
"Ya Allah kuatkan aku, sabar kan aku. Ini semua adalah kesalahan ku, aku harus menanggung nya." ucap Tania.
Dia pun mulai menyuapi sarapan itu ke dalam mulutnya.
Rasanya cukup enak namun Air yang di sembur kan oleh Angga tidak bisa dia lupakan.
Angga tersenyum melihat Tania. "Wanita rese, tidak tau sopan santun pantas mendapatkan perlakuan seperti ini!" ucap Angga dalam hati.
Tidak beberapa lama akhirnya makanan itu habis. Kebetulan juga Tania lapar karena dari rumah dia tidak berselera untuk makan.
"Saya akan menyimpan piring ini Tuan." ucap Tania.
"Pekerjaan mu belum selesai, ambil kan pakaian saya dan bantu saya ke kamar mandi." ucap Angga.
Tania sedikit kebingungan namun dia segera membantu Angga untuk berdiri.
"Kenapa badan Tuan sangat hangat sekali." ucap Tania berusaha untuk menopang badan Angga namun dia merasa suhu badan Angga tidak seperti suhu badan biasanya.
"Jangan hanya protes saja, lakukan pekerjaan mu dengan baik!" ucap Angga. Tania Pun langsung diam.
Tania sampai di kamar mandi. "Tuan seperti nya demam lebih baik Tuan jangan mandi dulu." ucap Tania.
"Lebih baik kau keluar saja!" ucap Angga. Tania keluar dari pada harus mendengarkan Angga marah-marah.
Dia berjalan ke arah Lemari pakaian Angga, dia memilih pakaian Angga yang seperti biasa dia lihat saja. "Permisi Bu Tania, mari ikut dengan saya." ucap Dara yang baru saja masuk ke kamar Angga.
"Tapi bagaimana dengan Tuan Angga?" tanya Tania.
"Ada pelayan yang Akan datang membantu nya." ucap Dara.
"Huff dasar! Dia sudah mengerjai aku." batin Tania.
Tania mengikuti Dara keluar.
"Di mana anak saya mbak?" tanya Tania.
"Anak ibu sedang bersama pengasuh nya, ibu tidak perlu khawatir, karena pengasuh yang di sewa bukan lah pengasuh sembarangan, dia bisa di Percaya karena sebelumnya dia juga sudah bekerja menjadi pengasuh di keluarga Tuan Angga." ucap Dara.
Tania tidak sengaja melihat dari Eki sangat tenang di kasuh dari lantai atas. Melihat itu dia tenang.
__ADS_1
"Tunggu dulu mbak, kalau boleh tau kita mau kemana?" tanya Tania.
"Saya akan menunjukkan ruangan penjahit yang sudah di sediakan untuk Ibu." ucap Dara. "Oohh.."
mereka sampai di ruangan yang begitu luas dan juga sangat gelap.
Dara menghidupkan lampu nya.
Tania sangat kagum melihat kelengkapan alat-alat dan semua bahan namun kelihatannya sudah sangat lama sehingga berdebu.
Barang-barang Tania juga sudah di bawa ke sana. "Ibu Sudah bisa memulai bekerja." ucap Dara. "Baiklah, terimakasih banyak yah mbak." ucap Tania.
Dara tersenyum. "Kalau ada sesuatu yang penting bisa langsung Mengabari saya. Di sana ada telepon rumah dan juga pembicaraan akan di rekam." ucap Dara.
Tania menganguk sambil tersenyum, setelah itu dara pun keluar dari sana. Tania masuk sambil membawa alat-alat nya yang cukup banyak.
Semua alat-alat di sini sangat lah bagus-bagus dan juga sangat lengkap, ruangan yang begitu luas, dan terlihat nyaman." batin Tania.
Dia duduk di salah satu mesin penjahit.
"Alat ini seperti nya sudah kurang bagus karena jarang di gunakan." ucap Tania.
"Ekhem-Ekhem!!" Tania langsung berdiri ketika melihat Angga dan Fani serta bodyguard nya di belakang mereka.
