
"Banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan mungkin tuan. Lagian dia datang ke sini tidak sendirian melainkan dengan teman nya yang bernama Nada." ucap Fani.
"Nada?" ucap Angga.
"Kata nya sih dia mau menjual pakaian yang sudah dia jahit." ucap Dara. Angga diam.
"Ya sudah kalau begitu saya kembali bekerja yah Tuan." ucap Fani. Angga menganguk.
Angga mengambil Ponsel nya menghubungi Tania namun tidak aktif.
"Kemana dia? Kenapa nomor nya tidak aktif? Apa jangan-jangan dia bertemu dengan Aris?" batin Angga. dia melihat bekal itu membuka nya ternyata bukan masakan Tania.
"Apa-apaan ini!" ucap nya kesal.
Di tempat lain Nada sedang memajang pakaian yang di jait oleh Tania.
"Aku ingin deh kamu segera kembali bekerja bersama ku, Butik sudah mulai sepi lagi karena jahitan kamu hanya sedikit." ucap Nada.
"Aku hanya menjadikan ini pekerjaan sampingan aku." ucap Tania.
"Iyah aku paham kok." ucap Nada.
"Ya udah kalau begitu aku langsung pulang yah." ucap Tania.
Nada menahan tangan Tania.
"Aku mau bicara dulu sama kamu." ucap Nada.
"Aku harus segera pulang. Tuan Angga pasti mencari aku." ucap Tania.
"Duduk dulu." ucap Nada pada Tania.
"Kamu sengaja menghindari aku, apa aku membuat kesalahan sama kamu? Atau jangan-jangan kata-kata aku menyinggung kamu?" tanya Nada.
Tania menggeleng kan kepala nya. "Tidak biasa nya kamu seperti ini. Banyak diam dan berbicara hanya yang penting saja. Aku yakin kamu memiliki masalah kepada ku." ucap Nada.
Tania menggeleng kan kepala nya. "Aku hanya tidak cukup ceria saja. Mungkin karena kurang istirahat." ucap Tania.
"Tiap kita bertemu biasa nya kamu menceritakan bagaimana keseharian kamu di rumah tuan Angga." ucap Nada.
"Semua nya baik-baik saja." ucap Tania.
"Aku cemburu deh sama kamu Tania Bisa bertemu dan terus satu ruangan dengan Tuan Angga." ucap Nada.
__ADS_1
"Kamu bisa-bisa nya cemburu kepada ku Nada sementara kamu sudah memiliki kehidupan yang begitu sempurna, di sukai banyak pria termasuk Aris." batin Tania.
"Kok kamu diam sih?" tanya Nada. "Enggak kok." ucap Tania.
"Akhir-akhir ini untuk melihat tuan Angga sulit sekali. Dia di. jaga banyak bodyguard sehingga penggemar nya tidak ada yang bisa dekat dengan nya." ucap Nada.
"Tuan Angga sudah memiliki kekasih, kenapa kamu malah menyukai nya? Bukan nya sudah jelas ada pria yang suka sama Kamu, baik, tampan dan juga kaya." ucap Tania.
"Yang kamu maksud Aris kan?" ucap Nada. Tania diam.
"Apa kamu tau kalau Aris meminta ku menjadi kekasih nya?" tanya Nada.
"Sebelum dia menjumpai kamu dia memberi tahu aku. Dan aku yakin sekarang kalian sudah jadian, selamat yah." ucap Tania. Nada menggeleng kan kepala nya.
"Aku tidak jadian dengan Aris. Aku tidak menyukai Aris karena aku hanya menyukai Tuan Angga." ucap Nada.
"Maksud kamu? Apa kamu dengan Aris tidak pacaran?" tanya Tania. Nada menganguk.
"Dia sih memang baik, ganteng dan juga ramah dan sangat mudah di gapai, Tapi kamu tau sendiri aku menyukai tuan Angga sudah sangat lama." ucap Nada.
"Tunggu dulu deh.. Kenapa aku lebih cemburu ketika Nada mengatakan menyukai Tuan Angga dari pada memuji Aris?" ucap nya dalam hati.
