
"Berbelanja?" tanya Angga.
"Iyah.." jawab Tania.
"Baiklah. Kamu kabarin saja." ucap Angga. Tania menganguk.
"Kalau begitu aku turun dulu yah." ucap Tania. Angga menganguk. Mereka melambaikan tangan dan berpisah.
"Ya ampun kenapa jantungku tidak berhenti berdetak dari tadi? Aku sudah lama bersama Tania, namun seperti baru Pdkt saja." batin Angga.
Akhirnya dia meninggal kan Butik. sepanjang perjalanan dia tidak berhenti tersenyum karena sangat senang.
"Aku tidak sabar memiliki Tania seutuhnya, membuktikan ke semua orang kalau cinta kita itu Nyata dari hati." batin Angga.
Di rumah Nada..
"Nada kenapa tidak keluar juga yah Mah?" tanya papah nya.
"Mungkin dia masih mau di kamar Pah, biarkan saja, nanti kalau mau keluar dia pasti keluar sendiri." ucap Mamah nya.
"Permisi Bu.." Aris baru saja datang.
"Loh nak Aris ngapain ke sini? gak boleh ke sini Dulu nak." ucap Orang tua Nada.
"Aku mau bertemu dengan Nada Bu, dia di mana?" tanya Aris. "Ada di kamar nya, dari kemarin dia tidak mau keluar dari Kamar nya." ucap Orang tua Nada.
"Boleh aku bertemu dengan dia Bu? aku mohon Bu " ucap Aris.
"Tapi kalian belum boleh bertemu." ucap calon mertua nya itu.
"Apa kalian memiliki masalah? Kalian berantem?" tanya papah Nada. Aris terdiam.
"Apa yang kalian ribut kan? Kenapa kalian berantem di saat sudah mau menikah seperti ini?" tanya Mamah nada.
"Nada salah paham Bu, bagaimana aku cara menjelaskan itu kepada nya?" ucap Aris.
"Sebaik nya kalian menyelesaikan masalah kalian terlebih dahulu kalau begitu." ucap Mamah Nada.
Aris di ijinkan untuk bertemu dengan Nada.
"Tok!! Tok!! Tok!!" Aris mengetuk pintu kamar Nada.
"Nada buka pintu nya, kita bicara kan ini baik-baik." ucap Aris.
"Tidak ada yang mau di bicarakan lagi, aku tidak mau bertemu dengan kamu lagi, pergi dari sini!" ucap Nada.
"Di luar banyak keluarga kamu Nada, ayo bicarakan ini baik-baik, aku mohon..." ucap Nada. Namun Nada tidak merespon nya sama sekali.
"Nada buka pintu nya nak, coba bicarakan baik-baik dulu, kalau ada masalah jangan lari dari masalah, selesai kan dulu, malu Sama keluarga." ucap papah nya.
__ADS_1
Nada yang mendengar orang tua nya sudah bicara dia takut akhirnya membuka pintu.
"Kamu dengerin penjelasan aku dulu." ucap Aris.
"Mamah sama papah akan turun ke bawah, kalian bicarakan saja." ucap orang tua Nada.
Nada mengangguk, Aris sama-sama ikut Menganguk juga.
"Nada..." Aris memegang tangan Nada, namun Nada menepis tangan Aris.
"Kamu tidak bisa di percaya sama sekali, kenapa kamu begitu jahat kepada ku?" tanya Nada.
"Kamu salah paham, itu tidak seperti yang kamu lihat. Aku tidak sengaja bertemu dengan dia." ucap Aris.
"Tidak sengaja lalu menonton bioskop sama-sama tanya Nada.
"Bukan seperti itu Nada, kami bukan hanya berdua." ucap Aris.
"Aku tidak mau tau, aku juga tidak mau membahas ini." ucap Nada.
"Jangan berbicara seperti itu Nada." ucap Aris. Nada menatap Aris.
"Lalu aku harus berbicara seperti apa lagi? Kamu membuat aku tidak percaya kepada kamu, aku ingin membatalkan pernikahan kita." ucap Nada.
Aris menggeleng kan kepala nya.
"jangan... aku mohon jangan Nada." ucap Aris.
