
"Mana mungkin saya melakukan itu Tuan. saya hanya membantu Tuan karena menangis sepanjang malam, badan tuan juga bergemetar." ucap Tania.
"Kamu adalah wanita seperti yang di luar sana! Membawa majikan nya ke kamar dan setelah itu menuduh yang tidak-tidak!" ucap Angga.
Tania terdiam. Angga keluar dari kamar itu namun ternyata ada Dara di depan pintu kamar yang hendak membangun kan Tania.
Dia membungkuk kan badan nya ketika Angga lewat. Dia hanya bisa diam dan terheran-heran melihat Angga pergi dengan keadaan yang berantakan dan terlihat sangat marah.
"Ada apa dengan Tuan Angga? Kenapa dia bisa di sini sepagi ini?" ucap Dara. Dia melihat Tania yang duduk di lantai.
"Apa yang terjadi Tania?" tanya Dara. Tania hanya diam.
"Sudah lupakan saja! Lebih baik kamu segera ke kamar mandi dan keluar untuk menyiapkan keperluan Tuan Angga." ucap Dara.
Dara keluar dan setelah mencuci wajah nya di kamar mandi dan memakai seragam nya.
Tania ragu-ragu membuka pintu kamar Angga. Dia sangat takut kalau Angga akan marah lagi kepada nya.
"Apa yang kamu tunggu Tania? Hari ini Tuan Angga harus bekerja lebih pagi." ucap Dara. "Ba-baik mbak." ucap Tania.
Tania masuk langsung ke kamar. Dia kaget melihat Angga yang duduk bersandar di kasur.
"Tuan kenapa belum mandi?" tanya Tania. Angga tidak merespon nya sama sekali.
"Ada apa Tuan?" tanya Tania melihat Angga menangis.
"Menjauh dari saya!" ucap Angga pada Tania yang hendak menyentuh nya.
Tania terdiam. "Saya minta maaf atas nama orang tua saya kepada Tuan." ucap Tania. Angga menatap wajah Tania.
"Kamu pikir dengan cara meminta maaf seperti ini bisa mengembalikan ibu dan juga Tunangan saya?" ucap Angga. "Saya tidak berfikir demikian Tuan. Tapi saya hanya ingin minta maaf, saya akan menebus semua kesalahan orang tua saya." ucap Tania.
"Nyawa harus di bayar nyawa." ucap Angga menatap Tania dengan tatapan tajam. Tania langsung terdiam. Dia menunduk kan kepala nya ketika Angga menatap nya dengan tatapan benci.
"Orang saya sudah meninggal. Semua harta peninggalan orang tua saya sudah habis, suami saya sudah pergi dan sekarang saya sudah menjadi pelayan di sini, apa itu Masih kurang Tuan?" ucap Tania.
"Kurang! Saya ingin kau mengembalikan Mata tunangan saya!" ucap Angga. Tania mendengar itu sangat takut sekali.
"Saya mohon Tuan jangan Meminta itu, saya bisa melakukan yang lain. Saya ingin melihat, saya ingin melihat dunia ini lebih lama lagi." ucap Tania.
__ADS_1
Angga menunduk kan kepala nya, dia tidak tega melihat mata Tania, dia sangat sedih melihat adiknya.
"Kau dan keluarga membuat saya kehilangan semua nya, semua yang berharga di kehidupan saya hilang. Itu semua karena keluarga mu!" ucap Angga.
"Saya minta maaf Tuan. Saya minta maaf." ucap Tania.
"Tidak ada gunanya kau meminta maaf, keluar dari kamar saya!" ucap Angga.
"Tapi Tuan saya harus menyiapkan pakaian tuan." ucap Tania.
"Saya tidak mau melihat wajah mu! Keluar!" ucap Angga.
Tania mau berbicara namun langsung di bentak.
"Keluar!" Suara Angga membuat Tania sangat terkejut dan takut. Dia memegang tangan nya dengan erat agar tidak terlalu gugup.
Dia pun keluar dari kamar nya itu. "Loh kenapa kamu keluar?" tanya Dara.
