
"Eki sudah dua hari sakit. Aku rasa dia sangat merindukan kamu." ucap Nada. Tania bisa merasakan Badan Eki yang panas.
"Ya Allah nak, maafin Mamah yah nak." ucap Tania. Dia mencium Eki. Eki menatap Mamah nya dengan tatapan bingung namun juga sangat senang sekali.
"Lalu bagaimana dengan Mona?" tanya Tania.
"Tiga hari yang lalu dia sudah bisa keluar dari rumah sakit. Keadaan nya sekarang jauh lebih baik." ucap Nada.
"Terimakasih banyak yah Nada, aku akan mengganti semua uang kamu." ucap Tania. "Bukan aku yang membayar rumah sakit nya." ucap Nada.
"Lalu siapa kalau bukan kamu?" tanya Tania. "Aku tidak tau Tania, tapi dia membayar semua nya Tampa meninggalkan identitas apa pun. Bahkan Mona terapi gratis." ucap Nada.
"Terimakasih ya Allah. Engkau masih memberikan jalan dan juga memberikan orang baik." ucap Tania.
"Sebaiknya kita tidur boleh di luar. Kasihan Eki masuk angin nanti nya." ucap Nada.
Tania menoleh ke arah teras Masih ada Angga dan juga Dara.
"Seperti nya aku tidak bisa lama-lama di sini, besok aku akan datang lagi." ucap Nada.
"Tunggu dulu. Sebaiknya Eki tinggal dengan ku dulu Sampai badan nya lebih baik." ucap Tania.
"Aku sama sekali tidak masalah. Tapi bagaimana dengan Tuan Angga?" tanya Nada. Tania dan Nada mendekati Angga yang selalu memasang wajah dingin.
"Anak saya kurang sehat Tuan. Apa dia boleh tinggal di sini bersama saya sampai dia lebih baik?" tanya Tania. Angga diam.
"Kalau tidak bisa saya tidak masalah, tapi untuk beberapa jam Ijin kan saya bersama anak saya." ucap Tania.
"Dia boleh di sini sampai sembuh." ucap Angga. Tania tersenyum. "Terimakasih banyak Tuan." ucap Tania. Nada juga tersenyum.
"Tidak salah aku mencintai pria dingin seperti Tuan Angga. Walaupun dia kelihatan kejam namun dia mempunyai hati yang sangat baik." batin Nada.
"Kalau begitu aku pulang yah Tania." ucap Nada. "Terimakasih banyak yah Nada." ucap Tania. Nada menganguk.
"Tuan saya boleh boleh berbicara sebentar?" tanya Nada.
"Katakan saja!" ucap Angga.
__ADS_1
"Saya mau mengucapkan terimakasih pada Tuan. Karena Tuan mencabut berita itu, Butik saya kembali seperti biasa." ucap Nada.
"Lain kali jangan memilih karyawan yang tidak bertanggung jawab." ucap Angga.
"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi Dulu." ucap Nada.
"Eki kamu di sini Sama Mamah yah, kamu pasti sangat senang. Tante pergi dulu." ucap Nada.
Setelah itu di pun pergi dengan perasaan senang sekali.
Dara melihat sudah jam istirahat dia permisi meninggalkan Angga dengan Tania. Tania masih senang mengajak Eki berbicara. Sedih dan bahagia bercampur.
"Bawa dia masuk." ucap Angga. Tania baru sadar kalau Angga masih di sana. Tania menganguk dia membawa Eki masuk ke dalam.
Angga bisa melihat Tania sangat bahagia ketika Eki bisa di gendong oleh nya lagi.
"Mamah sangat merindukan kamu nak." ucap Tania.
Tania membawa Eki ke kamar. Angga yang mengikuti Tania tiba-tiba berhenti.
"Kenapa aku mengikuti dia?" ucap nya. Dia langsung masuk ke kamar.
Dia duduk di sofa kamar kamar nya sambil mengangkat Kakinya.
"Huff apa yang sedang aku pikirkan! Walaupun dia mirip dengan Violet tapi tetap lah dia adalah anak yang sudah membunuh ibu dan violet." ucap Nya.