"Lupakan saja! Saya membawa tukang servis mesin jahit. Mungkin ada beberapa yang rusak, dia akan memperbaiki." ucap Angga.
Setelah itu dia pun langsung pergi meninggalkan Tania.
"Tuan Angga terlihat sangat berbeda ketika di depan bawahan nya dan ketika sendiri." ucap Tania.
"Ketika bersama bawahan nya dia terlihat baik-baik saja dan ketika sendiri dia terlihat mempunyai sakit yang banyak." ucap Tania.
"Ah sudahlah percuma saja aku perduli." ucap Tania dia mulai bekerja.
Angga di ruangan kerja nya sangat sibuk dengan pekerjaan nya sehingga dia melupakan sakit nya. Tiba-tiba kepala nya pusing.
Dia memijat-mijat nya sedikit namun tetap saja terasa pusing. "Fani!" panggil nya. Fani langsung masuk.
"Iyah Tuan ada yang bisa saya bantu?" tanya Fani.
__ADS_1
"Panggil kan dokter ke kamar saya." ucap Angga. Belum di jawab oleh Fani Angga sudah pergi.
Dia ke kamar nya langsung. Tidak terasa Jas yang di buat oleh Tania sudah 80% jadi, namun dia bingung harus membuat model nya, dia tidak ingin salah lagi dia memutuskan untuk bertanya pada Tuan Angga.
"Permisi Pak, apa bapak melihat Tuan Angga?" tanya Tania pada bodyguard yang berdiri di sudut ruangan itu.
"Ada di kamar nya." jawab bodyguard itu. Tania merasa seram melihat wajah bodyguard itu.
Dia mengucapkan terimakasih dia berjalan menuju kamar Tuan Angga.
"Permisi Tuan." Dia mengetuk pintu. Namun tidak ada jawaban. Dia mengingat Dara yang tidak mengetuk pintu sebelum masuk akhirnya dia pun memberanikan diri.
"Tuan Angga!" ucap Tania kaget melihat Angga tergeletak di lantai. Dia sangat panik membantu mengangkat Angga ke tempat tidur.
"Apa yang terjadi Tuan?" tanya Tania. Angga membuka mata nya sedikit.
"Badan saya terasa sangat berat dan juga sakit." jawab Angga dengan sangat lemas.
Dia bisa merasakan badan Angga yang semakin panas.
Tidak beberapa lama dokter datang. "Apa yang terjadi dengan Tuan Angga Dok?" tanya Tania.
"Luka Tuan Angga yang di bagian Perut nya infeksi lagi karena tidak langsung di tangani oleh dokter." ucap dokter.
"Luka Di bagian perut?" Tania kebingungan. "Kamu tidak bisa membiarkan ini semakin parah, kami akan menindaklanjuti." ucap dokter.
Keadaan Angga pun di umumkan di rumah itu. Angga segera di bawa ke rumah sakit milik nya sendiri. Di sana dia di tangani oleh dokter bedah untuk mengobati Luka nya.
Hanya di bagian luar saja yang kering namun di dalam sudah infeksi.
"Tok!! Tok!! Tok!!" Fani mengetuk pintu ruangan Tania. Tania melihat ke arah Fani berdiri sambil memberikan hormat.
"Tidak perlu berlebihan seperti itu. Duduk saja." ucap Fani.
"Mau bagaimana pun anda adalah sekretaris Tuan Angga, saya harus sopan." ucap Tania. "Tapi kamu lebih dewasa dari pada saya. Tidak perlu berlebihan anggap saja kita berteman ketika di luar pekerjaan." ucap Fani.
Tania tersenyum.
"Wahh Jas buatan kamu sangat Bagus sekali." ucap Fani.. Tania tersenyum sambil mengucap kan terima kasih.
__ADS_1
Fani memandangi Tania yang sedang fokus menjahit. "Kenapa mbak menatap ku seperti itu?" tanya Tania. Fani langsung tersenyum. Dia menggeleng kan kepala nya.
"Kamu mengingatkan saya pada seseorang." ucap Fani. Tania tersenyum. "Kalau boleh tau apa itu orang yang sangat spesial bagi mbak?" tanya Tania.