
Fani Menghela nafas panjang. "Bagus deh kalau kamu berfikir seperti itu." ucap Fani. dia membawa makanan itu ke dalam apartemen nya memakan nya sambil menonton TV.
Di rumah Livy sangat kesal karena tidak ada yang tau alamat Tania. Dia sama sekali tidak percaya itu sebabnya dia kesal. Dia menelpon Angga namun tidak di jawab.
Livy tidak mau menyerah.
"Aku tidak bisa membiarkan mereka berduaan terus menerus." ucap Livy.
Di tempat lain Angga menyusul Tania ke depan rumah setelah menemani Eki tidur siang.
"Ada apa? kenapa dari tadi kamu melamun?" tanya Angga.
"Handphone kamu dari tadi bunyi." ucap Tania. Angga melihat handphone nya banyak panggilan masuk dari Livy.
Angga melihat nya dan membalas pesan dari Livy. Tania memerhatikan Angga dari samping.
"Aku bahagia bersama kamu, nyaman tapi semakin aku mencintai kamu aku semakin takut." batin Tania.
"Kamu lagi memikirkan apa?" saya tidak suka melihat wajah kamu yang tidak bahagia." ucap Angga. Tania Menggeleng kan kepala nya.
"Kamu tidak perlu berfikir yang negatif, ayo kita jalani saja kehidupan ini dengan semestinya." ucap Angga.
"Humm kamu benar." ucap Tania.
Dua hari kemudian....
Tania sudah cuti empat hari waktu nya dia harus kembali ke rumah Angga.
Kali ini tidak Angga yang menjemput melainkan supir karena angga memiliki pekerjaan di luar.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah Angga.
"Tania.." Dara menyambut Tania. Tania melihat Dara sudah sehat dia ikut senang.
"Kamu kenapa sangat lama di rumah kamu? Aku sangat merindukan kamu." ucap Dara. "Humm kamu berlebihan deh." ucap Tania.
"Ya udah kalau begitu kita masuk yok." ucap Dara.
"Ekhem-Ekhem..." mereka melewati ruang tamu ternyata ada Livy di sana.
__ADS_1
"Sudah ayo ke atas." ucap Dara. "Saya mau berbicara dengan kamu!" ucap Livy kepada Tania.
"Bicara apa yah Non?" tanya Livy.
"Saya ingin berbicara secara pribadi dengan kamu." ucap Livy. Dara menahan tangan Tania karena Angga sudah meminta nya untuk melindungi Tania.
"Pekerjaan Tania sangat menumpuk di atas Non, sebaiknya jangan menunda karena Tuan Angga bisa marah." ucap Dara menarik Tania namun tangan Tania di tahan.
"Jangan coba ikut campur kamu!" ucap Livy pada Dara.
"Sudah Dara tidak apa-apa, aku akan berbicara dengan non Livy." ucap Tania.
"Status kamu hanya pelayan sementara disini, namun sudah seperti nyonya di rumah ini." ucap Livy kesal. Tania Menghela nafas panjang dia mengikuti Livy.
"Non ingin membicarakan apa?" tanya Tania setelah di ruangan itu hanya ada mereka berdua.
"Apa hubungan kamu dengan Angga?" tanya Livy membuat Tania terdiam. "Jawab!" ucap Livy.
"Kamu pasti tidak tau kalau saya dengan Angga sudah mau menikah, jadi jangan harap bisa merebut Angga dari saya!" ucap Livy.
"Satu hal yang harus kamu tau adalah, Angga tidak pernah menjadikan janda miskin seperti kamu ini idamannya." ucap Livy.
Hati Tania cukup sakit mendengar nya. Namun dia masih mengingat kata-kata Angga.
Livy langsung keluar dari ruangan itu. Tania Menghela nafas panjang.
Handphone nya tiba-tiba berdering dari Angga, dia tidak menjawab. Angga menelpon lagi namun langsung di tolak oleh Tania.
Angga yang tengah bekerja menatap bingung kepada ponsel nya. "Kenapa dari tadi telpon ku di tolak oleh Tania?" ucap Angga.
