan Angga." ucap Rendi. Tania tersenyum.
__ADS_1
"Enggak kok, kamu tenang saja, kamu jawab dulu apa kamu sudah lama bersama Dara?" tanya Tania. Rendi Menganguk.
"Sudah hampir tiga tahun, namun tidak ada satu pun yang tau." ucap Rendi. "Huff kalian hebat sekali bisa menyembunyikan nya begitu lama." ucap Tania.