
"Hati kamu terbuat dari apa sih sehingga tidak memperdulikan perasaan pasangan kamu sendiri?" ucap Fani.
Di Meja Makan Angga menatap Tania.
Angga melihat ke sekeliling ternyata tidak ada orang.
"Kamu bisa duduk lebih dekat dengan saya? Saya yakin selera makan saya semakin tambah."' ucap Angga.
Tania Menggeleng kan kepala nya.
"Sebaiknya saya kembali ke dapur Tuan." ucap Tania.
Angga menghela nafas panjang.
"Kenapa? Apa kamu tidak mau menemani saya Makan di sini?" tanya Angga.
"Saya takut kalau ada yang lihat Tuan." ucap Tania.
"Siapa yang melihat? Ada pun yang melihat tidak akan ada masalah nya kepada Kita." ucap Angga.
Tania kembali duduk di Kursi makan nya.
"Kalau Tuan ingin saya terus bersikap baik Tuan jangan coba-coba untuk seperti ini lagi!" ucap Tania.
Dia langsung pergi. Angga tersenyum.
"Bisa-bisa nya dia mengancam saya." ucap Angga.
"Tapi kenapa saya malah menuruti nya?" ucap Angga. Dia menghela nafas panjang dan melanjutkan makan.
Waktu nya berangkat bekerja Tania memberikan tas kerja Angga.
"Jangan lupa untuk mengantarkan makan siang saya!" ucap Angga pada Tania di depan semua orang.
Tania menganguk.
Setelah itu pun pergi meninggalkan Rumah nya.
Angga sampai di kantor langsung di sambut oleh Rendi dan Fani.
"Loh kemana Dara? saya meminta nya untuk menunggu di sini hari ini." ucap Angga.
"Kami juga tidak tau Tuan." ucap Rendi.
"Cari dia sampai dapat. Banyak pekerjaan yang harus saya bahas kepada nya." ucap Angga. Rendi menganguk.
Fani mengikuti Angga ke dalam ruangan nya.
__ADS_1
"Tuan Beberapa menit yang lalu Non Livy menelpon saya. Dia bertanya kenapa nomor Tuan tidak bisa di hubungi?" tanya Fani.
"Katakan padanya kalau saya sedang sibuk." ucap Angga.
"Tapi non Livy sangat mengkhawatirkan dan merindukan Tuan." ucap Fani. Angga Menatap Fani.
"Kamu tau kan kalau dia hanya pelampiasan bagi saya? Jadi saya harap kamu bisa membantu saya." ucap Angga.
"Maksud Tuan? Membantu seperti apa?"tanya Fani.
"Saya sudah menemukan wanita yang saya cari selama ini, jadi saya minta bantuan kamu untuk membuat saya berpisah dengan Livy." ucap Angga.
Fani tiba-tiba keingat Tania.
"Aku yakin sih ini yang di maksud Tuan Angga adalah Tania." batin Fani.
"Kenapa kamu menatap saya seperti itu?" tanya Angga.
"Ini sih gampang Tuan." ucap Fani.
"Maksud nya?" tanya Angga. Fani mengeluarkan Ponsel nya dan menunjukkan beberapa Foto kepada Angga.
"Saya minta maaf sebelumnya kepada tuan melakukan Hal seperti ini tampa seijin Tuan dan melanggar Privasi. Tapi saya sudah curiga cukup lama kalau Non Livy selingkuh dengan Pria satu rekan kerja nya." ucap Fani.
Angga melihat foto Livy yang berdua dengan laki-laki masuk ke hotel. Cafe dan juga banyak tempat lain nya.
"Ini bukan hanya sekedar teman nya, Tuan bisa melihat Betapa akrab dan romantis nya mereka." ucap Fani.
"Berani-beraninya dia mempermainkan saya!" ucap Angga. Dia langsung menelpon Livy dari Handphone nya.
"Ya ampun kok jadi gini sih? aku pikir tuan Angga tidak akan cemburu, dan aku juga mendukung hubungan nya dengan Tania, loh kok malah marah." batin Fani.
"Halo Sayang.. Kenapa kamu menelpon ku pagi-pagi sekali?" tanya Livy.
