
"Loh Tania mana?" Danil kembali ke kursi nya namun Tania sudah tidak ada lagi.
"Bapak mencari teman bapak tadi yah?" tanya Pelayan.
"Iyah, dia kemana yah?" tanya Danil "Sudah pulang terlebih dahulu Pak."
"Kalau begitu saya juga akan pergi, minta bill nya." ucap Danil. Setelah dari kantin dia langsung ke Butik.
"kenapa kamu meninggalkan saya di kantin begitu saja?" tanya Danil masuk ke ruangan menjahit Tania.
"Saya harus segera kembali bekerja Pak. Maafkan saya kalau membuat Bapak marah." ucap Tania.
"Sudah lupakan saja, saya boleh meminta nomor kamu?" tanya Danil.
"Untuk apa Pak?" tanya Tania.
"Agar kita bisa lebih kenal lagi, agar saya juga bisa tau kapan baju saja selesai." ucap Danil.
Kemarin alasan Danil juga seperti itu, namun Tania bukan wanita yang mudah tertipu.
"Maaf kan saya pak, Tapi saya tidak bisa memberikan nomor pribadi karena nomor Butik sudah ada." ucap Tania.
Danil Menghela nafas panjang. "Apa kamu sedang memiliki hati yang harus di jaga itu sebab nya kamu tidak mau memberikan nomor mu?" tanya Danil. Tania menghela nafas panjang menatap Danil.
"Bapak hanya pelanggan saya di sini, bapak tidak harus menanyakan kehidupan pribadi saya." ucap Tania. Danil Menghela nafas panjang.
"Baiklah-baiklah kalau begitu." ucap Danil. "Ternyata kamu cukup setia juga yah, kamu membuat saya semakin tertarik saja." ucap Danil.
Tania mendengar Danil mengatakan tertarik membuat nya takut.
Sedikit-sedikit dia tau tentang Danil yang jelas bukan orang yang baik. Baik kalau ada mau nya saja.
"Tidak perlu di ambil hati kata-kata saya." ucap Danil melihat Tania tiba-tiba tegang.
"Sebaiknya bapak pulang saja, saya akan kembali bekerja." ucap Tania. "Saya akan menemani kamu di sini, saya juga ingin melihat bagaimana cara kamu menjahit." ucap Danil.
"Tapi saya belum menjahit Jas Bapak." ucap Tania. Danil melihat jas yang di tangan Tania. "Jas Angga? Dia sudah di penjara, kenapa kamu malah melanjutkan menjait nya." ucap Danil.
"Tuan Danil tidak mungkin melakukan itu, pasti ada orang yang memfitnah dia." ucap Tania. Danil tersenyum.
"Kamu baru saja mengenal Angga, mana mungkin kamu tau dia seperti apa." ucap Danil. Tania menatap Danil.
"Cepat atau lambat semua nya akan terbukti kalau Tuan Angga tidak melakukan itu. Kebenaran akan terungkap." ucap Tania.
__ADS_1
Danil tersenyum. "Sekarang sudah kebenaran. Kebenaran apa lagi?" ucap Danil. Tania Menatap Daniel.
"Kenapa bapak kelihatan sangat panik seperti itu?" ucap Tania..
"Siapa yang panik? Saya tidak panik." ucap Daniel berusaha untuk Santai. Tania mengalihkan pandangannya ke mesin nya.
"Sebaiknya bapak pergi dari sini. Kalau bapak di sini mengganggu saya, Jas bapak tidak akan selesai." ucap Tania.
Danil sudah merasa kesal akhirnya dia pergi dari sana.
Tania Menghela nafas panjang. "Semoga saja Angga benar-benar tidak bersalah." ucap Tania.
Dua hari sudah kasus berjalan...
Angga di interogasi tapi dia bingung harus menjelaskan apa karena dia merasa tidak melakukan itu.
Fani sudah menyewa Pengacara yang sangat di andalkan oleh keluarga itu.
Sebelum pengacara ke kantor polisi mereka berunding terlebih dahulu.
"Dara dan Nada datang membawa bukti yang sebenarnya. tidak butuh waktu lama mereka sudah bisa menemukan bukti karena sudah sangat banyak yang membantu mereka, itu sebabnya mudah i dapat kan.
