
Tidak beberapa lama Dokter keluar.
"Pak Angga.." Panggil dokter. Angga berdiri di depan dokter.
"Bagaimana dengan Wanita itu Dok?" tanya Angga.
"Pasien baru saja melewati masa kritis nya setelah selesai operasi." ucap dokter. Angga menghela nafas lega.
"Apakah dari luka nya atau benturan berakibat ke organ tubuh yang lain?" tanya Angga. "Tenang saja pak semua nya sehat. Mungkin hanya sedikit pusing-pusing namun itu tidak akan lama." ucap Dokter.
"Terimakasih banyak Dok." ucap Angga. "Kalau sebentar lagi tidak segera di tangani dokter pasien akan kehilangan nyawa nya." ucap Dokter.
"Syukur lah Bapak segera membawa pasien ke rumah sakit. Setelah sadar dari koma, pasien akan di pindahkan ke ruangan rawat inap." ucap dokter.
"Baik Dok." ucap Angga. "Kalau begitu saya permisi dulu ya Pak." ucap dokter. Angga menganguk. Dokter pergi Angga masuk ke ruangan Tania.
Angga mendekati Tania dia memerhatikan wajah Pucat Tania. Kepala yang di balut.
"Kau benar-benar wanita paling kuat yang pernah saya lihat setelah Ibu saya." ucap Angga.
Dia duduk di kursi terus memandangi wajah Tania. "Saya seperti nya tertarik kepada wanita ini." ucap Angga.
Angga menggenggam tangan Tania. "Saya tidak bisa memungkiri kalau saya suka kepada dia. Wanita yang bertanggung jawab, kuat, perduli dan penyayang." ucap Angga dalam hati.
"Selain itu dia memiliki wajah yang cantik, mata yang indah dan anak yang Tampan." batin Angga sambil tersenyum.
"Sungguh berengsek pria yang menikahi wanita seperti dia hanya karena uang." batin Angga lagi.
"Husss apa yang sedang aku pikirkan? Aku tidak mungkin mengangumi wanita yang selalu membuat ku kesal dan marah." ucap Angga.
Dia langsung berdiri berusaha memalingkan pemikiran nya ke yang lain namun tetap saya tidak bisa.
"Kau sudah berhasil memenuhi pikiran saya selama saya di luar negeri, kau membuat tidur saya berantakan." ucap Angga.
"Kapan kau akan bangun? Saya sangat membenci tempat ini. Namun kenapa kau sangat nyenyak tidur." ucap Angga.
Angga menemani Tania di ruangan itu.
Keesokan paginya..
Tania bangun, dia membuka mata nya dan melihat Angga yang tertidur di samping nya.
__ADS_1
"Tuan Angga?" batin Tania. Dia melihat ke sekitar nya ternyata dia baru sadar diri nya di rumah sakit.
Berusaha mengingat kejadian kemarin dia mengingat semua nya namun kepala nya sangat pusing.
"Aaaaa!!!" Dia menjerit karena kesakitan. Angga langsung bangun.
"Kenapa?" tanya Angga dengan wajah yang sangat panik sekali.
"Kepala ku." ucap Tania. Angga melihat ke arah kepala Tania.
"Kamu baru saja selesai operasi, kamu jangan banyak bergerak." ucap Angga. Tania terdiam sejenak karena Angga berbicara dengan lembut dan juga tidak kasar.
"Saya akan panggil dokter untuk memeriksa nya." ucap Angga. Tania menganguk.
"Apa itu Tuan Angga? Aku tidak mimpi kan? Aku belum bisa melihat dengan jelas." batin Tania.
Tidak beberapa lama dokter datang.
Dia memeriksa keadaan Tania namun keadaan nya masih belum bisa di pindahkan. pendarahan membuat Tania sulit untuk pulih.
Angga tidak mempermasalahkan Tania di ruangan ICU selagi Tania belum sembuh total jangan di pindahkan.
Setelah selesai dokter pun keluar. "Bagaimana keadaan mu?" tanya Angga. Tania Menggeleng kan kepala nya Pelan menandakan tidak baik.
