Janda Muda Dan Brondong Kaya

Janda Muda Dan Brondong Kaya
Episode 132


__ADS_3

"Aku tidak ingin berdebat dengan papah, sebaiknya aku pulang saja." ucap Angga dengan marah.


"Tunggu dulu! Papah mau berbicara dengan kamu." ucap Papah nya. Angga kembali duduk di tempat duduk nya.


"Ada apa Pah?" tanya Angga.


"Bagaimana hubungan kamu dengan Livy?" tanya Papah nya.


"Semua nya baik-baik aja Pah." ucap Angga. "Kamu jujur kepada Papah!" Angga menghela nafas panjang.


"Tidak perlu percaya kepada Livy Pah, dia sengaja membuat masalah." ucap Angga.


"Kamu tidak perlu menutupi semua nya. Livy sudah mengatakan semua yang sudah terjadi." ucap papah nya. "Apa yang papah maksud?"


"Kamu yang membuat Lidya dan Mamah kamu kecelakaan kan?"


Angga seketika langsung terdiam. Dunia seakan berhenti ketika mendengar pertanyaan dari orang tua nya itu.


"Kenapa kamu diam?"


"Itu tidak seperti yang di katakan oleh Livy!" ucap Angga.


"Tidak seperti yang di katakan Livy? Dia mempunyai bukti. Papah melihat CCTV yang ada pada nya kalau kamu memutuskan tapi rem mobil Lidya." ucap Papah nya.


Angga menggeleng kan kepala nya. "Tidak mungkin Pah, aku tidak mungkin melakukan itu. Aku sangat mencintai Lidya dan di sana ada mamah, mana mungkin aku melakukan itu." ucap Angga.


"Papah tau kalau kamu tidak ingin menikah dengan Livy. Mamah sama papah berinisiatif untuk mengundurkan pernikahan kalian agar pekerjaan kamu lancar namun Livy tidak mau, dia mengancam kalau tidak jadi menikah dia akan memberikan rekaman CCTV kepada keluarga Lidya." ucap papah nya.


Angga Menghela nafas panjang, dia langsung terdiam. "Papah tidak mungkin membiarkan kamu terkena kasus ini, Papah juga akan hancur. Nama baik kita akan hancur hanya karena kasus ini, sebaiknya kamu menikah secepatnya dengan dia." ucap papah nya.


"Aku tidak percaya kalau yang membuat mereka meninggal adalah aku Pah, aku akan mencari bukti yang sesungguhnya." ucap Angga.


"Tidak ada waktu banyak." ucap Papah nya.


"Papah gak percaya sama aku? Papah sama sekali gak Percaya kalau bukan aku yang melakukan itu?" ucap Angga.


"Papah melihat rekaman CCTV nya Angga, CCTV itu sudah bisa membuat kamu terbukti bersalah."


Angga mengusap kepala nya dengan kasar.


"Apa yang harus aku lakukan Pah?" ucap Angga.

__ADS_1


"Tidak ada yang bisa kamu lakukan selain menikah dengan dia. Kalian juga saling mencintai. Papah yakin kamu dengan Livy pasti bahagia."


Angga menggeleng kan kepala nya. "Aku akan membuktikan kalau bukan aku pembunuh nya, aku akan mencari bukti nya." ucap Angga.


Dia langsung pergi dari sana. Angga menemui Rendi dan mencari tau rekaman CCTV rumah nya sebelum di rombak dulu.


Namun setelah di periksa semua nya sudah hilang. "Pasti Ini adalah perbuatan Livy. Ini pasti di ambil oleh Livy." ucap Angga.


"Kenapa tuan berbicara seperti itu? Non Livy tidak mungkin mengambil rekaman CCTV dari sini karena pada saat itu dia belum kembali ke Indonesia." ucap Rendi.


"Dia adalah wanita licik, dia pasti melakukan banyak hal." ucap Angga. "Saya yakin kita pasti bisa menemukan bukti kalau tuan tidak bersalah. Tuan tidak perlu khawatir." ucap Rendi.


"Terimakasih banyak Rendi. Kamu harus terus membantu saya." ucap Angga. Rendi menganguk.