"Tuan Angga marah kepada saya mbak, saya di suruh keluar." ucap Tania.
"Oohh ya sudah kalau begitu kamu menyiapkan makanan saja. saya akan membantu Tuan Angga." ucap Dara.
"Ada apa Tania? kenapa kamu bersembunyi?" tanya Bibik yang Masak di dapur.
"Saya tidak boleh di lihat oleh tuan Angga bik," ucap Tania. Bibi menghela nafas panjang.
"Apa yang kamu lakukan lagi Tania? Kamu baru beberapa hari namun sudah membuat Tuan Angga marah Terus." ucap Tania.
"Aku bahkan tidak melakukan kesalahan-kesalahan yang sangat fatal, ini semua hanya karena masa lalu." batin Tania.
Angga duduk di meja makan bersama Dara dan juga Fani.
"Jam berapa Tuan pulang semalam?" tanya Fani. Angga diam. Dia Bertanya hanya ingin mencairkan suasana.
Mereka Makan tanpa Ada percakapan apapun. Tidak beberapa lama akhirnya selesai. Mereka pergi Tania langsung membersihkan semua nya.
Dua Minggu sudah Tania bekerja di sana. Selama dua Minggu itu dia tidak memunculkan diri nya di depan Angga.
Dan Tania berfikir kalau itu baik-baik saja karena Angga jauh lebih baik dari pada sebelumnya, karena dia juga tidak kena marah oleh Angga.
__ADS_1
Di Malam hari nya Tania berdiri di balkon kamar nya. "Eki dan Mona sekarang kabar nya bagaimana yah? Apakah Mona sudah keluar dari rumah sakit nya?" batin Tania.
"Atau jangan-jangan dia belum keluar karena belum cukup biaya nya." batin Tania. Namun dia kaget melihat ada mobil di depan rumah itu.
Dan ada orang yang memohon agar bisa masuk ke dalam.
"Loh itu kan Nada." batin Tania. Dia langsung turun ke bawah. Sampai di teras.
"Mau kemana kamu Tania? Kamu ingat kan perjanjian yang sudah di Buat kalau kamu tidak boleh keluar." ucap Dara.
"Ada teman saya di depan Mbak, dia membawa anak saya." ucap Tania. "Tuan Angga sedang di dalam, kamu harus meminta ijin Tuan terlebih dahulu." ucap Dara.
Tania ragu-ragu ingin meminta ijin. "Tapi mbak tau sendiri Tuan Angga tidak ingin melihat saya." ucap Tania.
"Saya sangat merindukan anak saya Mbak, saya mohon." ucap Tania. "Saya tidak bisa mengijinkan kamu, Tuan Angga akan sangat marah." ucap Dara.
Dara melihat tuan Angga datang dia membungkuk kan badan nya.
Tania terkejut melihat Angga, dia menundukkan kepalanya.
"Ijinkan wanita itu masuk!" ucap Angga. Tania mendengar itu sangat senang sekali.
"Tania...." Panggil Nada berlari membawa Eki yang juga tertawa melihat Tania mengejar nya.
Tania memeluk Eki sangat erat, Air mata nya keluar.
"Mamah sangat merindukan kamu nak." ucap Tania.
Nada sangat senang sekali bisa mempertemukan mereka.
Dara melihat Angga dengan wajah dingin. "Saya akan meminta mereka keluar tuan." ucap Dara, namun di tahan oleh Angga.
"Biarkan saja!" ucap Angga. Dara pun kembali berdiri di belakang Angga. "Kenapa kamu membawa Eki ke sini?" tanya Tania.
"Eki sudah dua hari sakit. Aku rasa dia sangat merindukan kamu." ucap Nada. Tania bisa merasakan Badan Eki yang panas.
"Ya Allah nak, maafin Mamah yah nak." ucap Tania. Dia mencium Eki. Eki menatap Mamah nya dengan tatapan bingung namun juga sangat senang sekali.
"Lalu bagaimana dengan Mona?" tanya Tania.
__ADS_1