"Aku juga mau minta maaf kepada kamu karena aku mengetahui privasi kamu dari buku diary itu." ucap Nada.
Nada terdiam. "Aku tidak terlalu menyukai nya sekarang, aku sudah mulai hilang rasa karena seperti nya kita hanya cocok menjadi teman." ucap Tania.
"Jangan bilang kamu sudah mengincar pria lain?" ucap Nada. Tania tersenyum. "Sudah ku tebak, apa kah dia baik? Apa kah dia sayang kepada anak kamu?" ucap Nada.
"Belum pasti sih, hanya saja aku bisa melupakan Aris." ucap Tania.
"Secepat itu? Tidak mungkin deh." ucap Nada. Tania tersenyum.
"Aris masih Lajang, Tidak mungkin dia menikah dengan janda seperti ku." ucap Tania.
Cukup lama Tania di sana akhirnya dia pamit takut Angga sampai di rumah duluan.
Di sore hari nya Angga sudah pulang semua nya berdiri di tempat masing-masing menyambut Angga.
Tania berdiri di depan. Angga keluar dari dalam mobil memasang wajah cemberut. Tatapan tajam kepada Tania sehingga membuat semua orang takut.
"Kesalahan apa yang sudah di lakukan oleh Tania? Kenapa kelihatan nya Tuan Angga marah kepada Tania?" batin Dara.
Tania menerima Tas dan juga Bekal makanan Angga. Setelah itu Angga melewati nya begitu saja.
__ADS_1
Tania merasakan Bekal nasi yang di bawa pulang oleh Angga Masih berat. Dia membuka nya ternyata tidak berkurang sedikit pun isi nya.
Tania mengejar Angga.
"Tuan! Kenapa tuan tidak menghabiskan makan siang Tuan?" tanya Tania.
Angga tidak menjawab Tania. Angga masuk ke kamar nya. Tania juga mengikuti nya. Dia menutup pintu agar tidak ada yang melihat mereka.
"Tuan kenapa tidak menjawab saya?" tanya Tania. Angga tetap diam memasang wajah datar campur cemberut.
Tania bingung. "Saya minta maaf tidak mengantarkan langsung kepada Tuan karena saya membutuhkan uang cepat untuk di berikan kepada adik saya." ucap Tania.
Angga duduk di pinggir kasur membuka Jas, melonggarkan dasi dan membuka kancing yang ada di pergelangan nya.
"Apa Tuan semarah itu kepada saya?" tanya Tania.
"Saya tidak akan mengulangi kesalahan lagi Tuan. Maafkan saya." ucap Tania.
Angga menatap Tania sekilas dan fokus pada handphone nya. Tania tidak tau dengan cara apa membujuk Angga akhirnya dia mengarahkan wajah Angga kepada nya dan mencium bibir Angga.
Angga tidak menolak sama sekali. Tania Mencium bibir Angga yang tidak menolak tapi tidak juga membalas nya.
Tania melepaskan nya menatap Angga yang juga menatap nya.
"Kenapa kamu tidak memasak untuk saya? Kalau kamu tidak bisa datang setidaknya kamu mengabari saya, saya menghubungi nomor kamu tidak aktif." ucap Angga.
Tania memegang wajah Angga dengan kedua tangan nya.
"Handphone saya mati-mati Tuan. Saya tidak masak karena Bibik sudah masak, saya merasa tidak enak kalau memasak makan siang untuk Tuan sendiri." ucap Tania.
Angga mengambil handphone Tania.
"Ini bukan Ponsel yang saya berikan." ucap Angga.
"Maafkan saya Tuan, saya memberikan Handphone pemberian tuan kepada adik saya karena dia jauh lebih membutuhkan nya." ucap Tania.
Angga Menghela nafas panjang. Angga menarik pinggang Tania lebih dekat dan memeluk nya.
"Kamu membuat saya tidak fokus bekerja, Emosi saya memenuhi pikiran saya." ucap Angga.
Tania membawa pelukan Angga.
"Aku tidak ingin melepaskan pelukan yang begitu nyaman ini." batin Tania.
__ADS_1