
"Aku bosan mendengar kan ceramah mbak." ucap Mona meninggalkan Tania yang sedang menyiapkan sarapan.
"Ya Allah kenapa Mona tiba-tiba seperti ini yah?" batin Tania.
"Aku selalu melengkapi apa yang dia butuhkan." batin Tania. Hati nya sangat sedih melihat adiknya seperti itu.
Tidak beberapa lama dia melihat Mona keluar dari kamar dengan pakaian bermain dan membawa tas.
"Loh Mona kamu mau kemana?" tanya Tania.
"Aku mau jalan-jalan sama Tomi!" ucap Mona.
"Tidak bisa! Kamu jangan membuat mbak malu, kamu sudah tidak sekolah. Sama-sama bolos seperti Tomi. Mbak tidak mengijinkan kamu keluar." ucap Tania.
"Aku sudah sangat pusing mbak." ucap Mona. "Setidaknya kalau Kamu tidak sekolah bantuin mbak jagain Eki, kasian dia ikut mbak ke tempat kerja." ucap Tania.
"Aku capek mbak, aku juga sesekali ingin bermain-main." ucap Mona. "Tapi Tania ada waktu nya." ucap Tania. "Aku nya sekarang, aku pergi." ucap Mona langsung pergi karena Tomi sudah menunggu di luar.
Tomi adalah teman satu kelas Mona. Dia adalah anak geng motor. Dia anak yang cukup terkenal nakal di sekolah nya.
Mona dengan dia baru saja berpacaran sekitar satu bulan. Namun satu bulan saja sudah cukup berpengaruh buruk pada Mona.
Tania sudah memperingatkan Mona agar tidak terlalu dekat namun wajah tampan Tomi berhasil membuat Mona tidak mendengar kan nasehat mbak nya.
Tania menarik nafas dalam-dalam dan membuang nya menahan diri agar tidak terlalu emosi.
"Benar yang di katakan Mona, dia pasti butuh waktu untuk diri sendiri." ucap Mona.
Namun tiba-tiba Eki menangis dia langsung masuk ke dalam. Setelah selesai makan dia berangkat ke Butik.
Sampai di butik dia terlebih dahulu membuka toko.
Eki di gendongan nya sangat tenang tidak rewel sama sekali. Setelah datang karyawan yang lain dia pun ke ruangan penjahit.
Dia melihat Jas Angga yang belum setengah jadi. Dia menghela nafas panjang. "Aku kurang bersemangat membuat nya lebih baik aku mengerjakan yang lain saja." batin nya.
Dia meletakkan Eki di box nya dan setelah itu lanjut bekerja.
Di tempat lain Mona dan Tomi baru saja sampai di sebuah bangunan kosong yang di jadikan Tomi tempat markas nya bersama teman-teman nya.
"Kita ngapain ke Sini?" tanya Mona. "Sudah kamu ikut saja." ucap Tomi. "Tapi aku takut, tempat ini sangat kotor dan juga gelap." ucap Mona.
"Jangan banyak berbicara! Kalau kamu mau ikut diam, kalau tidak lebih baik kamu pergi!" ucap Tomi.
Mona pun diam sambil mengikuti Tomi naik ke Atas.
__ADS_1
Setelah sampai di atas dia sangat kaget melihat ternyata banyak anak motor lainnya di sana. Wajah nya sangat seram-seram sekali.
"Bos kenapa datang tidak Mengabari kami? Semua nya masih pada tidur." ucap pria yang berambut panjang dan banyak tato di sekujur tubuh.
"Kita ada misi hari ini. Kalian tidak perlu khawatir bayaran nya cukup tinggi." ucap Tomi. "Misi apa Bos?" tanya Pria gondrong itu.
"Ayah ku memiliki saingan dia berhasil membuat semua saham ayah ku bangkrut, kita harus membalas dendam dengan cara menghancurkan semua saham nya." ucap Tomi.
"Kami setuju bos, sudah lama kita menganggur." ucap mereka bersama. Tomi tertawa. Dia melemparkan beberapa lembar uang pada Anak buah nya.
Dan setelah itu dia pun langsung keluar.
