
"Kalau boleh tau Tuan dengan siapa ke sini? Ini Anak Siapa? Kenapa dia sangat tampan sama seperti Tuan." ucap Claudia.
"Kamu tidak perlu tau urusan orang lain!" ucap Angga. Dia mengeluarkan uang satu lembar kepada Claudia dan segera pergi.
Claudia Menghela nafas panjang.
"Huff Tuan Angga kenapa sangat Cuek sih." ucap Claudia sedih.
Dia melihat uang Angga. "Ya ampun aku bisa memegang uang yang keluar dari kantong Tuan Angga?" ucap Claudia dia mencium wangi uang itu.
"Ya ampun ini Wangi banget. Aku harus menyimpan uang ini dengan baik." ucap Claudia.
Angga masuk ke rumah sakit namun semua orang melihat ke arah mereka dengan tatapan aneh. Angga kebingungan dia melihat ke Eki yang di gendong nya dan ternyata Eki sudah sangat kotor karena cokelat bahkan baju nya sudah benar-benar kotor sekali.
Angga menghela nafas kasar menatap Eki dengan tatapan tajam kesal, marah campur aduk.
"Apa yang kamu lakukan?" ucap Angga marah membuang coklat yang di tangan Eki. Eki kaget dia terdiam sampai di kamar mandi Angga merasa apes sekali.
dia menduduk kan Eki di atas wastafel.
"Kamu sudah membuat kekacauan kepada saya hari ini. Kamu menguji kesabaran saya!" ucap Angga.
Eki melihat Angga seperti nya benar-benar marah. "Mamah kamu membuat kepala saya hampir meledak, namun kamu juga semakin menambah nya." ucap Angga.
Tiba-tiba Eki menangis. Angga tidak perduli dia membuka Jas dan juga kemeja, untung Saja dia memakai kaus Hitam di dalam jadi tidak terlalu kelihatan.
Celana nya yang tadi sudah mulai kering. Dia menelpon supir nya membawa baju anak kecil. Setelah supir datang dia belajar untuk menukar baju Eki.
Eki tidak berhenti menangis sampai pihak rumah sakit yang mendengar itu datang.
"Ada apa pak?" Tanya Perawat. "Tidak apa-apa." jawab Angga. "Biar saya bantu pak." ucap Perawat membuka baju Eki. Membersihkan seluruh badan Eki dan menukar dengan pakaian yang baru.
Di gendong dengan perawat itu Eki diam. Setelah diam Angga mengambil nya lagi.
"Terimakasih sudah membantu saya." ucap Angga. Perawat Mengangguk dan setelah itu langsung keluar.
Eki tidak berhenti menatap wajah Angga. "Kenapa kamu menatap saya seperti itu?" ucap Angga tiba-tiba Eki menangis lagi.
"Baiklah-baiklah! Saya meminta maaf." ucap Angga merubah wajah dingin nya jadi ramah. Setelah membujuk Eki dia naik ke lantai atas keruangan Tania.
__ADS_1
"Maafin saya Eki, saya hanya bingung harus bagaimana berbicara kepada Tania. Saya sudah jujur namun entah mengapa kejujuran saya terasa sangat tidak berarti." ucap Angga.
Angga masuk ke ruangan Tania dan ternyata tidak ada Bibik Sisi di sana. "Saya mau memberikan Eki kepada Bu Sisi. Dia kemana?" tanya Angga pada Tania.
Tania menepuk kasur di sebelah nya meminta Eki di tidur kan di sana. Angga membaringkan Eki yang sudah tidur di samping Tania.
Angga menatap mata Tania. Begitu juga dengan Tania tidak sengaja mata mereka bertemu.
Namun Angga langsung sadar.
Sebaiknya saya menunggu di luar." ucap Angga. "Tuan sebaiknya pulang. Tadi Mbak Dara sudah bertanya di mana tuan." ucap Tania.
Angga Menggeleng kan kepala nya.."Saya tidak akan meninggalkan kamu di sini sebelum kamu benar-benar sembuh." ucap Angga.
