
"Tidak perlu menatap ku seperti itu, akui saja!" ucap Nada.
"Dia memberikan semua yang tidak bisa aku dapatkan selama ini. Kasih sayang, kepercayaan, kehangatan, kenyamanan dan Juga mendampingi ku." ucap Tania.
"Walaupun dia lebih muda namun dia memiliki sifat yang begitu dewasa membuat aku nyaman, awal nya aku tidak yakin namun melihat dia sangat menyanyangi Eki begitu juga Eki kepada nya membuat aku tertarik dan pada akhirnya aku yang tersakiti sendiri." ucap Tania.
"Kamu jangan salah dulu, di posisi Tuan Angga pasti jauh lebih sakit sekarang." ucap Nada.
Tania menghela nafas panjang. "Semua penggemar Tuan Angga pasti paham kalau tuan Angga memilih wanita lain walaupun bersama Livy." ucap Nada.
"Kenapa seperti itu?" tanya Tania.
"Tuan Angga dengan Livy tidak pernah mempublis hubungan mereka, dan juga Tuan Angga terlihat tidak terlalu serius dengan Livy." ucap Nada.
"Itu dulu, namun sekarang orang tua Tuan Angga sudah ikut campur." ucap Tania.
"Kalau kalian jodoh pasti di persatukan, tapi kalau tidak kamu harus ikhlas melepas kan nya." ucap Nada. Tania menghela nafas panjang.
"Udah Buruan makan, aku juga mau ikut makan karena perut ku terasa sangat lapar." ucap Nada.
Mereka berdua makan di ruangan itu.
"Permisi...." Tiba-tiba Aris datang. mereka berdua menoleh ke arah Aris.
"Loh Tania kamu sudah kembali bekerja di sini? Bagaimana dengan Tuan Angga?" tanya Aris.
"Aku sudah keluar dari sana, dan sekarang bekerja lagi di sini." ucap Tania. "Oohhh, Bagus deh kalau begitu. Biar si Tuan Angga itu tidak bisa mengekang kamu lagi." ucap Aris duduk di samping Tania.
"Humm kamu benar banget." ucap Nada.
"Lalu kamu sendiri ngapain di sini?" ucap Tania kepada Aris.
"Oohh aku ke sini hanya mampir sebentar saja." ucap Aris. "Mampir?" ucap Tania. Aris Menganguk.
"Kebetulan ada kamu, aku merindukan kamu, jadi aku mau ngajak kamu malam nanti jalan-jalan sama Eki sekalian bawa Mona dan Bibik." ucap Aris.
"Kamu seriusan?" ucap Tania.
"Iyah, biar wajah suram kamu ini hilang dulu." ucap Aris mencubit pipi Tania.
"Jangan seperti itu ah.." ucap nya Kesal.
Aris tersenyum. "Senyum dong, kamu kelihatan sangat banyak masalah kalau seperti ini." ucap Aris.
"Aku tidak bisa tersenyum aku terlalu sedih." ucap Tania.
__ADS_1
"Huff kamu selalu sedih, sebaiknya kamu fokus kepada anak, adik dan diri kamu sendiri dari pada memikirkan hal yang tidak penting." ucap Aris.
Tania tersenyum. "Kamu benar juga." ucap Tania. Aris tersenyum. "Nah gitu Dong kan cantik kalau senyum seperti ini." ucap Aris mengelus kepala Tania.
Sementara Nada hanya diam saja sambil Terus melanjutkan makan nya.
"Aku ke kamar mandi dulu yah." ucap Nada. Aris dan Tania menganguk.
"Apa kamu sudah makan?" ucap Tania kepada Aris.
Aris Menggeleng kan kepala nya, Tania menyuapi Aris, kebetulan Nada keluar dari kamar mandi Dan melihat adegan itu.
"Kenapa aku cemburu sih melihat Aris dan juga Tania sedekat itu? Aku tidak seharusnya seperti ini karena aku tidak mencintai Aris, kita sudah sepakat untuk berteman saja." batin Nada.
"Nada kamu mau kemana?" tanya Tania melihat nada keluar.
"Seperti nya dia banyak orang, aku harus melayani pembeli." ucap Nada. "Oohh ya udah kalau gitu." ucap Tania.
