
Tania tidak ada pilihan, walaupun dia sudah sangat lelah, dia ngantuk tapi dia harus pergi. Dia meninggalkan Angga.
Angga berbaring dia melihat Eki bergeliat. Dia hampir saja jatuh ke bawah namun dengan cepat Angga menahan rasa sakit turun dari tempat tidur nya dan menahan Eki.
"Aarrrghh.." Dia merasakan sakit yang begitu hebat di bagian bekas operasi nya.
Eki bergeliat semakin ke pinggir. Namun kedua tangan Angga langsung menahan nya. "Fiuhhh." Dia berhasil menggeser Eki lebih ketengah agar tidak jatuh.
Dia tidak menemukan sesuatu untuk menahan Eki selain tas Tania. Dia meletakkan di samping Eki, namun dia merasa itu tidak akan bisa menghalangi Eki. Akhirnya dia bersandar ke sofa. Lama dia menatap wajah Eki.
"Kenapa dia sangat mirip dengan wanita penjahit itu." batin Angga.
Dia sengaja mencolek tangan Eki namun Eki tidak merespon nya. "Kenapa dia hanya diam saja? Apa dia pingsan?" ucap Angga.
Dia mencolek pipi Eki namun tak juga merespon nya. "Apa yang Tuan lakukan?" tanya Tania yang baru saja kembali ke ruangan itu.
Angga langsung menjauh dari Eki namun perut nya terasa sakit.
Tania melihat tangan Angga yang di infus sudah terlepas dan juga berdarah begitu banyak. "Kenapa bisa seperti ini Tuan?" tanya Tania.
Dia memanggil dokter. "Bagaimana bisa seperti ini?" tanya dokter. "Saya turun dari tempat tidur sendiri." jawab Angga.
Dokter memasang infus di tangan yang sebelah nya lagi karena tangan Angga yang di infus tadi sudah terluka.
Setelah selesai dokter itu keluar. Tania melihat tas nya sudah di samping Eki. Dia ingat juga kalau Angga duduk di lantai.
"Maafkan saya Tuan, karena anak saya Tuan harus kesakitan." ucap Tania.
"Hanya membeli nasi saja kau sangat lama!" ucap Angga. "Penjual yang di depan rumah sakit sudah tutup tuan, saya harus mencari yang cukup jauh." ucap Tania.
Angga hanya diam. "Saya akan membantu menyuapi Tuan." ucap Tania. "Tidak perlu saya bisa sendiri!" ucap Angga. Dia mengambil nasi dari Tangan Tania.
"Tapi tangan tuan kedua nya sakit." ucap Tania. "Ini semua karena anak itu!" ucap Angga. Tania diam.
Dia mendekati Eki yang kelihatan nya sangat nyenyak sekali.
"Kamu mengerti sekali nak, di saat seperti ini kamu bisa tidur nyenyak." batin Tania mengelus kepala Eki.
Tania menoleh ke arah Angga yang terlihat sangat sulit untuk makan namun dia memaksa terus agar nasi itu habis.
__ADS_1
Setelah selesai makan dia Hendak meminta Tania menyimpan semua nya namun ternyata Tania sudah tidur.
Angga meletakkan sendiri ke atas meja. Dia memegang perut nya yang terasa sangat sakit sekali.
Keesokan harinya..
Angga terbangun karena suara rengekan Eki. "Hei!! Hentikan anak itu menangis!" ucap Angga membuat Tania yang Masih tidur terbangun.
Dia melihat Eki menangis dia langsung menenangkan walaupun dia belum sadar kan diri sepenuhnya.
"Maafkan anak saya Tuan." jawab Tania.
Angga seperti nya kesal sekali. Tania Menganti popok Eki yang sudah sangat penuh.
Setelah selesai mengurus Eki dia membantu Angga ke kamar mandi, dengan sekuat tenaga dia membantu Angga ke kamar mandi.
"Kenapa kau masih berdiri di sini? Kau mau melihat saya membuat air kecil?" ucap Angga dengan nada yang sangat ngegas.
Tania keluar. Angga Selesai dari kamar mandi dia membantu mengompres luka Angga yang di bagian kaki nya, tidak beberapa lama sarapan pun datang.