Cukup lama mereka mencari tahu sampai tidak terasa sudah semakin malam.


"Tuan ini sudah jam satu, sebaik nya kita pulang dan istirahat di rumah." ucap Rendi. "Kalau kamu mau pulang, kembali lah terlebih dahulu. Saya akan terus mencari tau." ucap Angga sambil fokus pada komputer nya.


Rendi menghela nafas panjang. "Baiklah Tuan kalau begitu ." Rendi akhirnya pergi dari sana.


Angga fokus terus kepada komputer nya mencari tau tentang kejadian tiga tahun yang lalu.


Sudah berjam-jam dia di depan komputer tapi tetap saja tidak ada informasi yang dia temukan.


Selepas sholat dia kefikiran Angga. Tania menoleh ke arah handphone nya. Memeriksa berharap ada pesan dari Angga namun tidak ada.


"Kemana dia? tidak biasa nya seperti ini, apa jangan-jangan dia marah padaku karena aku meminta dia menyelesaikan masalah nya?" ucap Tania berbicara sendiri.


"Mbak baru selesai sholat?" ucap Mona yang baru saja masuk ke kamar.


"Sssttt!!! Jangan berisik."


"Iyah mbak, enggak." ucap Mona.


Dia duduk di samping Tania.


"Ada apa? Kenapa kamu seperti ingin menyampaikan sesuatu?" tanya Tania.


Mona menggeleng kan kepala nya. Dia bersandar di pundak Tania.


"Ada apa?" tanya Tania. "Aku hanya ingin bersandar di sini." ucap Mona. Tania menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Emang nya kamu gak sekolah?" tanya Tania.


"Sekolah sih mbak." ucap Mona. "Kamu gak semangat karena Tomi sudah pergi yah?" ucap Tania. Mona diam.


"Humm jangan terlalu di pikirkan. Nanti sekolah kamu terganggu. Kalau sekolah kamu terganggu mbak akan melarang kamu bersama dia." ucap Tania.


Mona langsung duduk. "Jangan gitu dong mbak, aku hanya sedih saja karena baru saja ketemu namun sudah berpisah lagi untuk dua bulan." ucap Mona.


"Kamu harus melihat pembuktian Tomi bagaimana, kamu jangan sedih. Dia fokus dengan pekerjaan nya kamu juga harus fokus dengan sekolah mu." ucap Tania.


Mona memeluk Tania. "Iyah mbak, terimakasih yah mbak sudah mau mengijinkan aku dekat dengan Tomi lagi." ucap Mona.


"Mbak akan melakukan apapun yang membuat Adek mbak bahagia." ucap Tania.


"Hummm Sayang banget sama mbak, terimakasih yah mbak." ucap Mona memeluk Tania begitu erat dan mencium nya.


"Sudah-sudah mandi gih, setelah itu berangkat ke sekolah, mbak juga mau masak dulu baru siap-siap ke tempat kerja." ucap Tania.


"Aku bantuin masak yah mbak." ucap Mona. Tania menggeleng kan kepala nya.


"Tidak perlu, ayo buruan mandi gih." ucap Tania. Mona menganguk.


Tania keluar dari kamar nya berjalan ke arah dapur.


Melihat hanya ada telur dan nasi dingin.


"Semua nya sudah tidak ada." ucap Tania dalam hati.


Waktu nya sarapan.


"Mbak hanya masak nasi goreng sarapan pagi ini Gak apa-apa kan? Bahan masak di dapur tidak ada." ucap Tania.


"Gak apa-apa mbak, ini juga sudah enak." ucap Mona.


"Ya ampun Bibik lupa untuk belanja. Maafin Bibik yah. Nanti Bibik pergi belanja." ucap Bibik sisi.


Tania membuka dompetnya memberikan uang kepada Bibik sisi. "Ini untuk uang belanja Bibik." ucap Tania.


"Gak perlu Tania, Bibik masih punya uang." ucap Bibik. "Ambil saja Bik." ucap Tania memaksa.


"Ini untuk Bibik." ucap Tania memberikan uang lebih untuk Bibik Sisi.

__ADS_1


"Terimakasih banyak yah Tania." ucap Bibik Sisi.


__ADS_2