Janda Muda Dan Brondong Kaya

Janda Muda Dan Brondong Kaya
Episode 133


__ADS_3

"Gak apa-apa mbak, ini juga sudah enak." ucap Mona.


"Ya ampun Bibik lupa untuk belanja. Maafin Bibik yah. Nanti Bibik pergi belanja." ucap Bibik sisi.


Tania membuka dompetnya memberikan uang kepada Bibik sisi. "Ini untuk uang belanja Bibik." ucap Tania.


"Gak perlu Tania, Bibik masih punya uang." ucap Bibik. "Ambil saja Bik." ucap Tania memaksa.


"Ini untuk Bibik." ucap Tania memberikan uang lebih untuk Bibik Sisi.


"Terimakasih banyak yah Tania." ucap Bibik Sisi.


Setelah selesai sarapan sama-sama berangkat. Eki belum bangun itu sebab nya dia tidak cengeng di tinggal oleh Tania.


Sesampainya di Butik dia melihat mobil mewah berhenti di depan Butik.


"Ini mobil siapa? Ini seperti mobil Angga namun tidak warna ini." batin Tania. "Nada Siapa itu?" tanya Tania melihat Pria yang duduk di ruang tunggu lantai bawah.


"Dia mau bertemu dengan kamu. Kamu sebaiknya bertemu dengan dia dulu baru lanjut bekerja." ucap Nada. "Mau bertemu dengan ku?" ucap Tania. Nada mengangguk.


Tania melihat penampilan pria itu membuat nya takut karena terlihat seperti gangster.


"Aku takut Nada. Katakan sajaa pada nya kalau aku tidak datang." ucap Tania.


"Jangan seperti itu, mungkin dia mau bertanya-tanya tentang pakaian. Atau bisa jadi dia ada yang sangat penting itu sebabnya dia datang ke sini untuk menemui kamu, dia sudah menunggu kamu dari tadi" ucap Nada.


"Ya udah deh, tapi kamu Temanin aku yah." ucap Tania. Nada menggeleng kan kepala nya.


"Kamu buruan pergi saja sendiri, aku sedang bekerja." ucap Nada. Tania menghela nafas panjang.


"Hufff baiklah." ucap Tania memberanikan diri menghampiri pria itu.


"Permisi Pak, ada yang bisa saya bantu? Kata bos saya Bapak mencari saya." ucap Tania.


"Iyahh saya mencari kamu." ucap pria itu menoleh ke arah Tania. Tania kaget karena merasa tidak asing dengan wajah pria tersebut.


"Kenapa kamu kaget seperti itu? Silahkan duduk." ucap Danil. "Tuan Danil ngapain mencari saya sampai ke sini? Tuan tau dari mana saya ada di sini?" tanya Tania.


"Apa saya tidak boleh datang ke sini? Saya ke sini sebagai pelanggan." ucap Danil. Tania terdiam sejenak.


"Apa kamu bisa membuat kan Jas yang bagus untuk saya?" ucap Danil. "Bisa Tuan." ucap Tania. Danil tersenyum.


"Sebaiknya jangan panggil saya seperti itu. Panggil saya Danil. Kelihatan nya kita hanya beda beberapa tahun saja." ucap Danil.

__ADS_1


Tania diam. "Silahkan duduk." ucap Danil kepada Tania.


Tania duduk di depan Danil. "Kalau boleh tau nama kamu siapa?" tanya Danil..


"Nama saya Tania Pak." ucap Tania dengan sedikit canggung.


"Tidak perlu gugup seperti itu, saya hanya ingin basa-basi saja sebelum Mengukur badan saya." ucap Danil. Tania tersenyum.


"Saya lihat-lihat kamu dengan Angga cukup dekat yah." ucap Danil.


"Hanya sebatas Pelayan dengan bos saja." jawab Tania. "Oohh.. Jadi sekarang kamu tidak bekerja dengan dia lagi?" tanya Danil.


"Kontrak saya sudah selesai." ucap Tania.


"Sebaiknya saya langsung mengukur badan bapak, karena saya tidak memiliki waktu banyak." ucap Tania langsung karena dia tau Danil pasti akan bertanya lagi.


"Baiklah-baiklah." ucap Danil.


"Mari ikut dengan saya pak." ucap Tania. Danil mengikuti Tania. Tania mulai Mengukur nya.