"Tania apa yang di lakukan Livy pada kamu?" tanya Dara. "enggak ada kok." ucap Tania. "Oohh bagus deh, kalau begitu kita langsung ke atas saja yah." ucap Dara.
"Oh aku mau tanya nih sama kamu, apa benar kamu dengan Tuan Angga memiliki hubungan?" tanya Dara. Tania menutup mulut Dara. "Jangan kuat-kuat!" ucap Tania.
"Kamu tenang saja, tidak ada orang di sini." ucap Dara.
"kamu tau dari mana?" tanya Tania. "Tuan Angga mengatakan nya. Dia juga meminta aku untuk melindungi kamu dari non Livy." ucap Dara.
Tania menganguk. "Aku mencintai Tuan Angga." ucap Tania. Dara terdiam sejenak.
__ADS_1
"Kamu mencintai nya karena apa? Apa karena dia baik? atau karena kaya dan Tampan?" tanya Dara. Tania menggeleng kan kepala nya.
"Banyak hal yang membuat aku mencintai dia. Sekarang aku sangat takut kalau kehilangan nya." ucap Tania. "Kamu tau sendiri kan kalau Tuan Angga siapa? aku bukan melarang kamu tapi kisah percintaan seperti ini jauh lebih rumit perjuangan nya." ucap Dara.
Tania menganguk. "Iyah aku paham." ucap Tania.
"Kamu tau juga kalau Tuan Angga memiliki kekasih." ucap Dara.
"Eh bukan lebih tepatnya mantan kekasih, tapi masih mengejar-ngejar Tuan Angga bahkan keluarga sudah merencanakan Pernikahan mereka." ucap Dara.
"Huff sudah lah jangan di bahas lagi. Tuan Angga meminta kamu untuk mengurus pakaian, kamar dan semua tentang nya karena tidak ada yang mengurus nya." ucap Dara.
Tania menganguk. "Humm bagaimana hubungan kamu de ga Rendi?" tanya Dara.
Dara menggeleng kan kepala nya.
"Mencintai pria lain yang tidak mencintai kita adalah satu hal yang menyakit kan. Namun dari sini aku belajar kalau cinta tidak bisa di paksakan karena akan menyakiti banyak hati." ucap Dara.
Dara pun kembali bekerja. Tania masuk ke dalam kamar Angga dan betapa kagetnya dia ada bunga di atas tempat tidur dan paper bag.
"Bunga Siapa ini?" ucap Tania. Dia melihat surat.
"Maaf yah kamar nya berantakan, ini bunga untuk kamu, dan ada hadiah juga." ucap Angga di dalam surat.
Tania membuka nya dia melihat isinya adalah kain bahan yang harus di jahit untuk jadi dress.
"Aku ingin kamu menjahit dress pakai bahan ini." ucap Angga.
Tania tersenyum. "Huff bukan Tuan Angga namanya kalau tidak membuat aku bekerja." ucap Tania sambil tersenyum.
Dia merapikan tempat tidur terlebih dahulu dan setelah itu merapikan semua nya.
Setelah sudah rapi dia mencuci baju Angga. Semua harus selesai terlebih dahulu baru bisa mengerjakan yang lain.
"Ini sudah jam Sebelas siang. Apa sudah ada yang menyiapkan bekal untuk Angga." batin Tania. Dia melihat ke arah dapur, entah mengapa dia merasa semua mata pelayan menatap nya dengan tatapan Aneh.
Karena tidak nyaman dia memutuskan untuk kembali ke atas menemui Dara.
"Dara apa kamu tau apa yang sedang terjadi di rumah ini? kenapa semua orang seperti menatap tidak suka kepada ku?" tanya Tania.
__ADS_1
"Mereka semua Cemburu pada kamu karena kamu di berikan libur panjang sementara mereka tidak." jawab Dara. "Oohh begitu." ucap Tania. Dara menatap Tania memerhatikan Tania dari atas sampai ke bawah.
"Kenapa kamu melihat ku seperti itu?" tanya Tania.