
"Justru saya yang bertanya kenapa bapak bisa di sini?" tanya Nada. "Kamu lupa yah kalau saya adalah teman nya Nada, saya sering datang berkunjung ketika memiliki hari libur." ucap Aris.
"Tapi Tania tidak ada di sini." ucap Nada. "Loh di mana?" tanya Aris. Nada menceritakan semua nya karena merasa Aris adalah teman baik Tania.
Aris mendengar cerita itu sangat kaget sekali. Dia sama sekali tidak tau apa-apa.
"Lalu bagaimana dengan keadaan Mona?" tanya Aris. "Sebaiknya bapak melihat nya langsung." ucap Nada.
"Apa kamu mau langsung pulang?" tanya Aris. "Saya harus kembali ke butik Pak." ucap Nada. "Apa boleh saja mengantarkan kamu?" tanya Aris lagi.
"Terimakasih banyak Pak, Tapi saya membawa mobil sendiri." ucap Nada. Aris tidak berhasil mengantarkan Nada pulang.
Setelah Nada pergi dia langsung berjalan menuju rumah Bibik Sisi.
"Assalamualaikum Bik." Aris masuk dan melihat keadaan Mona. Sebelum Pergi dari sana dia juga meninggalkan uang untuk membantu Bibik Sisi.
Di sore hari nya Nada baru bisa ke rumah Angga.
"Tania!" panggil Nada yang berdiri di depan pintu dan melihat Nada berdiri di depan pintu.
"Nada?" dia langsung membuka pintu karena security tidak ada di sana.
"Bagaimana keadaan Eki?" tanya Nada. "Sudah membaik kok. Sekarang dia sudah sehat dan bisa kamu bawa pada Bibik sisi." ucap Tania.
Nada menganguk.
"Oh iya ini ada surat di depan rumah mu, aku membaca nya dan ini sangat penting." ucap Nada.
Tania membuka nya langsung paham. "Aku akan mengusahakan nya." ucap Tania. Nada tersenyum.
"Eh iya Tuan Angga di mana? Aku sudah lama tidak bertemu dan tidak melihat wajah tampan nya." ucap Nada. Tania menunjuk ke arah kolam berenang.
"What?! Apa benar itu tuan Angga?" ucap Nada kaget melihat Angga yang bertelanjang Dada mengunakan celana piyama yang panjang dan sambil menggendong Eki.
"Aku harus mengabadikan momen ini, aku sangat suka melihat nya." ucap Nada mau mengambil foto namun Tania menahan nya.
"Aku mohon jangan Nada, tuan Angga sangat tidak suka hal seperti ini, kita berdua akan terkena masalah." ucap Tania.
"Oh iya yah kamu benar juga." ucap Nada.
__ADS_1
"Ya ampun Eki kamu sangat beruntung sekali bisa bersandar di dada yang bidang, kekar Dan sang putih itu." ucap Nada. Tania hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat teman nya yang sangat tergila-gila pada Angga.
"Ya ampun urat-urat nya membuat aku ikhlas memberikan diri ku pada nya gratis asal aku bisa merabah seluruh tubuh nya dan merasakan Bibir nya yang merah itu." ucap Nada.
"Kamu jangan terlalu berlebihan Nada. Tuan Angga sudah memiliki kekasih mana mungkin kamu mendapatkan nya." ucap Tania.
"Aku akan mendapatkan Tuan Angga suatu saat nanti. Sebelum dia menikah masih ada kesempatan untuk ku." ucap Nada. Tania hanya bisa menghela nafas panjang saja.
"Oh iya kamu sudah lihat kabar hangat terkini tidak?" tanya Nada.
"Kabar apa?" tanya Tania.
"Semua media membicarakan kamu dengan Tuan Angga." ucap Nada. Tania membuka komentar orang-orang.
Dan ternyata sangat banyak yang menghujat dan mengatakan tidak cocok sama sekali.
"Sudah lah aku tidak perduli, aku juga melakukan itu karena terpaksa." ucap Tania.
