
. "Keluar dari sini." ucap Tania. Angga berdiri dia menoleh ke arah Eki yang sudah berdiri di dalam Box melihat ke arah mamah nya, namun ketika Angga menatap nya dia langsung menangis.
Karena tidak nyaman, akhirnya Angga pun pergi dari sana.
"Tuan Angga.." Nada menyusul Angga yang hendak keluar.
"Kenapa Tuan Angga keluar?" tanya Nada.
"Saya mau anda mengajari penjahit anda sopan santun. Dan satu lagi di saat bekerja tidak seharusnya membawa anak bayi. Butik seperti apa ini!" ucap Angga.
"Maaf kalau boleh apa yang di lakukan penjahit saya Tuan? Dan kenapa Dengan bayi nya?" tanya Nada.
"Bayi itu selalu menangis sehingga membuat telinga saya sakit. Dan penjahit itu mengancam saya tidak akan menyiapkan pakaian saya." ucap Angga.
"Maaf kan saya Tuan, saya akan memberikan contoh yang baik. Saya akan memastikan Pakaian Tuan Selesai dalam tiga hari." ucap Nada.
"Baiklah kalau begitu saya permisi." ucap Angga. Dia meninggal kan Butik Nada.
"Ya ampun Tania. Ada masalah apa lagi Sih?" tanya Nada langsung masuk ke ruangan Tania.
"Ada apa Nad? anak ku sampai terkejut karena kamu." ucap Tania. "Aku minta maaf." ucap Nada dia masuk ke dalam tidak lupa menutup pintu.
"Apa lagi yang kau debat kan dengan Tuan Angga? Huff baru saja aku sangat senang. Namun dia keluar dengan keadaan marah dan menyalah kan aku." ucap Nada.
"Aku tidak melakukan apapun, dia meminta Eki di keluar dari sini. Suara celoteh Eki membuat nya tidak nyaman. Aku juga tidak meminta dia di sini." ucap Tania.
Nada menoleh ke arah Eki. Dia langsung tersenyum sambil berceloteh.
"Eki sungguh imut, tampan dan juga baik Budi, tidak mungkin dia menangis-nangis seperti yang di katakan Tuan Angga." ucap Nada.
"Huff kalau bukan karena kamu, aku tidak akan mau lagi menjahit kan jas untuk dia." ucap Tania. Nada memegang tangan Tania.
"Terimakasih yah sudah melakukan ini demi aku." ucap Nada, Tania hanya diam saja.
"Aku jamin deh, bekerja dengan keluarga Tuan Angga Akan sangat menguntungkan. Kalau kamu berhasil mengambilnya perhatian Tuan Angga dengan jahitan kamu yang sangat rapi dan Bagus. Otomatis kita akan jadi Butik langganan mereka." ucap Nada.
"Tanpa keluarga mereka kita sudah mendapatkan pesanan yang sangat banyak." ucap Tania.
__ADS_1
"Tapi ini berbeda Tania. Butik ini akan terkenal, penjahit nya akan mendapatkan nama dan juga tentunya kamu mendapatkan uang yang banyak." ucap Nada.
"Ini hanya untung di kamu saja, aku tertekan batin karena Tuan Angga. Tuan Angga saja sudah seperti itu apalagi saudara nya." ucap Tania.
Nada tertawa kecil.
"Kamu tenang saja, aku tidak akan mengutamakan diri sendiri, kalau bukan karena kamu butik ku tidak akan seramai ini." ucap Nada.
Tania tersenyum. "Aku tidak mempermasalahkan soal itu, justru bisa bekerja di sini saja sudah membuat aku bahagia." ucap Tania.
"Ya udah deh kamu lanjut bekerja aja. Aku keluar dulu yah." ucap Nada. "Ekii.. Jangan Rewel yah." ucap Nada mencubit pipi Eki dan pergi.
Di dalam mobil mewah warna hitam, Angga terlihat sangat kesal.
"Kita kembali keperusahaan!" ucap Angga. "Baik Tuan." ucap supir. Mereka langsung berputar arah ke perusahaan Bos muda nya itu.
"Selamat pagi Tuan." Sapa Sekretaris nya.