"Tomi! Tomi!" tahan Mona. "Ada apa lagi sih? Kamu dari tadi tidak berhenti protes."' ucap Tomi.
"Misi yang kamu lakukan sangat berbahaya, Lebih baik jangan." ucap Mona. "kamu tidak perlu ikut campur, kalau tau seperti ini aku tidak Akan membawa kamu." ucap Tomi.
Mona langsung terdiam.
"Ayo buruan naik." ucap Tomi. Mona pun akhirnya naik.
Dia ikut saja Tomi membawa nya kemana.
Tepat jam dua belas siang.
"Ada apa?" tanya Angga.
"Pak Deri sudah dekat Tuan." ucap Dara. "Baiklah." ucap Angga dia menutup Laptop nya dan langsung berjalan terlebih dahulu sementara Dara dan Fani di belakang nya.
Tidak beberapa lama akhirnya Pak Deri sampai dengan wanita cantik di samping nya.
"Angga.." Pak Deri langsung memeluk Keponakan nya itu.
Angga hanya tersenyum dan membalas pelukan Pria yang sudah lanjut usia itu.
Namun mata nya tertuju pada wanita yang menunduk kan pandangan nya.
"Bagaimana kabar Paman?" ucap Angga. "Baik. Kamu bagaimana? Tidak terasa kamu sudah sedewasa ini sekarang." ucap Pak Deri.
Angga tersenyum. "Silahkan duduk Paman." ucap Angga.
"Baiklah, terimakasih." Mereka duduk di sofa.
Angga melihat wanita yang duduk di samping Pak Deri.
"Oh iya kenalin ini adalah anak pertama Paman nama nya Nina, kamu pasti tidak pernah bertemu dengan nya karena dia baru saja kembali dari luar negeri." ucap Paman Deri.
__ADS_1
Angga langsung menjulurkan tangannya pada Nina.
"Perkenalkan nama saya Angga." ucap Deri. Nina menoleh ke arah ayah nya. Ayah nya tersenyum sambil mengangguk.
Nina pun membalas jabatan tangan Angga.
"Senang berkenalan dengan Bapak." ucap Nina.
Angga Menghela nafas panjang.
"Saya tidak Setua itu, kamu bisa memanggil saya dengan sebutan Angga. Kita juga saudara." ucap Angga.
"Huff giliran wanita cantik saja Tuan Angga langsung modus." ucap Dara pada Fani yang berdiri jauh dari ruang tamu.
"Sudah biasa." ucap Fani.
"Kedatangan Paman ke sini kamu pasti sudah tau bukan?" ucap pak Deri.
"Paman tenang saja, permintaan paman sudah saya siapkan." ucap Angga. Pak Deri tersenyum.
Tidak beberapa lama Fani dan Dara datang membawa dua koper uang pada paman Deri.
"Paman bisa membawa nya pergi." ucap Angga. "Terimakasih banyak Angga. Untuk saat ini Paman hanya bisa meminta bantuan kamu." ucap Pak Deri.
Angga hanya tersenyum Santai Saja. Cukup lama paman nya di sana dan setelah itu mereka ijin pergi.
Angga Menghela nafas panjang.
"Uang yang tuan berikan bukan jumlah yang sedikit, apa Tuan tidak khawatir uang itu tidak kembali?" tanya Dara.
"Saya sudah membeli saham-saham nya, saya tidak mengkhawatirkan uang itu tidak kembali karena saya tidak mengharapkan itu." ucap Angga.
"Uang yang saya berikan pada nya tidak sebanding dengan kebaikan dia kepada saya dulu. Dia membesar kan saya sampai saya bisa seperti ini karena dia." ucap Angga.
Dara dan Fani tidak tau banyak mereka memilih untuk Diam saja.
"Kalian berdua ikut dengan saya ke Butik." ucap Angga.
"Ke butik Tuan?" ucap Dara.
"Saya ingin melihat Pembuatan Jas saya." ucap Angga.
"Hari ini saya bertemu beberapa rekan kita Tuan." jawab Fani.
"Saya belum menyelesaikan pekerjaan yang Tuan berikan." ucap Dara lagi. Angga Menghela nafas panjang mendengar masing-masing alasan mereka.
__ADS_1