Janda Muda Dan Brondong Kaya

Janda Muda Dan Brondong Kaya
Episode 23


__ADS_3

Tania tersenyum.


"Wahh Jas buatan kamu sangat Bagus sekali." ucap Fani.. Tania tersenyum sambil mengucap kan terima kasih.


Fani memandangi Tania yang sedang fokus menjahit. "Kenapa mbak menatap ku seperti itu?" tanya Tania. Fani langsung tersenyum. Dia menggeleng kan kepala nya.


"Kamu mengingatkan saya pada seseorang." ucap Fani. Tania tersenyum. "Kalau boleh tau apa itu orang yang sangat spesial bagi mbak?" tanya Tania.


Fani tersenyum. "Dia adalah pemilik Ruangan ini. Dia juga sangat pandai menjahit seperti kamu." ucap Fani.


"Kemana orang itu?" tanya Tania.


"Dia sudah meninggal dunia." ucap Fani. Tania langsung terdiam. "Maafkan saya, saya tidak bermaksud." ucap Tania. Fani menggeleng kan kepala nya.


"Tidak masalah besar." ucap Fani.


"Humm bagaimana dengan keadaan Tuan Angga?" tanya Tania.


"Tuan Angga sedang menjalani operasi." ucap Fani. "Saya sudah merasakan Suhu badan nya berbeda pagi tadi, namun Tuan Angga sama sekali tidak menghiraukan nya." ucap Tania.


"Tuan Angga tidak akan pernah jujur kalau dia sedang sakit. Dia akan memendamnya sendiri." ucap Fani. Tania menghela nafas panjang.


"Kami sama sekali tidak tau kalau Tuan Angga memiliki tusukan pisau di bagian perut nya. Sehingga sampai seperti ini." ucap Fani.


"Siapa yang menusuk Tuan Angga?" tanya Tania.


"Tuan Angga memiliki banyak musuh, beberapa bulan lalu dia memiliki pertemuan yang hanya di hadiri sendiri." ucap Fani.


Tania terdiam. "Apa saya boleh istirahat sejenak untuk memberikan anak saya makan? ini sudah jam dua siang dia pasti belum makan." ucap Tania.


"Kamu tenang saja, dia sudah makan. Kamu hanya fokus pada Jas Tuan Angga." ucap Fani.


Tania tidak berani untuk menolak nya, akhirnya dia pun lanjut bekerja lagi.


Setelah beberapa jam Fani kembali lagi ke ruangan itu.


"Bagaimana? Apa sudah selesai?" tanya Fani.


"Sebentar lagi Mbak." ucap Tania.


"Ini sudah jam delapan malam." ucap Fani. "Jam delapan malam?" ucap Tania kaget sambil melihat ke arah jam.


"Saya harus segera menyelesaikan ini." ucap Tania.


Satu jam kemudian akhirnya selesai juga.

__ADS_1


"Sudah selesai mbak, mbak bisa memeriksa nya, nanti kalau ada yang kurang bagus mbak bisa memberi tahu saya." ucap Tania.


"Apa kamu mau langsung pulang? Tuan Angga memesan kan untuk mbak datang malam ini ke rumah sakit memberikan jas nya." ucap Fani.


"Kenapa harus saya? Dia memiliki Banyak Anggota. Body guard dan juga sekretaris. Di sana juga sudah ada mbak Dara. Saya harus pulang membawa anak saya istirahat dan adik saya juga pasti menunggu." ucap Tania.


"Tapi saya hanya menyampaikan permintaan Tuan Angga. Mau bagaimana pun sebelum nya kamu sudah berjanji untuk merawat nya." ucap Fani.


Tania Menghela nafas panjang.


"Baiklah-baiklah. Tapi saya akan membawa anak saya." ucap Tania.


Dara sama sekali tidak Keberatan, mereka keluar dari ruangan itu.


"Huff akhirnya aku bisa beranjak juga dari tempat duduk ku." ucap Tania.


Dia melihat Eki yang masih asik bermain. "Eki.." Tania mengendong nya. "Terimakasih yah sudah mau mengasuh anak saya." ucap Tania. Pengasuh itu tersenyum.


"Mari ikut saya." ucap Fani. Mereka Menuju ke rumah sakit tempat Angga di rawat.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai di ruangan Angga.


