Janda Muda Dan Brondong Kaya

Janda Muda Dan Brondong Kaya
Episode 123


__ADS_3

Dia pun langsung ke kamar mandi mau mandi karena sudah sangat lelah dan berkeringat Bekerja.


Mona menghela nafas panjang. "Bagaimana ini? apa yang harus aku lakukan? Apa aku benar-benar harus menyerah, aku harus mengiklas kan semua nya?" ucap Mona.


Tiba-tiba mbak nya datang bersama Eki.


"Mbak dari mana saja?" ucap Mona. "Tidak perlu tau!" ucap Tania dengan Judes. Mona mengikuti Tania ke dalam kamar.


"Mbak aku mohon jangan Marah sama ku." ucap mona.


"Bagaimana mbak tidak Marah kepada kamu? Kamu sudah tidak mau mendengar kan kata-kata Mbak!" ucap Tania.


"Bukan seperti mbak, aku hanya ingin mbak memberikan kesempatan, kalau seandainya Tomi tidak berubah aku tidak akan ragu-ragu untuk meninggalkan dia, aku Janji mbak." ucap Mona.


Tania Menggeleng kan kepala nya.


"Tidak bisa!" ucap Tania.


"Mbak aku mohon... Aku sangat mencintai Tomi." ucap Mona.


"Kamu sebaiknya fokus pada sekolah kamu!" ucap Tania.


"Mbak..." Mona terus memohon sambil memasang wajah sedih.


"Aku tau mbak pasti sangat marah karena kejadian itu mbak jadi seperti ini, harus bertanggung jawab pada Tuan Angga. Tapi Tomi tidak akan tau semua nya akan seperti ini."' ucap Mona.


"Bukan masalah itu! Mbak hampir saja kehilangan kamu harus dia, mbak sama sekali tidak mempermasalahkan soal yang mbak alami namun mbak tidak ingin adik mbak dalam bahaya." ucap Tania sambil menangis..


Mona jadi sangat merasa bersalah sekarang dia memeluk Tania. "Maafin aku Mbak. Aku tidak akan membahas ini lagi, aku akan mendengar kan kata-kata Mbak." ucap Mona.


Tania tersenyum dia membalas pelukan Mona.


"Semua yang mbak lakukan adalah yang terbaik untuk kamu dek." ucap Tania.


Mona menganguk.


"Ya udah kalau begitu kamu istirahat di kamar kamu gih, mbak juga mau istirahat." ucap Tania. Mona menganguk dia mau keluar dari kamar itu namun terhenti menoleh ke arah Tania.


"Oh iya mbak aku boleh tanya kenapa mbak pulang?" tanya Mona. "Tidak apa-apa, mbak hanya ingin pulang saja." ucap Tania.


Mona melihat baju Tania yang di sudut kamar itu.


"Mbak sudah membawa pulang baju mbak? apakah itu artinya mbak sudah selesai bekerja di sana?" ucap Mona dengan semangat.

__ADS_1


Tania menganguk.


"Alhamdulillah, mbak tidak perlu kerja di Tuan Angga lagi. Kita bisa ketemu Tiap hari, aku senang sekali mbak." ucap Mona.


Tania melihat Mona senang dia juga harus ikut senang karena bisa bersama Mona dan juga anak nya.


"Pokoknya mbak gak boleh pulang ke sana lagi." ucap Mona.


"Mbak tidak akan pulang lagi kok ke sana." ucap Tania.


"Tapi Tuan Angga tidak akan datang ke Sini lagi kan mbak? Tapi akhir-akhir aku melihat mbak sama Tuan Angga sangat dekat." ucap Mona.


Tania menggeleng kan kepala nya.


"Enggak lagi kok." ucap Tania. Mona merasa ada yang aneh dengan raut wajah mbak nya.


"Ada apa mbak? Coba ceritakan apa yang terjadi." ucap Mona.


Tania Menggeleng kan kepala nya. "Gak apa-apa kok " ucap Tania. "Mbak aku bisa merasakan kalau mbak lagi sedih." ucap Mona.


Tania sangat ingin mengeluarkan semua isi hati nya namun tidak bisa, itu akan membebani Adik nya.


