Janda Muda Dan Brondong Kaya

Janda Muda Dan Brondong Kaya
Episode 45


__ADS_3

"Tuan Angga berbicara lembut hanya kepada kekasih nya Saja, namun ketika berbicara dengan aku atau pun orang yang ada di rumah ini selalu marah." ucap Tania.


"Tuan Angga sangat mencintai Non Livy, jadi tidak heran kalau Tuan Angga sangat lembut kepada non livy." ucap Bibik.


"Sudah berapa lama mereka berpacaran bik?" tanya Tania.


"Semenjak Tunangan Tuan Angga meninggal." ucap Bibik.


Tania terdiam sejenak.


"Ya udah kalau begitu Bibik ke belakang dulu yah." ucap bibik meninggal kan Tania.


"Pria seperti apa yang Langsung memiliki kekasih baru sementara tunangan nya baru saja meninggal!" ucap Tania.


"Seperti nya dia tidak bisa move on namun dia langsung memiliki pacar." ucap Tania lagi-lagi mengumpat tentang bos nya.


Tania kembali ke kamar nya melihat Eki.


"Kenapa dengan anak saya Mbak?" tanya Tania karena melihat Eki di gendong sangat lemas di punggung pengasuh.


"Tiba-tiba badan nya sangat lemas saat selesai bermain." ucap pengasuh. Tania membawa anak nya ke pelukan nya.


"Ya ampun nak masa iya badan kamu panas lagi, P yang harus Mamah buat?" ucap Tania panik. Eki jadi rewel, bahkan sudah tidur saja dia sangat rewel sekali.


Di lantai bawah Fani Datang ke ruangan Angga.


"Permisi Tuan ini ada surat undangan." Fani memberanikan pada Angga. Angga menerima dan melihat ternyata teman nya yang menikah.


"Sial! Dia bahkan lebih muda dari ku namun dia mendahului ku." batin Angga. Fani segera keluar.


"Besok? Tidak mungkin ku pergi sendiri, aku harus pergi dengan siapa?" batin Angga.


Dia mencoba memikirkan nya namun tak juga menemukan yang pas untuk di ajak.


"Fani!" panggil Angga. "Iyah Tuan."


"Carikan saya perempuan yang bisa di ajak ke acara ini besok malam." ucap Angga.

__ADS_1


Fani menawarkan wanita yang tentunya bukan wanita sembarangan, kebanyakan teman nya yang menjadi model namun Angga tidak suka satu pun.


"Kenapa semua nya terlihat wanita murahan? Saya ingin wanita yang berkelas!" ucap Angga.


Fani bingung menjawab apa. "Ah sudahlah, tidak ada satu pun yang menarik perhatian saya!" ucap Angga. Fani menghela nafas panjang.


Angga menatap Fani dari atas sampai ke bawah.


"Seperti nya kamu tidak menjadi masalah besar menjadi pendamping saya!" ucap Angga.


"Tidak mungkin tuan. Ini akan mempermalukan tuan sendiri datang bersama sekretaris." ucap Fani.


"Humm kamu benar juga, lalu siapa?" ucap Angga.


"Apa Tuan yakin bisa keluar?" tanya Fani. Angga terdiam lagi memikirkan pertanyaan Fani.


"Saya tidak yakin, namun kalau saya tidak datang akan menjadi penyesalan bagi saya, dia adalah teman baik saya." ucap Angga.


"Tuan sudah sangat lama tidak keluar ke tempat keramaian, saya tidak bisa memastikan Tuan baik-baik saja." ucap Fani.


Tiba-tiba Angga mengingat saat berangkat ke rumah sakit tadi malam.


"Situasi pada saat itu berbeda Tuan. Tuan sedang fokus pada anak bayi itu, itu sebabnya tuan tidak perduli dan tidak sadar tuan sudah di luar." ucap Fani.


"Huff kamu selalu membuat saya patah semangat!" ucap Angga dengan kesal. "Bukan seperti itu Tuan. Kalau tuan mengalami trauma saya tidak bisa memastikan Tuan akan baik-baik Saja." ucap Fani.


"Huff baik lah saya mengerti." ucap Angga.