"Bagaimana keadaan Tuan Angga?" tanya Fani pada Dara.


"Masih belum sadar kan diri, tuan sudah melewati masa koma nya, mungkin karena pengaruh obat bius." ucap Dara.


Namun tiba-tiba Angga menggerakkan jari nya dia membuka mata nya perlahan.


"Lidya..." ucap Angga dengan suara yang begitu serak sekali.


Dara dan juga Fani terdiam. Mereka tau apa yang di maksud oleh tuan nya itu


Sementara Tania yang merasa di tatap oleh Angga kebingungan, dia melihat kekiri dan kanan nya.


"Siapa yang bernama Lidya?" batin Tania.


"Tuan Angga minum dulu." ucap Dara memberikan Air minum. Angga minum mengunakan sedotan.


"Kenapa kamu hanya diam saja Lidya? Saya sangat merindukan kamu." ucap Angga pada Tania.


"Tuan ini bukan non Lidya tapi Bu Tania." ucap Dara. Angga terdiam sejenak dia pun langsung menutup mata nya perlahan.


"Tuan harus banyak istirahat, Belum bisa bergerak lebih banyak ataupun berfikir yang tidak harus di pikirkan." ucap Dara.


Angga pun diam. "Kalian pulang saja, tinggalkan wanita penjahit ini di sini. Dia harus bertanggung jawab menjaga saya di sini." ucap Angga.

__ADS_1


Mereka berdua menganguk.


"Mbak meninggal kan saya di sini?" ucap Tania.


Dara dan Fani hanya bisa tersenyum saja dan setelah itu pergi meninggalkan Tania.


Tania mencoba menahan namun mereka langsung pergi.


"Dari awal kau sudah berjanji untuk merawat saya, kau tidak boleh mengabaikan janji mu Begitu saja." ucap Angga.


Tania diam. "Tapi saya tidak harus merawat Tuan di rumah sakit, ini tidak akan sehat bagi anak saya." ucap Tania.


"Kalau begitu saya akan meminta pengasuh menjemput nya." ucap Angga. Tania menggeleng kan kepala nya.


"Tidak perlu Tuan. Anak saya tidak Akan bisa tidur bersama orang lain, dia sedikit rewel." ucap Tania.


Angga Menghela nafas panjang. "Apa yang harus saya lakukan?" tanya Tania.


"Kau tidak perlu melakukan apapun, cukup hanya menemani saya di sini." ucap Angga. Tania duduk di sofa yang cukup besar.


Dia membaringkan Eki di sana.


"Untung saja Eki sudah kenyang dari rumah sehingga dia tidak Rewel." batin Tania.


Dia baru saja menepuk-nepuk punggung Anak nya namun dia sudah tidur nyenyak. Tania juga sudah sangat mengantuk akhirnya dia juga tidur di samping Anak nya.


Sementara Angga mau minum namun dia tidak bisa bergerak sekali. Dia melihat ke arah Tania.


Kelihatan nya sudah sangat nyenyak dia pun berusaha untuk minum sendiri namun tiba-tiba Sendok jatuh.


Tania sangat terkejut.


"Apa yang Tuan lakukan?" tanya Tania. Angga hanya diam. Tania langsung mengambil air dan membantu Angga untuk minum.


"Tuan bisa membangun kan saya, bagaimana kalau Gelas nya sampai jatuh?" ucap Tania. Angga hanya diam.


Tania mengangangkat leher Angga agar bisa minum dengan nyaman.


Namun tidak sengaja mata mereka bertemu. Angga menatap mata Tania. Begitu juga dengan Tania.


Tiba-tiba Tania melepaskan tangan nya dan menjauh. "Saya sangat lapar." ucap Angga. Tania melihat jam sudah jam sebelas malam.


"Tapi jam segini tidak ada makanan lagi tuan." ucap Tania. "Saya tidak akan bisa tidur kalau perut saya lapar, setidaknya kamu mencari roti." ucap Angga.


Tania tidak ada pilihan, walaupun dia sudah sangat lelah, dia ngantuk tapi dia harus pergi. Dia meninggal Angga.

__ADS_1


Angga berbaring dia melihat Eki bergeliat. Dia hampir saja jatuh ke bawah namun dengan cepat Angga menahan rasa sakit turun dari tempat tidur nya dan menahan Eki.


__ADS_2