"Saya ingin berbicara serius dengan kamu!" ucap Angga. "Bicara saja Sayang, aku akan Mendengar kan nya." ucap Livy.
"Hummm sayang... kenapa kamu bangun begitu cepat?" Suara pria yang membuat Angga terdiam langsung.
"Mati Aku, kenapa kamu pakai ngomong segala Sih!" ucap Livy.
"Suara siapa itu?" tanya Angga. "Enggak kok itu suara TV." ucap Livy.
"Saya tidak bodoh Livy, saya sudah tau Permainan kamu di belakang saya, saya ingin kita putus. Saya ingin menyudahi hubungan banyak penghianatan ini." ucap Angga.
"Sayang kok kamu ngomong gitu sih? Sayang!!!" namun langsung di matikan oleh Angga.
"Berani-beraninya dia mempermainkan saya!" ucap Angga.
__ADS_1
"Saya minta maaf tuan, karena saya Tuan jadi sangat marah kepada non Livy." ucap Fani padahal dalam hati nya sangat senang sekali.
"sejak kapan kamu tau itu? kenapa kamu tidak memberi tahu saya segera?" tanya Angga.
"Saya tau Tentang itu sudah beberapa bulan yang lalu Tuan itu sebab nya saya menghabiskan uang banyak membayar mata-mata di sana." ucap Fani.
"Saya akan Menganti uang kamu." ucap Angga. "Hah! seriusan Tuan?" tanya Fani. Angga menganguk.
Angga mengambil handphone nya dan mengirim ke rekening Fani.
"Apa ini cukup?" tanya Angga. Fani kaget melihat Nominal nya karena Biaya yang dia keluarkan tidak sampai setengah dari biaya yang di berikan oleh Angga..
Fani sangat senang sekali.
"Kalau begitu kamu bisa bekerja." ucap Angga..Fani menganguk.
"Terimakasih banyak yah Tuan. Oh iya Tuan kalau boleh tau Siapa wanita yang tuan dapat itu?" tanya Fani. Angga menatap Fani.
"Kamu jangan Kepo!" ucap Angga.
"Huff saya tidak melihat Tuan bertemu wanita baru akhir-akhir ini, saya jadi penasaran, apakah itu saya?" tanya Fani.
"Hummm saya tidak tertarik dengan Sekretaris saya!" ucap Angga. "Humm kalau pekerja lainnya?" tanya Fani.
Angga terdiam sejenak sambil berfikir keras.
"Saya yakin kamu bukan lah perempuan bodoh, kamu pasti sudah tau Siapa yang saya maksud bukan?" ucap Angga. Fani dengan polos menggeleng kan kepala nya.
"Tidak mungkin kamu tidak tau karena setiap hari kamu bersama saya." ucap Angga.
"Saya tidak tau Tuan. Saya ingin mendengar dari Tuan langsung, saya janji tidak akan memberi tahu pada siapapun." ucap Fani.
"Kamu janji?" ucap Angga. Fani menganguk.
Angga sudah mendekat kan diri dengan Fani. Fani juga sudah siap mendengar nya namun tiba-tiba ada orang masuk.
"Apa! Tuan Angga dengan Bu Fani memiliki Hubungan? Mereka hampir saja ciuman." Batin Staf yang baru saja datang itu.
"Saya mengantar kan data-data untuk Tuan Angga. Setelah itu dia langsung keluar.
"Aaaaaa....." Dia berteriak kembali ke meja kerja nya membuat semua orang Heran.
"Ada apa?" tanya Staf yang lain.
"Aku melihat Tuan Angga dan Bu Fani mau ciuman. Mereka pasti pasangan. mampus deh kita. kalau pasangan Tuan Angga Bu Fani pasti Bu Fani semakin tegas kepada kita " ucap Staf itu.
"Cepat beri tahu saya Tuan." ucap Fani. "Kamu janji tidak akan memberi tahu siapa pun kan?" ucap Angga. Fani Menganguk.
__ADS_1
"Orang itu adalah Tania." ucap Angga. Fani seketika langsung tersenyum manis.
"Kok kamu senyum-senyum? Kenapa tidak kaget? Apa menurut kamu itu tidak Aneh?" tanya Angga.