Nada duduk di samping kasir.
"Ada apa Bu? Kenapa kelihatan nya sangat kesal seperti ini?" tanya kasir kepada dia.
Nada menggeleng kan kepala nya.
"lalu ibu kenapa?" tanya Kasir lagi.
Kasir langsung diam.
"Seperti nya Hari ini Bu nada lagi kesambet hantu jadi sedikit mengerikan." ucap Kasir dalam hati.
"Kamu jangan ngatain saya yah!" ucap Nada. "Maaf Bu." ucap Kasir. Nada masuk ke ruangan nya.
"Kenapa aku sekesal ini sih?" ucap Nada.
Di malam hari.... Nada di balkon kamar nya mondar-mandir.
"Aku yakin sekarang pasti mereka sedang jalan-jalan bersama, orang-orang akan berfikir kalau mereka adalah pasangan.." ucap Nada.
Sementara di kediaman Angga dia duduk termenung di kursi balkon kamarnya.
"Saya sangat merindukan kamu Tania..." ucap Angga.
"Tuan Angga..." Dara dan Fani masuk ke kamar Angga.
"Ada apa?" tanya Angga.
__ADS_1
"Tuan tidak makan siang tadi, ini juga sudah malam namun tuan tidak kunjung makan." ucap Dara.
"Saya tidak berselera mau makan!" ucap Angga. "Tapi Tuan kalau tidak Makan mudah jatuh sakit." ucap Dara.
"Saya tidak perduli." ucap Angga.
"Tuan besok harus menemui orang tua Tuan dan keluarga Non Livy." ucap Fani. Angga menatap Fani.
"Bisa tidak jangan membahas itu?" ucap Angga. "Maaf tuan, hanya saja kalau tuan tidak sehat akan membuat Orang tua Tuan marah." ucap Fani.
Angga Menghela nafas kasar sambil mengusap wajah nya.
"Sial-sial!!!" ucap Angga marah.
"Saya hanya ingin bersama Tania, tidak ingin orang lain, saya hanya ingin Tania." ucap Angga. "Tapi tidak ada pilihan lagi Tuan." ucap Dara.
"Kalian berdua harus menolong saya, lakukan apapun yang bisa menolong saya, saya mohon." ucap Angga.
"Kami harus melakukan apa Tuan?" tanya Dara.
"Lakukan apapun yang bisa membuat saya bersama Tania, saya mohon kepada kalian." ucap Angga. Mereka menggeleng kan kepala nya.
"Kami tidak bisa melakukan apapun Tuan." ucap Dara.
"Saya akan membayar kalian sangat mahal." ucap Angga.
"Jalan satu-satunya tuan harus berani menentang kedua orang tua Tuan dan menghadap apa yang terjadi selanjutnya, namun ini tidak akan baik untuk Tania dan juga keluarga nya." ucap Dara.
Angga mengacak-acak rambut nya.
"Apa saya harus melakukan hal yang sama pada Livy?" ucap Angga Kesal.
"Hal yang sama? Maksud Tuan membunuh?" ucap Fani. Tiba-tiba mereka menahan tangan Angga.
"Jangan tuan." ucap mereka.
"Saya sudah gila kesabaran, sekarang dia di rumah orang tua saya, saya yakin dia akan menghasut orang tua saya." ucap Angga.
"Jangan sampai Tuan menyesal Kalau melakukan tindakan seperti ini Tuan." ucap Dara.
"Lepas kan saya! saya hanya berbicara. Saya tidak sejahat itu, saya tidak pernah memikirkan untuk membunuh orang yang saya benci." ucap Angga. Mereka berdua bernafas lega.
"Syukur deh kalau begitu Tuan." ucap Dara. "Saya heran kepada diri saya sampai bisa membunuh Lidya, saya yakin itu tidak lah mungkin." ucap Angga.
"Kita harus terus mencari bukti Tuan. Tuan yang sabar keadilan akan segera datang." ucap Dara.
__ADS_1
"Kalian sungguh saudara terbaik untuk saya, terimakasih." ucap Dara memeluk mereka berdua sudah seperti saudara sendiri.
"Kalian harus istirahat sebaiknya kalian istirahat, saya juga mau istirahat." ucap Angga.