
"Tapi jas yang dia minta belum selesai. Baru satu, dan uang jas itu sudah habis." ucap Tania.
"Untuk keselamatan Adik kamu Pakai saja dulu." ucap Nada.
"Baiklah aku janji akan segera bekerja kembali dan membuat semua permintaan tuan Angga." ucap Tania.
Dia pulang dari sana membawa uang deposit rumah sakit Adik nya.
Sesampainya di rumah sakit dia sangat syok mendengar keadaan Adik nya semakin buruk. "Kenapa kamu begitu lama Tania? Sekarang Mona semakin kritis." ucap Bibi angkat nya.
Tania belum ada duduk dia langsung ke kasir. "Saya mohon dok selamat kan Adik saya." ucap Tania. dokter menganguk.
Angga memutuskan untuk memaksa diri nya untuk pulang karena dia merasa tubuhnya sudah jauh lebih baik. Dan semakin lama di rumah sakit membuat dia kurang nyaman bertemu dengan suster yang berganti-ganti masuk memeriksa dia.
"Apa keadaan Tuan sudah benar-benar baik?" tanya Dara menoleh ke arah Angga yang duduk di belakang.
"Apa kamu tidak melihat keadaan saya? Saya jauh lebih baik sekarang!" ucap Angga. Dara pun memilih untuk diam.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah. Semua orang sudah menyambut nya dengan baik. Bodyguard siap membantu nya berjalan namun dia menolak nya dan berjalan ke dalam seperti biasa.
Bahkan semua orang melihat nya Heran. "Apa benar Tuan Angga baru selesai operasi? Luka di kaki nya juga cukup serius." ucap Pelayan.
"Kalian tau sendiri Tuan Angga tidak pernah mau menunjukkan bahwa dia sedang dalam masalah, seperti sedih, sakit atau apalah itu. Dia hanya mempunyai sifat yang sama yaitu pemarah dan juga dingin." ucap Dara.
"Sudah-sudah, jangan berkumpul di sini, kembali bekerja!" Tiba-tiba kepala pengawal datang.
Nama nya Rendi. Dia cukup jarang di rumah karena dia tidak hanya mempunyai tanggung jawab mengatur bawahan nya namun semua urusan bos nya dia harus campur tangan.
Tidak heran kalau semua yang bekerja dengan Angga mempunyai gaji yang sangat tinggi, pekerja di sana bukan orang sembarangan. mereka tidak hanya khusus memasak namun harus bisa menunggu tamu atau menjelaskan beberapa bisnis yang di jalan kan oleh bos nya ketika Tamu datang.
Karena rumah itu sudah seperti kantor Angga. Dia sangat jarang ke perusahaan nya dua tahun ini, dia tiba-tiba dia sangat membenci bertemu orang baru, bertemu dengan keramaian.
"Kamu baru saja pulang?" tanya Dara pada Rendi. Rendi menganguk.
Di dalam kamar Angga dia membuka kemeja nya dan melemparkan nya ke sembarangan arah. Angga mengingat Tania membuat nya sangat marah sekali.
"Tidak ada orang yang berani mengabaikan saya, tidak ada orang yang berani membohongi, mempermainkan dan tidak mematuhi perintah saya!" ucap Angga sambil melihat pantulan diri nya di cermin.
__ADS_1
"Namun wanita itu. Dari awal dia sudah sangat menyebalkan, tidak mempunyai sopan santun, dan juga tidak bisa bekerja dengan baik." ucap Angga.
Tangan nya memegang bekas operasi nya.
"Tok!! Tok!! Tok!!" tiba-tiba bodyguard nya masuk.
"Maaf Tuan saya mengganggu."
"Ada apa?"
"Pria yang menusuk Tuan sudah kami bawa ke markas." ucap Bodyguard. "Berikan hukuman dua kali lipat dengan apa yang dia lakukan! Dan jangan sampai bos nya tau. Kita lihat sampai mana permainan nya." ucap Angga.
"Baik Tuan. Saya mohon diri!" dia langsung keluar meninggalkan Angga. "Paman Deri berfikir kalau aku sangat bodoh." ucap Angga.
