
"Tapi keadaan Tuan belum sembuh total. Bagaimana kalau Tuan tiba-tiba pingsan di Perusahaan?" tanya Dara.
Angga menatap Dara. Dara langsung menciut.
"Saya tidak khawatir karena kamu ikut dengan saya." ucap Angga dan langsung berjalan terlebih dahulu. Dara menghela nafas kasar.
Dia mengikuti Angga dari belakang, di depan dia sudah tunggu oke Fani. Mereka berangkat bersama mengunakan mobil yang sama.
Tidak beberapa lama sampai di perusahaan. Kedatangan nya sudah di ketahui oleh semua karyawan perusahaan, mereka semua sudah merancang penyambutan Angga yang tidak terlalu ramai.
Hanya staf-staf tertentu saja yang akan menyambut nya di depan.
"Selamat Pagi Tuan muda." sapa Menejer nya. Angga Sama sekali tidak menghiraukan nya dia langsung masuk tampa Harus melihat wajah mereka, berapa orang yang menyambut nya.
"Huff akhirnya.." Semua orang lega ketika Tuan muda masuk ke dalam ruangan nya. Walaupun mereka jarang bertatap muka tapi Mereka sangat takut pada bos nya itu.
Di butik...
"Wahh kamu cepat banget Tania." ucap Nada melihat pakaian nya sudah setengah jadi. "Bagaimana kamu bisa bilang ini cepat? Ini sudah sangat lama karena aku harus bisa menyamakan kedua pundak nya." ucap Tania.
"Emang pundak nya kenapa Tania? Biasanya kamu membuat nya dengan sang mudah." ucap Nada.
"Kedua pundak Tuan Angga tidak sama, ada sedikit perbedaan, jadi aku harus bisa menyamakan nya." ucap Tania.
"Wah kamu telaten banget sih." ucap Nada.
"Nih minum dulu, aku membawa kan teh untuk kamu." ucap Nada. "Terimakasih." ucap Tania.
"Ngomong-ngomong kamu sudah bertemu dengan Pak Angga langsung?" tanya Nada. "Humm." jawab Tania dengan singkat sambil terus fokus.
"Apa kamu juga menyentuhnya?" tanya Nada. "Aku mengukur badan nya tentu nya aku tidak sengaja menyentuh nya." ucap Tania.
"Ceritakan pada ku seperti apa Wangi, seperti apa lembut kulit nya, dan juga nafas nya seperti apa?" tanya Nada dengan heboh.
Tania menatap Nada. "Aku berharap agar aku tidak bertemu dengan nya lagi, aku sangat sial bertemu dengan nya. Kalau bukan karena uang nya aku tidak akan mau membuat kan Jas ini." ucap Tania.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu?" tanya Nada.
__ADS_1
"Dia sungguh Tuan muda yang Arongant, galak, egois dan juga menyebalkan." ucap Tania.
"Huff seperti nya kamu sedang sakit deh, bisa-bisa nya Pria seperti Tuan Angga kamu Katai." ucap Nada.
"Justru kamu yang sakit." ucap Tania.
"Dia sangat tampan, cool, Maco, tinggi, badan yang Bagus, rambut yang bagus dan juga dia sangat kaya. kalau aku menikah dengan dia pasti aku adalah wanita yang paling bahagia." ucap Nada.
"Kamu sudah gila Nada." ucap Tania.
"Kamu benar, aku sudah gila akan Tuan Angga." ucap Nada sambil senyum-senyum sendiri.
Tania melihat Nada membuat nya menggeleng kan kepala nya. "Huff bisa-bisa nya ada orang yang suka pada pria batu seperti dia." ucap Tania.
"Bagus deh kalau kamu gak suka, karena aku tidak mempunyai banyak saingan. Hanya kamu sendiri wanita yang tidak tertarik pada Tuan Angga. Kamu seperti nya hanya tergila-gila pada Mantan suami kamu." ucap Nada.
Tania terdiam. "Ini sudah waktunya makan siang, istirahat saja dulu kamu aku sudah memberi nasi dari luar untuk kita." ucap Nada.