Di tambah lagi informasi dari Tania membuat mereka sangat cepat mendapatkan bukti CCTV yang sebenarnya.
Livy yang tadi nya senyum-senyum indah dan sangat senang karena merasa menang, tapi setelah melihat Fani datang bersama Pengacara dan juga Nada serta Dara, Rendi, rombongan lain nya membuat dia panik.
"Apa-apaan ini? Kenapa ramai-ramai datang ke sini?" tanya Livy.
"Kamu sudah menemukan bukti yang sebenarnya, yang bersalah siap-siap saja masuk ke jeruji besi." ucap Dara.
"Apa maksud kamu?" ucap Livy.
"Ada apa ini ribut-ribut? Fani bawa pengacara nya masuk ke dalam." ucap Orang tua Angga..
Mereka semua sudah kelihatan sangat panik sekali.
"Bapak dan Ibu tidak perlu khawatir, karena kita sudah menemukan kebenaran nya." ucap Nada kepada Orang tua Angga.
"Bagaimana bisa saya tidak panik atau khawatir. Anak saya di dalam sana." ucap papah Angga.
Nada menoleh ke arah Livy. dan juga keluarga Lidya.
Beberapa jam saja Tiba-tiba polisi datang membawa Danil.
__ADS_1
Semua orang Heran. Livy yang melihat itu panik dia mau kabur namun langsung di tahan oleh Rendi dan Dara..
"Mau kemana non? Non harus mempertanggungjawabkan perbuatan Kalian!" ucap Rendi.
"Menjauh lah, aku tidak bersalah," ucap Livy. Namun polisi langsung memborgol tangan nya.
"Ada apa ini?" Semua nya bingung.
"Yang merusak Rem mobil Lidya adalah pak Danil, dan yang membuat Lidya dan Ibu kandung Tuan Angga adalah Livy. Mereka bersekongkol." ucap Dara.
Orang tua Angga menatap Livy.
"Jangan percaya om, itu tidak benar." ucap Livy. Orang tua Angga menatap Danil.
"Saya sudah sangat percaya kepada kalian berdua. Namun kenapa kalian sangat tega melakukan ini?" ucap papah Angga.
"Tidak mungkin om. Jangan Percaya." ucap Livy.
"Saya menyesal sudah berada di pihak kalian sebelum nya." ucap papah Angga sangat marah sekali.
Bukti langsung di putar, ternyata rekaman asli ada pada Danil. Dan yang di miliki oleh Livy adalah editan.
Dan lagi banyak bukti lain.
Orang tua Angga sangat lega sekali melihat bukti itu, polisi langsung menindaklanjuti mereka berdua. Sementara Angga sudah bebas karena di nyatakan tidak bersalah, karena kejadian itu dia tidak berada di kota ini.
Nada langsung Mengabari Tania. Tania sangat senang mendengar kabar gembira itu, sudah tiga hari masalah itu membuat nya tidak fokus bekerja, tidak berselera makan.
Namun sekarang dia sudah sangat lega. "Alhamdulillah ya Allah." ucap Tania dia melihat jas Angga yang sudah jadi terpajang di sudut ruangan itu.
Dan sekarang yang dia kerjakan adalah jas Danil. Dia harus menyelesaikan nya karena itu sudah di bayar, mau di ambil atau tidak itu bukan urusan dia.
Angga memeluk orang tua nya sambil menangis. Dia sudah sangat Takut tidak ada yang bisa membebaskan dia.
"Kamu harus berterimakasih pada semua orang yang membantu kamu di sini." ucap Orang tua Angga.
Angga tersenyum kepada semua anggota nya. Dia melihat Nada. Mereka semua berpelukan.
"Terimakasih sudah mau membantu dan menolong saya." ucap Angga.
"Sama-sama tuan, mana mungkin kami membiarkan bos Tampan kami di penjara Tampa sebab." ucap Dara.
"Kamu bisa saja." ucap Angga.
__ADS_1
"Tapi Tuan masih harus mengucapkan terimakasih kepada satu orang lagi." ucap Dara.