"Tapi Tuan belum ada istirahat." ucap Tania. "Kamu mengkhawatirkan saya?" ucap Angga. Tania terdiam.
"Saya Akan tidur di sini sebentar." ucap Angga berbaring di sofa. Tidak beberapa lama mata nya langsung terpejam.
Namun baru saja tertidur dia melihat sudah ada laki-laki yang tidak asing baginya duduk berbicara dengan Tania.
Dia membuka mata nya lebih jelas dan ternyata itu adalah Aris. Mereka berbincang-bincang sangat asik sehingga melupakan ada dia yang sedang istirahat.
"Bagus dong, semoga lancar yah. Kamu juga pasti di terima." ucap Tania.
"Doain yah." ucap Angga
Tania memaksa untuk tersenyumlah.
"Aku sudah sangat lama di sini, aku juga takut jika menganggu tidur bos kamu, aku pulang dulu yah." ucap Aris.
"Kenapa begitu cepat? Apa kamu mau bertemu dengan nada?" tanya Tania.
Aris tersenyum. "Hari ini Nada meminta bantuan ku untuk mengantarkan nya ke rumah Orang tua nya." ucap Aris. Tania tersenyum.
"Ya sudah kalau begitu. Kamu hati-hati yah." ucap Tania.
Aris menganguk. Dia mencium Eki dan pergi. Angga bangun dia melihat Tania yang tiba-tiba merasa sedih.
"Ternyata aku salah mengira kalau Tania dan juga Aris memiliki hubungan." batin Angga. Dia duduk memerhatikan Tania.
__ADS_1
"Apa jangan-jangan selama ini Tania yang suka kepada Aris." batin Angga.
"Ada apa dengan mu?" tanya Angga. Tania menoleh ke arah Angga.
"Apa saya dengan Aris membangun kan Tuan?" ucap Tania. Angga Menggeleng kan kepala nya.
Dia melihat Eki. "Seperti nya dia sangat nyenyak." ucap Angga.
Tania diam. "Saya tadi marah kepada nya sehingga dia menangis." ucap Angga.. Tania menatap Angga.
"Kenapa Tuan memarahinya?" tanya Tania dengan tatapan khawatir.
Angga terlihat menyesal. "Sudah lah Tuan lupakan saja, Eki terkadang membuat kesal, saya yang meminta maaf." ucap Tania.
Angga Menghela nafas panjang. "Saya tidak mengerti bagaimana harus menyikapi anak kecil." ucap Angga.
"Saya ingin belajar menyanyangi anak kecil, saya juga ingin mengenal kamu lebih jauh. Saya ingin kamu bisa menerima saya." ucap Angga.
Tania menghela nafas panjang. "Tuan tidak benar-benar mencintai saya, Tuan hanya tertarik, tuan hanya penasaran." ucap Tania.
Angga Menggeleng kan kepala. "Saya awalnya berfikir seperti itu. Namun saya sudah berusaha untuk memikirkan nya, dan benar saja kalau saya mencintai kamu. Saya tidak bisa menghilangkan kamu dari pikiran saya." ucap Angga.
"Saya mencintai kamu itu adalah urusan saya, kalau kamu tidak bisa menerima saya saya tidak akan memaksa nya untuk sekarang, namun saya tidak akan pernah melepaskan kamu!" ucap Angga.
Tania menatap wajah Angga.
"Saya akan memberikan bukti kalau saya benar-benar mencintai kamu." ucap Angga.
"Tapi saya rasa itu tidak lah mungkin tuan." ucap Tania.
"Apa karena kamu sangat mencintai mantan pacar kamu itu?" tanya Angga. "Tuan seperti nya sudah lupa dengan peraturan yang tuan berikan " ucap Tania.
"Peraturan apa?" tanya Angga.
"Peraturan kalau di rumah itu tidak ada yang boleh saling jatuh cinta dan berhubungan." ucap Tania.
"Dari mana kamu tau itu?" tanya Angga.
"Semua orang memberi tahu itu kepada ku, kalau tuan membuat peraturan seperti itu sebaiknya Tuan juga mengikuti itu." ucap Tania.
__ADS_1