Angga makan sendiri, Tania pergi mengambil Air hangat untuk Tuan Angga.
"Permisi Tuan. Saya datang untuk menukar perban operasi Tuan." ucap suster. Angga menggeleng kan kepala nya.
"Bagaimana bisa Tuan melakukan nya?" tanya Suster. "Suster tidak perlu khawatir. Terimakasih." ucap Tania. Suster itu akhirnya keluar.
"Mari saya bantu Tuan." ucap Tania sambil menarik baju Angga ke atas.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Angga. "Saya akan membantu menukar perban Tuan." ucap Tania. Angga akhirnya membiarkan nya.
Tania terlihat sangat teliti sekali Membuka perban nya bahkan tidak terasa sakit sama sekali.
Angga menatap wajah Tania. "Kenapa harus wanita ini yang mirip kepada kamu Lidya? Dia sungguh wanita yang mengesalkan sekali. Dari awal saya sudah tidak suka pada nya." batin Angga.
"Tapi saya sangat merindukan kamu sehingga saya harus meminta dia di sini menemani saya." batin Angga.
"Tuan tau? Melihat luka di bagian perut seperti ini mengingatkan saya kepada almarhum Ibu saya." ucap Tania.
"Dia di tusuk pisau?" ucap Angga. Tania tersenyum sambil menggeleng kan kepala nya.
__ADS_1
"Usus buntu. Saya harus merawat nya sampai sembuh. Sekarang saya sangat merindukan momen itu." ucap Tania.
"Saya tidak meminta kau sedih. Berhenti bersedih!" ucap Angga langsung, Tania langsung tersenyum.
"Saya minta maaf." Dia sudah selesai merapikan semua alat-alat nya dan menyimpan nya.
Eki di hampiri oleh nya sangat senang sekali.
"Tuan!" panggil Tania. Angga menoleh ke arah Tania.
"Seperti nya anak Saya lapar Tuan. Saya akan membeli makanan nya di luar." ucap Tania.
"Pergi lah, saya tidak ingin mendengar suara anak itu!" ucap Angga. Tania permisi dan keluar meninggalkan Angga.
Dia menonton TV agar tidak Bosan, sudah setengah jam namun Tania tak kunjung kembali ke ruangan itu.
"Kemana dia? apa dia melarikan diri?" ucap Angga.
Angga melihat handphone nya berdering.
"Halo Beby.. Bagaimana keadaan kamu? Kamu kenapa baru menjawab telepon ku, aku sangat khawatir." ucap Livy.
"Aku baik-baik saja." ucap Angga.
"Aku sudah tau semua nya. Kenapa kamu membiarkan luka nya infeksi? Bagaimana kalau tidak bisa di selamat kan?" ucap Livy.
"Kamu tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja sekarang." ucap Angga. "Sayang aku sangat takut kehilangan kamu, aku mohon jaga kesehatan kamu." ucap Livy.
"Apa kamu tidak bisa datang untuk merawat ku?" tanya Angga. "Aku minta maaf sayang, aku tidak bisa datang karena kamu tau sendiri pekerjaan ku. Sebenarnya aku sangat ingin datang." ucap Livy.
Tidak beberapa lama Tania datang. Angga menoleh ke arah mereka. Sementara Tania yang mengetahui Angga berbicara lewat telpon dia meminta anak nya diam dan dia juga diam.
"Aku berdoa semoga kamu cepat sembuh yah Beby. sekali lagi aku minta maaf sekali tidak bisa datang." ucap Livy.
"Baiklah. Kamu jaga diri baik-baik di sana." ucap Angga.
"Ya udah kalau begitu kamu istirahat yah Beby, aku mau lanjut kerja. Bye sayang..." Panggilan pun langsung mati.
"Kalian dari mana saja? Kenapa begitu lama?" tanya Angga. Tania sedang memberikan cemilan pada Eki.
__ADS_1
"Eki mungkin merasa bosan di ruangan ini Saja tuan, Saya membawa nya jalan-jalan sebentar." jawab Tania.
"Ayo dong tinggalkan komentar, like dan juga jangan lupa Rate nya 🙏😇"