
"Anak bayi seperti ini seharusnya minum Asi, itu jauh lebih Bagus." ucap Angga. Tania terdiam.
"Kau sama sekali tidak bisa menjadi orang tua, Namun sudah langsung menikah, anak sekecil ini menjadi korban di pernikahan kalian!" ucap Angga lagi.
"Lain kali jika melakukan sesuatu pikirkan baik-baik." ucap Angga. Tania merasa sangat malu sekali di nasehati oleh orang yang lebih muda dari dia.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah. Dara dan juga Rendi sudah menunggu dari tadi.
"Biar saya saja Tuan." ucap Tania pada Angga mau mengambil Eki, namun Eki bergeliat ketika Tania baru saja memegang tangan nya.
Angga Menghela nafas panjang dia segera turun dari mobil dan membawa Eki dengan hati-hati.
"Apa! Tuan Angga bisa mengendong bayi? Ini sesuatu yang sangat mengejutkan sekali!" ucap Dara.
"Ternyata Tuan Angga sangat Cocok yah Kalau menjadi ayah." ucap Rendi. Dara menganguk. Angga melewati mereka begitu saja. Tania hanya tersenyum kepada dara membungkuk badan nya sedikit dan mengikuti Angga.
"Buka pintu kamar ini!" ucap Angga. Tania membuka pintu kamar nya. Angga ingin meletakkan Eki di kamar itu agar dia tidak di ganggu lagi.
Angga memastikan dulu Kalau Eki tidur, setelah itu dia meletakkan di kasur. "Jangan bangun.." ucap nya.
Dan Eki pun tidak bangun dia tidur dengan nyenyak setelah di letakkan di kasur.
Angga merenggangkan otot-otot nya terasa pegal. Bukan karena berat namun karena tidak bisa menggerakkan nya dengan bebas.
Angga menoleh ke arah Tania yang menyelimuti Eki. "Saya akan keluar." ucap Angga. Tania menoleh ke arah Angga.
"Tunggu Tuan." ucap Tania. "Ada apa?" tanya Angga Menatap Tania.
"Saya mau mengucapkan terimakasih pada Tuan. Sekarang Eki bisa tenang dan tidur dengan nyaman. Setelah dia sembuh saya akan membiarkan nya kembali lagi ke rumah Bibik saya." ucap Tania.
"Humm baiklah, jangan karena dia kau jadi lalai akan tugas mu!" ucap Angga. Tania menganguk.
Angga Keluar dari ruangan itu.
Tania tersenyum. Keesokan harinya...
Angga bangun karena merasa ada seseorang yang masuk ke dalam kamar nya dan membuka gorden. Namun dia tidak bangun langsung karena setiap hari dia harus berpura-pura tidak bangun ketika Tania masuk ke kamar nya.
Berpura-pura tidak melihat Tania. Setelah Tania selesai membuka gorden dan menyiapkan air mandi hangat dan menyiapkan baju Angga dia keluar.
__ADS_1
"Tunggu dulu!" ucap Angga. Tania kaget dia terdiam di tempat di depan pintu.
Angga perlahan bangun dan duduk di kasur melihat ke arah Tania.
"Kau tidak perlu membangun kan saya secepat ini karena tidak ingin menunjukkan diri." ucap Angga. Tania berbalik. "Saya minta maaf Tuan. Saya hanya tidak ingin membuat Tuan tidak nyaman." ucap Tania.
"Jangan melakukan hal seperti ini lagi karena saya tidak nyaman." ucap Angga. Tania menunduk kan kepala nya.
"Hari ini saya ada pertemuan penting di luar. Saya ingin memakai Jas yang baru saja kamu jahit." ucap Angga.
Tania terdiam.
"Saya tau kalau kamu sudah menyelesaikan satu Jas bukan? Saya akan membeli itu." ucap Angga. Angga diam-diam masuk ke ruangan penjahit dan melihat jas yang begitu Bagus.
Tidak beberapa lama Dara datang membawa kan nya dan setelah itu keluar.
"Berapa saya membeli ini?" tanya Angga.
