Janda Muda Dan Brondong Kaya

Janda Muda Dan Brondong Kaya
Episode 120


__ADS_3

"Makasih yah Tante, karena kalau Angga bersama janda itu akan berakhir tidak baik. Dia matre, dia akan menjadi angga menjadi ladang uang nya." ucap Livy.


"Iyah Tante percaya kok. Itu sebabnya Om berusaha menjauh kan Angga dari perempuan seperti itu." ucap Mamah nya Angga.


Livy memeluk calon mertua nya itu.


"Tania berpengaruh buruk bagi Angga. Aku tidak tega membiarkan nya, dia tidak mencintai Angga dengan tulus." ucap Livy.


"Tuan kita mau kemana?" tanya Dara karena Angga menyetir mobil begitu cepat.


"Kamu diam saja." ucap Angga.


"Tuan emosi tidak akan menyelesaikan masalah tuan. Seperti ini akan membahayakan Tuan, apakah Tuan mau kecelakaan sama seperti Lidya?" ucap Dara.


"Aarrrghh!!!!!!" Angga benar-benar sangat marah dia Emosi.


Tidak beberapa lama Angga berhenti dia meletakkan kepalanya di stir mobil.


"Saya baru merasakan kebahagiaan, saya baru merasakan cinta yang sebenarnya namun kenapa harus seperti ini?" ucap Angga.


"Ini adalah ujian kepada tuan. kalau Tuan bisa melewati nya itu artinya tuan berhasil memperjuangkan cinta Tuan." ucap Dara.


Tiba-tiba SMS masuk ke ponsel nya. Angga membuka nya ternyata itu dari orang suruhan nya mencari tau kejadian beberapa beberapa tahun yang lalu tentang kecelakaan Lidya.


"Ada apa Tuan?" tanya Dara. Angga menunjukkan nya kepada Dara. "Apakah Tuan mencari kronologi kecelakaan itu?" tanya Dara. Angga menganguk.


"Saya ingin tau sebenarnya yang terjadi seperti apa." ucap Angga. "Kalau begitu ijinkan saya membantu mencari tau." ucap Dara.


Angga Menggeleng kan kepala nya. "Kamu sudah banyak menangani pekerjaan. Saya hanya ingin kamu fokus pada keamanan dan keselamatan Tania dan juga Keluarga nya." ucap Angga.


"Ya ampun Tuan Angga begitu mengkhawatirkan Tania.. Seperti nya Tuan Angga sangat serius kepada Tania." ucap Dara dalam hati.


"Kenapa kamu hanya diam? Apa kamu tidak mendengar nya?" tanya Angga. "Baik Tuan." ucap Dara.


"Jangan sampai ada yang tau alamat Tania. Bila perlu kamu bawa mereka pindah dari sana." ucap Angga.


"Baik Tuan saya paham." ucap Dara. Angga tersenyum.


"Apakah Tuan Angga benar-benar serius dengan Tania?" tanya Dara.


Angga menatap Dara. "Saya tidak tau kedepannya seperti apa, namun dia adalah cinta pertama saya. Biar pun banyak kata orang kalau cinta pertama tidak pernah berhasil namun saya akan terus memperjuangkan nya." ucap Angga.

__ADS_1


Dara tersenyum dia sangat salut dengan bos nya itu.


"Tuan benar-benar lelaki sejati. Bukan seperti Rendi." ucap Dara.


"Rendi? Ada apa dengan Rendi?" ucap Angga. Dara langsung Menggeleng kan kepala nya.


"Kenapa aku keceplosan sih." ucap Dara pada diri sendiri.


"Saya sudah curiga selama ini kalau kamu benar memiliki hubungan dengan Rendi kan?" ucap Angga.


Dara menggeleng kan kepala nya.


"Sudah jangan di bahas lagi tuan, saya tidak ingin mendengar nya lagi." ucap Dara.


"Baiklah kalau begitu mari kita mencari makanan dan segera pulang." ucap Angga.


Sampai di restoran mereka memesan makanan. "Kenapa tuan menatap saya seperti itu?" ucap Angga.


Dara dari tadi melihat ponsel nya mengabaikan Angga.


"Ada apa Tuan? Apakah Tuan membayangkan saya adalah Tania?" ucap Dara. Angga menggeleng kan kepala nya.