Dia sudah tau Paman nya hanya berpura-pura baik pada nya sementara dia sangat ingin membunuh keponakan nya itu.
Selain itu dia juga menginginkan Keuntungan dari Angga. Mereka bekerjasama bahkan keuntungan di bagi berdua, namun paman nya itu sama sekali tidak merasa puas.
Dia sangat ingin menguasai perusahaan dan semua aset Angga.
Angga duduk di sofa kamar nya. Dia menelpon Dara agar datang ke kamar nya.
"Batal kan pemesanan Jas di butik itu, minta kembali uang yang sudah kamu kirim kepada butik itu!" ucap Angga.
"Baik Tuan." ucap Dara.
"Jangan lupa berikan surat teguran kepada butik itu. Sebar kan berita kalau pelayanan mereka kurang bagus, dan penjahit nya tidak mempunyai sopan santun." ucap Angga..
"Tapi Tuan."
"Tidak ada protes. Saya tidak akan membiarkan wanita itu pergi dengan mudah" ucap Angga. "Baik Tuan. Kalau begitu saya mohon diri." Dara keluar dari sana.
Dia menghubungi Nada waktu itu juga. Nada yang baru saja istirahat setelah menulis semua bahan-bahan yang baru masuk melihat handphone nya bunyi.
"Mbak Dara? Apa dia akan menambah pesanan lagi? Wahh ini adalah rejeki." ucap Nada.
"Halo selamat siang Mbak Dara, ada yang bisa Saya bantu?" tanya Nada.
__ADS_1
"Tuan Angga tiba-tiba membatalkan pembuatan Jas. Dia meminta kembali uang yang sudah di kirimkan." ucap Dara.
Nada terdiam sejenak. "Saya ingin uang nya kembali malam ini juga, agar saya bisa memberikan laporan kepada Tuan Angga." ucap Dara.
"Tapi bagaimana bisa seperti ini Mbak? Bukan nya sebelum nya sebelum nya sudah sepakat? Bahkan penjahit saya sudah ada di rumah Tuan Angga.
"Penjahit nya tidak bertanggung jawab, dia meninggal kan Tuan Angga, pergi begitu saja, bahkan tidak menyelesaikan jahitan nya." ucap Dara.
"Dia sudah mengatakan kalau adik nya kecelakaan. Tidak mungkin penjahit saya tidak bertanggung jawab." ucap Nada.
Namun tiba-tiba Handphone di ambil oleh Angga.
"Kembali kan uang saya, dan saya pastikan kalau saya tidak akan membiarkan semua ini begitu saja!" ucap Angga langsung mematikan sambungan telepon.
Dara hanya bisa diam. "Apa yang kamu lakukan di sini? Segera lakukan apa yang saya suruh!" ucap Angga.
"Ba-baik Tuan." ucap Dara. "Tunggu dulu!" ucap Angga.
Dara menghentikan langkahnya.
"Bawakan saya beberapa minuman favorit saya." ucap Angga. Dara menatap Angga dan melihat ke bekas operasi nya.
"Tuan baru saja selesai operasi. Tidak baik jika Tuan minum-minuman beralkohol." ucap Dara.
"Kamu berani membantah dan mengatur saya?" ucap Angga.
"Maafkan saya Tuan, saya akan segera membawa kan nya." ucap Dara. Dia permisi dan langsung pergi.
Di butik Nada sudah sangat pusing sekali bagaimana cara mengembalikan uang Angga yang sudah dia berikan semua pada Tania.
"Aku sungguh sangat bodoh sekali! Bagaimana bisa aku menghabiskan semua penghasilan hanya untuk Bahan." ucap nya merutuki kesalahan nya.
Dia tidak berfikir kalau akan seperti ini. Karena berfikir akan semakin ramai dan juga tidak bolak-balik belanja akhirnya dia berbelanja sebanyak mungkin.
Sekarang dia sangat pusing sekali.
Dia hari ini harus membayar semua gaji karyawan nya.
__ADS_1
"Lagian Tania kenapa harus membuat Tuan Angga marah sih?" ucap Nada.