"Masih baik mereka tidak membunuh mu, bagaimana kalau mereka membunuh mu?" ucap Angga.
"Huff saya rasa itu lebih baik Tuan. Saya sudah sangat lelah." ucap Tania. Angga langsung terdiam.
"Orang bodoh yang ingin diri nya mati konyol. Lalu setelah kau meninggal dunia bagaimana dengan Anak mu? Bagaimana dengan Adik mu?" tanya Angga.
Tania terdiam. "Kau harus membuktikan kepada semua orang kalau kau adalah wanita yang kuat. Wanita yang bisa melewati semua cobaan dan berjalan Menuju ke kebahagiaan." ucap Angga.
Tania Menghela nafas panjang. "Saya rasa kebahagiaan saya sudah tidak ada Tuan." ucap Tania.
"Kita yang menciptakan kebahagiaan itu sendiri." ucap Angga.
"Saya bahagia ketika saya di jauh kan dari orang-orang yang membuat saya menderita." ucap Tania.
"Apa itu termasuk saya?" tanya Angga. Tania diam.
"Saya akan melepaskan kau. Saya anggap semua permasalahan kita selesai dan juga saya akan membayar biaya rumah sakit mu." ucap Angga.
__ADS_1
Tania terkejut dia menatap Angga.
"Tapi dengan satu syarat.." ucap Angga. Tania tetap diam menunggu Angga melanjutkan bicara nya.
"Kau harus menjadi kekasih saya." ucap Angga. Tania menghela nafas panjang.
"Apa Tuan mau membawa ku ke acara lagi? Apa Tuan harus menyewa kekasih pura-pura? Tuan memiliki Non Livy." ucap Tania.
"Tapi ini tidak pura-pura. Saya serius, saya tertarik kepada mu." ucap Angga langsung. Tania terdiam sejenak. Angga menatap nya dengan sangat dalam.
"Karena mata ini? Karena aku bisa menjahit? Apa karena aku sangat mirip dengan almarhum Tunangan Tuan?" tanya Tania.
Angga terdiam. Tania menghela nafas panjang.
"Saya mencintai pria lain Tuan, saya tidak memiliki perasaan apapun pada tuan. Karena saya tau Tuan tidak tulus kepada saya." ucap Tania.
Angga menatap terus Tania. "Kita baru saja dua bulan saling mengenal, Tuan tidak akan semudah itu mencintai saya. Dan lagi Tuan memiliki dendam kepada keluarga saya!" ucap Tania.
"Saya serius kepada mu Tania. Apa yang harus saya lakukan agar menyakinkan kamu?" tanya Angga.
"Tuan tidak perlu berbicara dengan lembut kepada ku." ucap Tania.
"Baiklah untuk saat ini kamu tidak akan percaya kepada saya. Saya akan membuktikan nya." ucap Angga.
"Tuan sudah memiliki pasangan, sebaiknya Tuan menjaga nya dengan baik." ucap Tania.
"Saya tidak mencintai Livy sudah begitu lama. Saya hanya Rindu dengan kasih sayang seorang wanita itu sebab nya saya bertahan dengan Livy." ucap Angga.
Tania Diam. "Saya tidak tau Betapa kecewa nya non Livy ketika tau kekasih nya meminta orang lain menjadi kekasih baru nya." ucap Tania.
Angga diam. Tania melepaskan tangan nya dari tangan Angga. "Menyukai janda anak satu dan miskin seperti ku tidak lah semudah itu Tuan. Mungkin tuan hanya sekedar mengagumi ku." ucap Tania.
"Saya akan membuktikan tulus cinta saya kepada kamu." ucap Angga.
"Saya minta tuan pergi dari sini. Saya akan terus bekerja di tempat Tuan sampai perjanjian selesai." ucap Tania.
Angga diam. "Saya tidak akan kemana-mana, saya akan terus di sini." ucap Angga.
Sementara di Kediaman Angga..
"Dara! Kenapa Tuan Angga tak kunjung pulang yah? apa sesuatu terjadi? kenapa aku tidak berhenti khawatir." ucap Fany.
__ADS_1
"Aku juga kefikiran Fan, di mana yah kira-kira tuan Angga." ucap Dara.