"Hanya karena lelah saja, mbak Tidak ada sedih kok." ucap Tania.


"Oohh ya udah deh kalau begitu Mbak." ucap Mona, dia akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar itu. Tania menutup pintu.


"Hufff apa yang harus ku lakukan? Aku seperti ini tidak bisa berhenti memikirkan dia." ucap Tania.


"Mamah..." Tiba-tiba Eki menangis, Tania harus menenangkan Eki Dulu.


Keesokan harinya...


"Selamat pagi Nada..." ucap Tania yang baru saja datang ke butik.


"Pagi juga.. Kamu pagi-pagi sudah datang saja." ucap Nada. Tania diam.


"Sudah jangan terlalu di pikirkan lagi, sekarang kamu fokus bekerja saja." ucap Nada.


Sebelum nya Tania sudah menceritakan semua nya kepada Nada.


"Aku tidak bisa berfikir dengan tenang, aku selalu Sedih, aku tidak tau harus melakukan apa, aku sangat bodoh bisa terlalu jauh seperti ini." ucap Tania.


"Aku paham kok posisi kamu, kamu banyak bersabar, jangan lupa berdoa." ucap Nada memeluk Tania.

__ADS_1


"Sudah jangan Sedih lagi, sudah sangat banyak kain-kain yang menunggu kamu di ruangan kamu. Siapa tau dengan menjahit kamu bisa melupakan masalah kamu." ucap Nada.


Tania menganguk, dia pun berjalan ke dalam ruangan menjahit nya, dia melihat jendela yang di lewati oleh Angga pada saat itu.


Dia tersenyum.


"Pertemuan kita cukup konyol, namun tetap saja aku merasa pertemuan pertama kita bukan yang di bandara mau pun di Butik ini." batin Tania.


Tania membuka tas bawaan nya, itu adalah dress yang belum selesai dia Jahit atas permintaan Angga. Dia menyelesaikan jahitan nya dengan sangat senang, di melupakan masalah nya dengan sejenak.


Setengah hari akhir nya dress nya jadi dia memakai nya.


"Wah cantik banget..." ucap Nada yang baru saja datang membawa makanan untuk Tania.


"Gimana menurut kamu?" tanya Tania. "Ini sangat Bagus sekali. Kain nya juga cukup mahal." ucap Nada. Tania tersenyum.


"Tuan Angga yang beli yah?" ucap Nada, Tania menganguk.


"Kamu bawa apa?" tanya Tania melihat ke arah meja.


"Tadi ada seseorang yang datang mengantar kan makanan Kata nya untuk kamu " ucap Nada.


"Untuk aku?" ucap nya langsung melihat makanan apa. Tania membuka nya ternyata ada satu lembar surat di dalam nya.


"Kamu harus Makan dengan teratur, jangan memikirkan yang sudah terjadi, saya akan menyelesaikan masalah ini." isi surat.


Tidak ada nama pengirim namun Tania sudah tau dari siapa Surat itu.


"Dari Tuan Angga yah?" ucap Nada, Tania menganguk.


"Kok kamu malah sedih gitu sih? ayo di Makan, sayang banget kalau tidak di Makan." ucap Nada.


"Iyah-iyah." ucap Tania.


"Kamu seperti nya sangat mencintai Tuan Angga." ucap Nada. Tania menatap Nada dengan tatapan kesal.


"Tidak perlu menatap ku seperti itu, akui saja!" ucap Nada.


"Dia memberikan semua yang tidak bisa aku dapatkan selama ini. Kasih sayang, kepercayaan, kehangatan, kenyamanan dan Juga mendampingi ku." ucap Tania.


"Walaupun dia lebih muda namun dia memiliki sifat yang begitu dewasa membuat aku nyaman, awal nya aku tidak yakin namun melihat dia sangat menyanyangi Eki begitu juga Eki kepada nya membuat aku tertarik dan pada akhirnya aku yang tersakiti sendiri." ucap Tania.


"Kamu jangan salah dulu, di posisi Tuan Angga pasti jauh lebih sakit sekarang." ucap Nada.

__ADS_1


__ADS_2