
"Aku akan membuat Teh hangat untuk kamu." ucap Malvin.
"Kenapa yah Angga tidak datang? Bahkan dia tidak menelpon ku sama sekali." batin Tania..
"Huff seperti nya dia sangat sibuk sekali sehingga lupa untuk mengabari aku." ucap Tania dalam hati.
"Teh nya sudah datang." ucap Malvin meletakkan teh di depan Tania.
"Terimakasih." ucap Tania.
"Kalau kamu butuh sesuatu katakan saja." ucap Malvin. Tania menggeleng kan kepala nya. "Tidak ada." ucap Tania.
Malvin menyendok kan teh ke pada Tania.
"Aku bisa minum sendiri." ucap Tania. Tania pun langsung minum dari gelas.
Tidak beberapa lama Malvin datang ke kamar Tania membawa makan siang untuk nya.
"Makan siang dulu." ucap Malvin meletakkan makanan di atas meja.
"Terimakasih banyak. Kenapa kamu repot-repot mengurus ku di sini? aku tetap tidak akan berubah pikiran." ucap Tania.
"Berubah atau tidak nya, tapi aku ingin kamu sembuh. Kalau kamu sakit seperti ini bagaimana dengan Eki?" ucap Malvin. Tania terdiam.
"Ayo di makan, aku akan mencoba memberi kan Eki makan." ucap Malvin. Tania melihat Eki di suapin oleh Malvin sedikit susah karena Eki makan sedikit sulit.
Setelah selesai makan Malvin menyimpan piring. Tania dan Eki tidur siang. Malvin kembali ke kamar mereka berdua sudah tidur.
Malvin duduk di pinggir kasur sambil mengelus kepala Eki.
"Seandainya saja dulu Papah berfikir dewasa, mungkin sekarang kita sudah sangat bahagia. Kamu pasti memiliki orang tua yang utuh nak." batin Malvin kepada Eki.
Malvin menatap wajah Tania yang juga tidur. "Semoga saja kamu bisa luluh lagi Tania, aku berjanji akan menjaga kamu dengan baik kalau aku dengan kamu bisa bersama lagi." ucap Malvin.
Malvin tidak ingin menganggu mereka tidur, Malvin keluar dari kamar dan tiduran di ruang tamu. Namun baru saja mau istirahat orang tua nya menelpon dia.
"Halo Mah." ucap Malvin.
"Kamu di mana nak? kenapa kamu tidak pulang?" tanya Mamah nya. "Aku masih mengurus Tania dan Eki Mah." ucap Malvin.
"Sudah beberapa hari kamu mengurus Tania. Mamah khawatir kalau kamu akan kembali kepada Tania." ucap mamah nya.
__ADS_1
"Maksud Mamah?" tanya Malvin.
"Mamah tidak setuju kalau kamu dengan Tania rujuk lagi, Mamah tidak akan menerima itu." ucap Mamah nya.
"Loh kenapa mah? Aku sudah bilang dari awal aku kembali karena Tania dan Eki. Apa mamah tidak kasihan kepada Eki?" tanya Malvin.
"Mamah tidak setuju karena sudah memiliki calon untuk kamu, dan tentang Eki Mamah yakin kalau Tania bisa mengurus Eki." ucap Mamah nya.
Malvin menghela nafas panjang. "Aku heran deh sama Mamah..Kemarin membawa kasus ini ke pengadilan dan sekarang setelah aku pulang Mamah tidak menginginkan Eki lagi." ucap Malvin.
"Bukan Mamah tidak menginginkan Eki, hanya saja Mamah tidak ingin membuat Tania merasa Mamah dan papah merebut Eki. mamah sayang kepada Eki dan Mamah akan terus melihat nya." ucap Mamah nya.
Malvin tersenyum. "Bagus deh kalau begitu mah, aku senang mendengar nya." ucap Malvin.
"Tapi kamu mau kan menikah lagi dengan perempuan yang sudah lama Mamah ingin kan menjadi menantu?" tanya Mamah nya.
Tiba-tiba telpon mati. "Maafin aku mah, aku tidak bisa karena hati ku sepenuhnya masih di miliki oleh Tania." batin Malvin.