Tiba-tiba Rendi masuk. "Permisi Tuan ini Makan siang nya." ucap Rendi. Pelayan membawa masuk makanan.


Tidak terasa sudah sore. Angga masih fokus dengan pekerjaan nya. Namun tiba-tiba dia kefikiran Tania.


"Kenapa saya tiba-tiba teringat wanita itu?" ucap Angga. Tiba-tiba dai menutup laptopnya dan keluar dari ruangan kerja nya.


Namun baru saja keluar dari ruangan kerja nya ada klien yang ingin berbicara sebentar. Angga ingin cepat-cepat naik ke atas sehingga mempercepat pembicara dia dengan klien.


Tidak beberapa lama akhirnya selesai dan dia langsung ke atas, Fani yang melihat itu heran karena biasanya Angga akan keluar jam sepuluh ke atas dari ruangan itu.

__ADS_1


Tidak beberapa lama akhirnya sampai di lantai kamar nya. "Tuan sudah pulang?" ucap Dara. Angga menganguk dia masuk ke kamar nya. "Loh kenapa belum ada yang menyiapkan pakaian ku?" Dia melihat ke kamar mandi belum menyiapkan air mandi juga.


"Di mana Wanita itu? Kenapa dia belum menyiapkan pekerjaan nya?" tanya Angga pada Dara.


"Ada di kamar Tuan." Belum selesai berbicara Angga langsung berjalan ke arah kamar Tania.


Dia membuka pintu dengan kasar. Namun dia baru ingat kalau Eki Masih di rumah nya. Tiara melihat Angga langsung meletakkan jari nya di bibir meminta Angga untuk diam.


Tania mengendong Eki dengan wajah yang sangat sedih.


"Ada apa dengan dia?" tanya Angga. "Saya tidak tau Tuan, tiba-tiba saja badan nya lemas dari pagi tadi." ucap Tania.


Angga mendekati nya. "Dia juga tidak mau makan dan hanya menangis." ucap Tania. Angga menyentuh kulit Eki tidak terlalu hangat.


"Dia pasti sangat lapar coba berikan dia makan." ucap Angga. "Saya sudah mencoba nya Tuan." ucap Tania. Angga melihat bubur yang sudah dingin tidak di makan di atas meja.


"Heyy.. Kenapa kamu tidak mau makan?" tanya Angga pada Eki. Eki terbangun di menyadari ada Angga langsung meminta gendong.


"Papah-papah...." Eki mulai berbicara sambil menatap wajah Angga.


Angga melihat wajah Tania yang sangat panik dan penuh kekhawatiran.


"Buat kan bubur yang baru." ucap Angga. Tanpa basa-basi Tania langsung membuat nya.


Angga membawa Eki berbicara sambil tertawa namun kelihatannya Eki sama sekali tidak bersemangat namun dia tidak berhenti menatap wajah Angga.


Tidak beberapa lama Tania datang membawa kan bubur baru.


"Biar saya saja Tuan. Tuan baru selesai bekerja pasti sangat lelah." ucap Tania. "Saya akan mencoba memberi dia makan. Kau sama sekali tidak bisa merawat anak dengan baik!" ucap Angga.


Tania terdiam. Karena yang di katakan Angga ada benarnya. "Kamu harus makan dulu." ucap Angga menyuapi Eki dengan tangan kanan nya sementara tangan kirinya memeluk nya.


Awalnya Eki tidak mau namun Angga terus membujuk nya dengan cara yang bisa dia lakukan. Walaupun terlihat sangat konyol dan aneh tapi dia berhasil membuat Eki tertawa.


Sesekali dia berpura-pura marah membuat Eki membuka mulutnya. Tania yang tadi nya sangat Sedih sudah mulai mau tersenyum karena melihat Eki makan seperti biasa lagi.


Tidak beberapa lama makanan nya sudah habis. Angga memberikan minum. "Mana Obat nya?" tanya Angga. Tania memberikan nya. Cukup sulit memberikan anak-anak minum obat. Mereka berdua memaksa dan akhirnya bisa habis di minum.

__ADS_1


Baju Angga sekarang sudah sangat kotor.


__ADS_2