Tania menatap Nada. "Kenapa kamu tiba-tiba begitu baik sih sama aku?" tanya Tania.
Tania tersenyum dia duduk di depan Nada. Mereka Makan berdua. "Jas nya sudah harus selesai sebelum malam, apa kamu bisa menyelesaikan nya?" tanya Nada.
"Huff aku juga tidak tau, sebenarnya aku sudah mengerjakan nya malam tadi namun sampai sekarang belum jadi. Aku harus membuat celana nya juga." ucap Tania.
Mereka berfikir keras. Setelah selesai Makan Tania langsung lanjut lagi.
"Tania ada yang nyari kamu." ucap Nada.
"Siapa Nad?" tanya Tania.
Dara datang dari belakang Nada.
"Selamat Sore Bu." ucap Dara. Tania langsung berdiri sambil tersenyum.
"Saya ingin melihat Jas Tuan muda." ucap Dara. belum selesai, tapi saya akan mengusahakan nya." ucap Tania.
"Mbak bisa menunggu di depan." ucap Tania.
__ADS_1
Dara menganguk. Dia tidak bisa mengatakan apapun selain diam menunggu Jas nya selesai.
"Tania aku gak bisa pulang telat, aku harus pulang sekarang, kamu gak apa-apa kan di sini?" tanya Nada. "Gak apa-apa kok." ucap Tania.
Setelah itu Nada pun pulang. Dara melihat sudah jam lima Sore namun Jas belum selesai juga. Tania sudah berusaha untuk terus mengerjakan tanpa henti.
"Bagaimana ini? Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi." ucap Dara pada Tania. Tiba-tiba ponsel nya berdering. Angga marah-marah karena tiket nya belum di urus. Semua kebutuhan nya belum di siapkan oleh Dara.
"Mbak bisa pulang terlebih dahulu, setelah ini selesai saya akan Mengabari mbak." ucap Tania. Dara menganguk dia memberikan nomor nya dan setelah itu langsung pulang ke rumah Angga.
"Maaf Tuan saya telat." ucap Dara pada Angga yang duduk di ruang tamu. "Mana Jas saya?" tanya Angga.
"Belum selesai Tuan. Namun setelah selesai penjahit nya akan segera mengabari saya. Waktu penerbangan Tuan masih ada tiga jam lagi." ucap Dara.
Setelah Dara mengurus semua nya.
"Ini sudah jam Tujuh Sore kenapa mbak Tania belum pulang yah." ucap Mona yang baru saja selesai memandikan keponakan nya.
Dia tidak bisa menelpon Nomor Tania karena tidak aktif. "Mungkin saja mbak Tania ada pekerjaan yang tidak bisa di tinggal kan, aku tidak perlu khawatir." ucap Mona dia pun menemani Adik nya untuk bermain-main.
Namun tiba-tiba ada orang yang mengetuk pintu rumah nya dengan sangat Keras sekali sehingga dia dan Eki terkejut, Eki langsung menangis ketika langsung di gendong oleh Mona.
Di Bandara..
"Dara di mana tukang jahit nya? kenapa dia belum datang?" tanya Angga. "Dia belum mengabari saya Tuan, saya sudah meminta dia untuk mengantarkan ke bandara." ucap Dara.
Tidak beberapa lama penerbangan Angga jam delapan terlewatkan. Dia sudah sangat marah sekali.
"Ya Allah ini sudah jam Delapan lewat." ucap Tania dia sudah sangat panik sekali.
"Tenang Tuan. kita masih bisa menunggu penerbangan selanjutnya." ucap Dara. Angga sudah tidak bisa mengontrol emosi nya.
"Baiklah kalau penerbangan ini di tidak datang. Saya akan meminta ganti rugi dan memperlakukan Butik dan wanita itu!" ucap Angga.
Namun tidak terasa 20 menit lagi penerbangan kedua.
Angga sudah sangat tidak sabar, dia pun meminta dara untuk membatalkan Jas itu.
__ADS_1