"Aku tidak habis pikir kamu akan pergi ke acara seperti ini di bawa oleh tuan Angga. Dan di sini kalian sangat romantis sekali membuat ku Cemburu." ucap Nada.
"Aku mengatakan kalau aku melakukan itu hanya karena terpaksa." ucap Tania. "Kamu tidak memiliki perasaan kan sama Tuan Angga?" ucap Nada.
"Apa kalian sedang membicarakan saya?" tanya Angga.
"Enggak kok tuan." ucap Nada sambil tersenyum seperti tidak bersalah.
"Dan kau kenapa bisa ada di sini?" tanya Angga.
"Saya ingin menjemput Eki tuan agar tidak menganggu Tania bekerja." ucap Nada.
"Dia belum sehat, saya akan mengantarkan nya sendiri kalau sudah sehat." ucap Angga. "Tapi Tuan, Tania sudah mengatakan kalau sudah bisa di bawa pulang." ucap Nada.
"Ambil saja kalau dia mau." ucap Angga memberikan Eki namun tiba-tiba Eki menangis. Dia paham Akan di bawa pulang.
Nada kaget karena Eki sama sekali tidak mau melepaskan Angga tidak mau juga berpisah.
"Sudah lihat kan dia tidak mau pulang, sebaik nya anda kembali." ucap Angga. Nada hanya bisa terdiam. dia bingung harus bersifat seperti apa.
"Bagaimana ini Tania?" tanya Nada.
__ADS_1
"sebaiknya Eki biar di bawa oleh Nada Tuan. Di sini Eki sudah banyak merepotkan Tuan." ucap Tania.
"Kau adalah ibu nya, sudah seharusnya kau bertanggung jawab untuk merawat nya, kenapa kau menitipkan nya kepada orang lain." ucap Angga.
"Tapi Tuan." " Tidak ada tapi-tapian! Kamu orang tua yang tidak becus sama sekali!" ucap Angga. Tania dan Nada hanya bisa diam.
Angga membawa Eki jauh dari Mereka agar bisa lebih tenang.
"Aaarrrhh!! sangat ngeselin banget, di yang dari awal tidak mengijinkan aku membawa anak dan dia sangat membenci Anak kecil." ucap Tania..
"Yang sabar Tania." ucap Nada. "Kalau seperti ini aku tidak akan bisa sabar sama sekali. Dasar pria batu!!" Ucap Tania.
Cukup lama mereka berbincang-bincang Nada pamit pulang.
Sebenarnya dia merasa senang karena Eki bersama Orang tua nya namun bagaimana pun Tania pasti terganggu sehingga membuat Angga Terus menerus marah kepada nya.
Tania masuk ke dalam mau ke kamar nya namun tiba-tiba Angga memanggil nya.
"Hey kau ke sini!" ucap Angga. Tania heran siapa yang di panggil Angga namun hanya dia yang ada di sana.
"Cepat lah ke sini." ucap Angga dengan wajah yang aneh.
Tania masuk ke kamar. "Ada apa tuan?" tanya Tania. "Kenapa Eki menimbulkan bau yang aneh?" tanya Angga.
Tania memeriksa popok nya dan ternyata sudah bera*.
"Uwekk-uwekk... Angga berlari ke kamar mandi memuntahkan semua isi perut nya sampai dia Lemas.
Tania tertawa melihat Angga muntah karena mengetahui Eki bera*.
"Apa kau sudah menukar nya?" tanya Angga. Tania yang duduk menemani Eki menoleh ke arah Angga.
"Sudah Tuan." ucap Tania.
"Kenapa Masih sangat bau? Apa pembersih udara itu rusak?" tanya Angga. "Itu hanya perasaan tuan saja, tidak ada bau sama sekali." ucap Tania.
Angga terlihat sangat pucat.
"Ambil kan saya Air minum." ucap Angga. Tania mengambil air dan memberikan nya pada Angga.
__ADS_1
Angga menatap Eki yang tertawa melihat nya. "Kamu sangat keterlaluan, saya hampir kehilangan nyawa saya." ucap Angga.