"Pagi." jawab Angga dengan nada yang sangat dingin sekali.
"Apa saja jadwal saya hari ini?" tanya Angga pada Sekretaris cantik nya itu. Fani membacakan semua jadwal bos nya itu.
"Sepuluh menit lagi saya akan ke ruangan Meeting." ucap Angga. "Baik Tuan." jawab Fani. Dia pun ijin keluar.
Angga memeriksa tab nya dan setelah itu keluar. "Hari ini ada klien yang akan datang membahas beberapa pekerjaan yang harus di diskusikan.
Setelah tidak beberapa lama akhirnya selesai juga.
"Tuan waktu nya makan siang." ucap Fani pada Angga yang masih sangat sibuk dengan pekerjaan nya.
"Saya akan melakukan nya nanti." ucap Angga. "Tuan Angga belum ada istirahat setelah pulang dari London. Saya mengkhawatirkan kesehatan Tuan." ucap Fani.
Angga hanya diam. Dia tetap fokus dengan pekerjaan nya.
Tidak beberapa lama Makanan di bawakan ke ruangan Angga.
"Tuan silahkan di makan." ucap Fani. "Baiklah. Kamu boleh keluar!" ucap Angga.
__ADS_1
"Tuan harus makan terlebih dahulu. Saya mendengar Tuan selalu telat makan." ucap Fani lagi. Angga menghela nafas dia meletakkan pena nya di meja menatap Fani.
"Sudah berapa kali saya katakan kalau saya akan melakukan nya nanti. Saya belum lapar. Lebih baik kamu menyelesaikan pekerjaan kamu." ucap Angga.
"Maaf Tuan." Ucap Fani. "Keluar dari sini!" ucap Angga. Fani tidak ada pilihan akhirnya dia pun keluar.
"Huff Seandainya tuan sakit, saya yang akan di repot kan." ucap Fani. Dia keluar dengan wajah cemberut.
Di sore hari nya Tania dan juga Nada pulang bersama.
"Oh iya Nada hari ini kami tidak akan menginap di sini lagi. Terimakasih banyak yah sudah mau membiarkan kami menumpang di sini beberapa hari." ucap Tania.
"Loh kenapa?" tanya Nada. "Aku ingin pulang lagi ke rumah kami, tidak enak kalau di tinggal terlalu lama." ucap Tania. "Oohh begitu." ucap Nada. Tania menganguk.
"Ya udah kalau begitu aku akan membantu mengantarkan kamu kesana." ucap Nada. Tania menganguk sambil tersenyum.
Setelah mereka kembali ke sana Mona ternyata sudah duluan sampai di sana. Nada tidak bisa lama-lama di Sana akhirnya dia pun pulang.
"Mona kamu mau ikut mbak jalan-jalan gak?" tanya Tania pada adiknya karena Aris sudah berangkat mau menjemput mereka.
"Aku di rumah saja." ucap Mona. "Ya udah deh kalau kamu gak ikut. Kamu mau nitip apa?" tanya Tania lagi.
"Aku tidak mau apa-apa mbak." ucap Mona. Tania mencoba untuk sabar.
"Ya udah mbak pergi yah." ucap Tania. Dia melihat Aris sudah di depan rumah.
"Maaf yah Ris membuat kamu nungguin, pasti Jauh kan ke sini?" ucap Tania. "Lumayan jauh sih." ucap Aris. Tania masuk ke dalam mobil.
"Kamu tambah cantik banget sih." ucap Aris. "Ah kamu bisa saja, kamu Selalu saja mengatakan itu." ucap Tania.
"Serius, kamu cantik banget kalau dandan seperti ini. Aku sangat suka." ucap Aris. "Kamu selalu membuat ku malu, tidak ada yang berubah di dalam penampilan ku, ayo berangkat." ucap Tania.
Aris tersenyum. Dia melihat Eki yang berceloteh.
"Kalau di lihat-lihat kamu bukan seperti mamah nya Eki tapi saudara perempuan nya." ucap Aris.
"Berhenti menggoda ku, aku sudah terlihat sangat Tua sekarang." ucap Tania. Aris tertawa.
__ADS_1