"Humm tuan tidak perlu membayar nya. Saya akan memberikan ini kepada Tuan sebagai tanda terima kasih saya. Sekarang Eki sudah sembuh." ucap Tania.
Angga turun dari kasur, dia mendekati Tania. "Ketika saya berbicara tatap saya, dan ketika kau berbicara tatap saya, saya di sini bukan di lantai itu!" ucap Angga.
"Tatap saya!" ucap Angga mengangkat dagu Tania. Namun Tania menutup mata nya.
"Kenapa? Apa kau takut saya akan mengambil mata itu kembali?" tanya Angga. Tania hanya diam sambil meringis kesakitan karena Angga mencekam dagu nya begitu kuat.
"Buka mata mu!" ucap Angga dengan suara yang sangat keras. "Papah... Papah..." Eki tiba-tiba datang masuk ke kamar merangkak.
Angga melepaskan Tania dengan kasar karena melihat Eki.
"Eki.. Kenapa kamu ada di sini nak?" tanya Tania langsung mengendong Eki.
Eki melihat ke arah Angga sambil tersenyum. Dia berceloteh membuat Angga fokus mendengar kan nya.
Angga mau Memeriksa suhu badan nya namun Eki mengira Akan di gendong. "Saya akan Telat kalau mengendong kamu!" ucap Angga mau pergi namun Eki merengek.
Angga yang sangat pusing mendengar Eki menangis langsung membawa nya ke pelukan nya.
"Sebaiknya Tuan langsung mandi saja, saya akan membawa nya." ucap Tania. Angga melihat jam. "Masih ada waktu satu jam lagi. Siap kan sarapan untuk Saya." ucap Angga.
__ADS_1
Tania menganguk. Dia keluar dari kamar itu dia sudah sangat takut kalau Angga marah lagi kepada nya.
Angga meletakkan Eki di atas kasur. Dia berbaring di samping Eki.
"Humm apa yang kau lakukan?" tanya Angga karena Eki memanjat ke perut nya. "Menjauh dari saya!" ucap Angga pada Eki.
Eki terdiam karena Angga menyenggak nya. "Kau membuat saya risih!" ucap Angga.
Eki berbaring diam di samping Angga. "Kenapa dia diam saya marahi? biasanya dia tertawa." batin Angga.
"Hey! Hey!" panggil Angga. Dia menatap wajah Eki.
"Apa dia Masih lemas?" batin Angga.
"Baiklah-baiklah kau boleh duduk di perut saya!" ucap Angga. dia langsung menggendong Eki duduk di Perut nya.
Eki tersenyum. "Dia seperti nya masih sangat lemas sehingga saya tidak mendengar suara tertawa nya hari ini." ucap Angga.
Dia menatap wajah Eki terus yang mau mengigit tangan nya.
"Dia sangat mirip dengan Wanita itu, namun mata nya sangat tidak mirip!" ucap Angga.
"Permisi Tuan." Tania datang membawa sarapan.
Angga menoleh ke arah Tania.
"Apa kau sudah memberikan anak ini sarapan?" tanya Angga. "Belum Tuan." ucap Angga. "Apa ini bubur untuk dia?" tanya Angga melihat di samping mangkuk sarapan nya.
Iyah Tuan, saya akan membawa nya keluar agar Tuan bisa sarapan dengan tenang." ucap Tania.
"Biar di sini saja!" ucap Angga. "Kenapa Tuan membiarkan Eki duduk di sini, Operasi Tuan belum sembuh total." ucap Tania.
Dia memindahkan Eki dan menaikkan sedikit baju Angga memeriksa luka Angga. "Setelah Tuan mandi saya akan membuka perban nya." ucap Tania.
Angga menatap wajah Tania dengan dekat. Tania tidak sengaja menatap wajah Angga, mata mereka bertemu pandangan terkunci.
"Mamah... papah..." Celoteh yang hanya bisa keluar dari mulut Eki.
Tania memalingkan pandangannya. "Tuan sebaiknya sarapan." ucap Tania. Angga berusaha untuk duduk.
__ADS_1