"Permisi Tuan!" Tiba-tiba Tania masuk. Angga langsung berdiri.
"Ada apa?" tanya Tania. "Sa-saya minta maaf tidak jadi menukar alas tempat tidur Tuan. Saya akan melakukan nya." ucap Tania.
Sebenarnya dia harus mengerjakan itu Sore tadi sebelum Angga pulang, namun dia lupa.
Angga hanya diam. Dia meletakkan Eki duduk di karpet tidak jauh dari Angga. Namun Eki berdiri dan berjalan mengunakan barang-barang yang tinggi untuk tahanan tangan nya.
Angga yang melihat Eki berjalan belum kuat membuat nya takut. "Papah-papah... Eki mendekati Angga.
"Eki jangan ke situ nak." ucap Tania sadar kalau Eki mendekati Angga.
__ADS_1
"Biar kan saja!" ucap Angga. Tania terdiam. "Lanjutkan pekerjaan kamu, saya ingin segera istirahat." ucap Angga.. Tania menganguk.
Eki Terus berpegangan di kaki Angga. Angga mencoba untuk bodoh amat, namun Eki Hilang keseimbangan dia langsung menangkap nya.
Tania kaget. Namun melihat Eki senang di gendong oleh Angga membuat nya berhenti khawatir.
Eki meletakkan kepalanya di dada Angga. "Singkirkan kepala mu dari saya!" ucap Angga. Namun Eki semakin mempererat pegangan nya pada Angga.
"Papah..." ucap Eki. "Saya bukan papah mu!" ucap Angga lagi.
"Sudah selesai Tuan." ucap Tania.
"Bawa anak ini jauh dari saya, membuat saya geli saja." ucap Angga. "Sini Eki." ucap Tania mau mengambil Eki namun Eki tidak mau.
Eki malah menangis. "Badan mu sangat lembek sekali, bagaimana bisa anak sekecil ini lincah." ucap Angga.
"Itu tidak lembek Tuan, hanya saja dia masih sangat kecil." ucap Tania.
"Saya sangat geli menyentuhnya, segera bawa dia." ucap Angga. Eki tiba-tiba menangis. Angga menghela nafas panjang dia menatap wajah Eki yang juga Menatap nya.
"Apa yang kamu lihat dari wajah saya?" tanya Angga. Namun Eki tiba-tiba tertawa. Dia bukan nya takut malah tertawa. Tania kebingungan.
"Maafkan anak saya Tuan." ucap Tania. "Apa dia tidak takut kepada saya? Anak seperti apa ini?" ucap Angga. Angga berbicara Eki merasa lucu dan dia tertawa.
Eki tersenyum dan mencium pipi Angga. Tania terkejut. Dia sangat tau kalau Eki sangat suka mencium pipi namun dia kaget dengan yang dia lakukan pada Angga.
Angga terdiam sejenak. "Kamu harus pergi sekarang." ucap Angga langsung memberikan nya pada Tania. Eki tidak mau dia malah menampar wajah Tania dan menangis meminta di gendong oleh Angga.
"Tuan saya mohon untuk mengendong nya sampai tertidur, setelah itu saya akan membawa nya pergi. Badan nya semakin panas karena menangis." ucap Tania.
"Saya tidak pandai, bagaimana kalau tiba-tiba dia jatuh, badan nya seperti ulat." ucap Angga. Tania memberikan Eki.
"Tangan Tuan harus seperti ini. Dia tidak akan kemana-mana kalau Tuan menahan nya dengan benar." ucap Tania memegang tangan Angga.
Eki sangat senang sekali.
"Tuan harus berdiri agar dia bisa tidur dengan cepat ucap Tania. Angga hanya bisa pasrah dia menurunkan Tania dan mengayunkan badan nya agar Eki nyaman.
__ADS_1
"Nanti kalau Tuan mempunyai anak, Tuan tidak Akan kesusahan lagi!" ucap Tania. "Saya tidak Akan mempunyai anak!" ucap Angga.