"Saya ingin kamu menghubungi Tania." ucap Angga. "Kenapa tidak Tuan sendiri yang menelpon nya?" ucap Dara.


"Hubungi dia! Saya ingin mendengar suara nya." ucap Angga.


"Huff baiklah-baiklah tuan. Gak usah emosi." ucap Dara. Dara menghubungi Tania. Cukup lama baru di Jawab.


"Assalamualaikum Dara, ada apa?" tanya Tania.


"Walaikumsalam.. Kamu lagi apa? aku ganggu yah?" ucap Dara.


"Enggak kok, aku baru saja mencuci pakaian." ucap Tania.


"Oohhh.." ucap Dara. "kamu tumben menelpon aku, ada apa? Kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku." ucap Tania.


"Gak apa-apa kok " ucap Dara. Angga yang mendengar kan suara Tania sangat fokus bahkan dia yang memegang ponsel Dara.


"Kalau tidak ada yang terlalu penting aku matiin dulu yah, soal nya aku mau menemani Eki tidur." ucap Tania.


Angga mengode Dara agar membujuk Tania tidak mematikan telepon nya.

__ADS_1


"Jangan di matikan dulu, aku masih ingin berbicara dengan kamu." ucap Dara.


"Tumben banget sih kamu, ada apa?" ucap Tania.


"Humm apa kamu sudah cerita pada Bibik Sisi?" tanya Dara.


"Belum Dara.. Aku masih bingung harus menjelaskan bagaimana." ucap Tania. "Oohh begitu yah." ucap Dara.


"Kamu sekarang baik-baik saja kan?" ucap Dara. "Baik kok, aku sudah lebih baik, aku berterimakasih banyak sama kamu, mulai Besok aku akan memulai menjahit di Butik nya Nada." ucap Tania.


"Bagus deh kalau begitu." ucap Dara.


"Kalau tidak ada yang terlalu penting aku matiin dulu yah.. Assalamualaikum." ucap nya langsung mematikan sambungan telepon.


"Walaikumsalam.." jawab Dara sambil menatap tidak enak kepada Angga. "Seperti nya dia benar-benar kecewa dan tidak ingin tau tentang saya. Bahkan dia tidak bertanya bagaimana keadaan saya." ucap Angga.


"Jangan sedih-sedih dong Tuan. Saya jadi ikut sedih ini." ucap Dara.


Tania melihat Eki yang sudah tidur di samping nya, sebenarnya itu hanya alasan nya karena dia tau kalau dara lagi sama Angga.


"Maafin aku yah Angga. Bukan maksud ku untuk mengabaikan kamu, tapi aku ingin belajar melupakan kamu." ucap Tania.


"Aku tidak tau entah aku bisa atau tidak, namun aku harus iklas untuk melepaskan kamu." ucap Tania.


Di sekolah Mona baru saja keluar dari sekolah nya.


"Bagaimana kabar kamu?" tiba-tiba pria yang dianggap depan nya bertanya pada nya. Dia mengangkat pandangan nya dia melihat pria yang di depan nya ternyata adalah Tomi.


"To-tomi.." ucap nya sangat terkejut.


"Kenapa kamu begitu terkejut? Aku hanya bertanya bagaimana kabar mu? Sudah cukup lama kita tidak bertemu." ucap Tomi.


"Aku baik." ucap Mona. "Aku datang ke sini mau minta maaf sama kamu." ucap Tomi.


"Aku sudah mengirimkan surat, pesan namun kamu tidak membalas nya." ucap Tomi.


Mona diam. "Aku mendengar kamu sempat lumpuh, aku sangat bersalah, aku tidak bisa mengatakan apapun, aku minta maaf. Kalau kamu mau marah dan membalas nya aku siap." ucap Tomi menundukkan kepalanya.


"Orang seperti ku tidak berhak marah kepada kamu, aku hanya lah rakyat biasa, perempuan biasa yang bisa kamu permainan dan kamu tinggalkan semau kamu." ucap Mona.


"Kenapa kamu berbicara seperti itu? Aku kembali pada kamu." ucap Tomi.

__ADS_1


"Aku tidak ingin kamu kembali, aku sangat membenci kamu, aku tidak ingin melihat wajah kamu, kalau bukan karena kamu aku tidak akan mengalami hampir mati." ucap Mona kesal dan marah.


__ADS_2