Dia mematikan handphone nya dan tidur karena sudah mengantuk.
"Loh kok mati sih?" ucap Mamah nya. Mencoba menelpon lagi namun tidak aktif.
"Seperti nya Kouta nya Malvin habis." batin mamah nya.
Fani melihat nomor Tania yang di ponsel Angga.
"Kalau Tuan mau menelpon Tania, telpon saja." ucap Fani.. Angga menggeleng kan kepala nya.
"Saya tidak ingin mengganggu dia." ucap Angga. Fani menghela nafas panjang.
"Kenapa Tuan jadi seperti ini sih? Malvin memang sahabat Tuan, tapi bukan berarti Tuan harus mengalah." ucap Fani.
"Saya memikirkan Eki, bukan tentang saya dengan Tania saja." ucap Angga.
Fani menghela nafas dia mengambil ponsel Tania.
"Tapi saya tau kalau Tuan sebenernya mencintai Tania dan tidak ingin menyerah kan?" ucap Fani.
Angga diam. "Jangan membohongi perasaan tuan sendiri, kalau Tuan menginginkan Tania perjuang kan, jangan menyerah begitu saja." ucap Fani.
"Kamu tidak akan mengerti. Karena tidak berada di posisi saya." ucap Angga.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu. Tapi Tuan tidak boleh larut dalam masalah seperti ini. Semua pekerjaan dan semua urusan jadi berantakan karena tuan tidak fokus sama sekali." ucap Fani.
"Saya pulang dulu." ucap Angga mengambil handphone nya dari Fani dan keluar dari ruangan nya.
"Kalau tuan pergi bagaimana dengan meeting kita hari ini?" tanya Fani..
"Batal kan saja." ucap Angga dan keluar dari ruangan itu.
Fani Menghela nafas panjang. "Sudah berapa kali orang lain marah kepada ku beberapa hari ini karena mengabaikan pekerjaan." ucap Fani.
Angga keluar dari ruangan nya. Semua karyawan melihat nya.
"Semenjak Tuan Angga tidak bertemu dengan Tania dan juga isu mantan suami Tania kembali tuan Angga jadi banyak diam." ucap para staf.
"Aku takut kalau tuan Angga kembali seperti dulu lagi." ucap yang lain. "Semoga saja tidak."
"Kenapa semua nya kumpul di sini? ayo kembali bekerja." ucap Rendi yang baru saja datang. Dia melihat Angga pergi.
"Kenapa tuan Angga pergi? Bukan nya jadwal hari ini sangat penuh?" tanya Rendi.
"nah itu dia yang membuat aku pusing banget sekarang, bagaimana aku harus mengatasi nya." ucap Fani.
Rendi menghela nafas panjang.
"Seperti nya kita harus turun tangan, jangan membatalkan nya kita harus menyelesaikan nya dari pada kita sendiri yang akan terkena masalah." ucap Rendi.
Angga tidak kembali ke rumah dia menyewa hotel untuk tempat menenangkan diri nya. "Jujur saja saya sangat ingin mendengar suara kamu Tania. Saya sangat merindukan kamu." ucap Angga duduk di balkon hotel nya.
"Saya sudah berjanji kepada diri saya sendiri akan membiarkan kamu bahagia dengan orang yang kamu cintai, saya ingin kamu bahagia." batin Angga.
Angga memutuskan untuk bertanya kepada Malvin, namun pesan nya tidak di balas.
"Mungkin sekarang Eki sudah dekat dengan Malvin. Dan sekarang juga pasti Tania sudah berbaikan dengan Malvin." ucap Angga.
"Aaaarrrgggg.... Ini sangat menyiksa pikiran ku." ucap Angga mengacak-acak kepalanya.
Karena sudah sangat pusing dia memesan minuman.
Dia minum sendiri di balkon hotel itu.
Tidak berhenti dia memikirkan Senyuman Tania, senyuman Eki.
__ADS_1
Angga juga tidak berhenti melihat foto mereka bertiga yang di handphone nya. "Tania saya sangat merindukan kamu." ucap Angga mencium foto itu.