"Kenapa sih penampilan Angga dengan Pak Danil sama? Pertama kali Angga juga seperti ini." batin Tania.


Tidak beberapa lama akhirnya selesai. "Ini menunggu cukup lama Pak, bapak tidak apa-apa kan?" ucap Tania.


Tidak masalah. Saya jadi mempunyai alasan datang ke sini melihat penjahit cantik seperti kamu." ucap Danil.


"Saya hanya penjahit biasa pak." ucap Tania. Danil tersenyum. "Nama kamu sudah terkenal di kalangan orang-orang terpandang di kota ini. Jahitan jas buatan kamu sungguh sangat menarik." ucap Danil.


Tania yang di sanjung membuat nya sangat senang, dia tambah bersemangat sekali.


"Saya ingin di buat kan dua jas yang warna berbeda." ucap Danil. "Baik Pak." jawab Tania.


"Mana nomor rekening kamu? saya akan mengirimkan uang nya." ucap Danil.


"Langsung ke kasir saja Pak." ucap Tania. "Oohhh begitu yah. Baiklah." ucap Danil. Tania tersenyum. Danil pergi Tania bersorak sangat senang sekali.


"Horeeeee!!!!" Dia benar-benar sangat senang sekali karena Mendapat pemesanan.


"Terimakasih ya Allah." ucap Tania dalam hati.


Dia semakin semangat mengerjakan pekerjaan nya.


Sementara di ruangan Rendi Angga terbangun karena ponsel nya berbunyi telepon dari Livy. Angga menjawab nya.

__ADS_1


"Halo!!" jawab Angga dengan suara serak.


"Kamu di mana? Kamu kok gak pulang semalam?" ucap Livy. "Saya lembur." jawab Angga langsung mematikan sambungan telepon.


Rendi membuka pintu dia kaget melihat Angga.


"Tuan tidak pulang tadi malam?" tanya Rendi.


Angga menggeleng kan kepala nya.


"Saya ketiduran." ucap Angga. Rendi melihat Ruangan nya berantakan.


"Apa Tuan menemukan Bukti?" tanya Rendi. Angga menggeleng kan kepala nya lagi.


Angga Seketika baru ingat kenapa dia bisa di sana. "Tuan mau ngapain?" tanya Rendi. "Saya harus menemukan secepatnya." ucap Angga.


"Tapi Tuan belum ada istirahat, sebaiknya Tuan kembali ke rumah. Saya akan melanjutkan untuk mencari." ucap Rendi.


Angga Menggeleng kan kepala nya.


"Kamu harus membantu saya." ucap Angga. Rendi tidak bisa membantah Perkataan bos nya itu akhirnya dia menginyakan saja perkataan bos nya itu.


Setelah beberapa lama duduk di meja komputer Angga lapar. Dia melihat Supir datang mengantar kan makanan untuk nya.


"Apakah ini dari Tania?" tanya Angga. Rendi dan supir bertatapan.


"Tuan lupa kalau Tania tidak bekerja lagi dengan kita?" ucap Rendi.


Angga Menghela nafas panjang. "Sudah lupakan saja, bawa sini makanan nya saya sangat lapar." ucap Angga.


Rendi meminta supir itu pergi. "Sayang..." Livy tiba-tiba datang. Angga melihat Livy menghela nafas panjang.


Angga menatap Rendi seperti menuduh Rendi yang memberi tahu kepada Livy kalau dia ada di sini.


Rendi Menggeleng kan kepala nya. "Tidak tuan." ucap Rendi.


"Sayang kenapa kamu gak pulang?" ucap Livy.


"Sebaiknya kita keluar saja." ucap Angga menarik tangan Livy keluar.


"Huff ngapain sih kamu kasar-kasar banget." ucap Livy dengan kesal menepis tangan Angga. "Berapa kali saya bilang sama kamu agar tidak datang mengganggu saya?" ucap Angga.


"Aku khawatir sama kamu sayang, aku salah mengkhawatirkan calon suami aku?" ucap Livy.

__ADS_1


"Apa yang kamu katakan kepada orang tua ku? Kamu semakin keterlaluan!" ucap Angga.


Livy tersenyum. "Ternyata Papah kamu sudah memberi tahu kamu." ucap Livy dengan santai.


__ADS_2