"Aku selalu berhubungan baik dengan semua mantan ku, kamu jangan salah paham dengan itu, kami hanya ingin berteman." ucap Aris.
"Aku tidak suka, aku cemburu aku tidak mau menikah dengan pria yang memiliki teman perempuan yang sangat banyak." ucap Nada.
Aris menghela nafas panjang.
"Aku mencintai kamu, aku hanya yakin untuk menikahi dan mencintai kamu seumur hidup." ucap Aris.
"Aku ingin membatalkan pernikahan kita ini." ucap Nada.
"Nada jangan berbicara seperti itu Nada." ucap Aris.
"Bukan hanya keluarga kamu yang malu, keluarga ku juga pasti marah, semua undangan sudah di sebarkan. Mana mungkin hanya karena hal sepele kita tidak jadi menikah." ucap Aris.
Nada Menghela nafas panjang, dia mengusap wajah nya.
"Aku sangat membenci hal seperti ini." ucap Nada.
"Baiklah aku akan menjauhi mantan ku, aku tidak akan pernah berhubungan lagi dengan semua teman-teman perempuan ku demi kamu." ucap Aris.
Nada menggeleng kan kepala nya.
__ADS_1
"Kamu hanya berbicara di depan ku Saja seperti ini, aku tidak tau di belakang ku seperti apa." ucap Nada.
"Aku mau istirahat, aku tidak mau berbicara dengan kamu lagi, kita hanya bisa terus berdebat." ucap Nada.
"Sebaiknya kamu pulang." ucap Nada.
Aris menggeleng kan kepala nya.
"Aku tidak akan pulang sebelum masalah nya selesai." ucap Aris.
"Tidak ada jalan keluar dari masalah ini." ucap Nada..
Aris memohon dan mencoba menjelaskan namun Nada sama sekali tidak percaya dia mengabaikan Aris.
"Baiklah Kalau kamu tidak percaya kepada ku, tapi aku tidak mau membatalkan pernikahan kita." ucap Aris.
"Aku minta maaf sudah membuat kamu seperti ini, aku sudah jahat kepada kamu, aku benar-benar minta maaf kepada kamu." ucap Aris.
"Pulang!" ucap Nada. Aris berdiri dari duduknya. "Aku permisi." ucap Aris dengan wajah yang sangat kecewa di Pergi meninggalkan Nada.
Setelah Aris pergi Nada menghela nafas panjang.
"Aku berusaha untuk menjaga hati, menjaga sifat dan juga pandangan demi kamu, tapi kamu membalas ku dengan penghianatan." ucap Nada.
"Bu, Pak, aku permisi untuk pulang dulu yah." ucap Aris.
"Kamu sudah mau pulang nak?" tanya calon mertua nya.
"Iyahh Bu." ucap Aris menyalim tangan mereka berdua.
"Bagaimana dengan nada?" tanya orang tua nya. Aris menghela nafas panjang.
"Aku rasa butuh waktu untuk membuat Nada paham." ucap Aris.
"Kamu yang sabar yah, adapun masalah di antara kalian berdua jangan sampai kalian ribut hebat, dan mengambil keputusan yang salah yah nak." ucap Orang tua Nada.
"Iyah Bu, kalau begitu aku pergi dulu yah." ucap Aris.. Akhirnya dia pergi meninggalkan rumah istri nya itu.
"Huff..." Dia masuk ke dalam mobil dengan perasaan yang tidak enak.
Nada kembali ke kamar nya.
"Kalau kamu membutuhkan sesuatu kamu Bisa ngomong sama mamah." ucap Mamah nya kepada Nada yang hendak masuk ke dalam kamar.
"Aku baik-baik saja Mah." ucap Nada. Baru saja masuk tiba-tiba dia di telpon oleh Dara.
"Dara? Kenapa dia menelpon ku? Apa ini tentang Tuan Angga?" tanya Nada.
Nada menjawab nya.
__ADS_1
"Halo Nada, kamu lagi di mana? Kamu bisa datang menemui aku di luar gak?" tanya Dara langsung.
"Ada apa? kenapa sangat mendadak?" tanya Nada.