
"Sebelum masalah nya Selesai Tuan tidak boleh sembarangan seperti ini!" ucap Tania.
Angga memasang wajah lesu.
"Sebaiknya Tuan pergi. Tuan harus pergi sekarang juga!" ucap Tania mendorong Angga namun Angga menahan tangan Tania. Dia mendorong Tania ke pintu mengunci kedua tangan nya di atas kepala.
."Tuan Apa yang akan Tuan lakukan?" ucap Tania.
"Jangan memanggilku dengan sebutan itu. Sebutan itu akan membuat saya semakin gila!" ucap Angga kepada Tania menatap nya dengan sangat tajam.
"Aku mohon jangan seperti ini." ucap Tania. Angga menatap Tania dengan sangat tajam. "Lepaskan aku." ucap Tania mendorong Angga namun dia tidak memiliki tenaga yang begitu kuat.
"Saya tidak kuat lagi Tania." ucap Angga langsung mencium bibir Tania dengan sangat kasar, Tania berontak namun Angga berbuat kasar.
Tania semakin melawan Angga berbuat kasar. Akhirnya Tania pasrah Air mata keluar dari kelopak mata nya.
Angga menarik Tania ke sofa. Dia tidak perduli Tania menangis, namun Tania membalas ciuman Angga. Sesekali dia mencoba untuk menyadar kan Angga namun percuma saja.
Angga membuka jas dan juga kemeja nya dia menatap Tania dengan tatapan penuh gairah namun ada rasa sedih di hati nya.
Melihat Tania sudah pasrah membuat nya merasa bersalah. Dia meletakkan kepalanya di bahu Tania sambil menangis.
Dia menangis. "Hiks!! Hiks!! hiks!! Saya tidak ingin kamu pergi." ucap Angga. Tania hanya diam.
Angga duduk menunduk kan kepala nya. Suasana hati Angga sedang tidak baik akhirnya Tania membujuk nya dengan cara memeluk nya. Memberikan ciuman lembut.
Angga merasakan ciuman tulus dari Tania, dia membalas dan mereka memilih untuk pindah dari sana.
Angga membawa Tania dari butik ke penginapan terdekat, Angga dan Tania semakin panas mereka tidak ingat dunia sekarang mereka hanya ingin menyalurkan hasrat masing-masing.
Angga berpelukan dengan Tania. Untuk sementara mereka tidak merasa takut untuk kehilangan karena sudah bersama.
Di Butik Nada mau memberikan ukuran badan pelanggan kepada Tania namun dia Heran Tania dan Angga tidak ada di sana.
"Loh kemana mereka?" tanya Nada.
__ADS_1
Dia tidak melihat tas atau pun handphone Tania. "Apa dia pulang? Bagaimana sih?" ucap Nada kesal.
Di sore hari nya Tania bangun dia melihat Angga yang duduk di balkon kamar sambil merokok dan juga minum.
"Apa yang kamu lakukan?" ucap Tania mengambil rokok dan juga minum membuang nya ke tempat sampah.
Angga kaget dia menatap Tania.
"Kenapa kamu melakukan itu?" tanya Angga dengan nada yang begitu lesu.
"Kamu kenapa merokok? Kenapa kamu minum? aku tidak suka!" ucap Tania. Angga menunduk kan kepala nya.
"Hanya dengan cara ini saya bisa menenangkan pikiran." ucap Angga.
Tania menghela nafas panjang. "Kamu jangan coba-coba untuk melakukan itu lagi!" ucap Tania. Angga menarik tangan Tania dan meminta duduk di pangkuan nya.
"Kalau kamu tidak ingin saya melakukan itu kamu harus bersama saya, tidak perduli apapun yang terjadi kita harus tetap bersama." ucap Angga.
Tania menatap mata Tania.
"Kamu tidak boleh melawan orang tua kamu, mereka adalah segalanya, kalau bukan karena mereka kamu tidak akan bisa seperti ini." ucap Tania.
"Saya tidak akan menikah dengan Livy." ucap Angga. "Tapi itu adalah permintaan orang tua kamu." ucap Tania. Angga menghela nafas panjang. "Saya tidak mencintai dia." ucap Angga lagi.
"Baiklah-baiklah aku mengerti, tapi sekarang kamu harus kembali dan menyelesaikan pekerjaan kamu." ucap Tania. Angga mencium pipi Tania.
"Saya ingin bertemu dengan kamu setiap hari. Saya tidak tau harus melakukan apa kalau tidak bertemu kamu." ucap Angga.
"Humm seperti nya Kamu sudah tergila-gila kepada janda anak satu ini." ucap Tania, Angga memasang wajah cemberut.
"Aku hanya bercanda. Kalau tidak ada yang melihat kita masih aman, tapi kalau ada yang melihat mereka akan melaporkan kepada orang tua Kamu dan juga kepada Livy." ucap Tania.
"Eki di Mana?" tanya Angga. "Ada di rumah bersama Bibik Sisi." ucap Tania. "Saya akan mengantarkan kamu pulang." ucap Angga.
Tania menggeleng kan kepala nya. "Tidak mungkin! kamu harus pulang sendiri, aku juga harus ke Butik. Nada pasti marah aku pergi dari Butik tidak ijin." ucap Tania.
__ADS_1
Angga mengangguk. "Kalau begitu kamu hati-hati." ucap Angga, Tania mengangguk.
Tania segera meninggalkan Angga dari sana agar tidak ada teman melihat mereka.
Tania sampai di butik.
"Tania kamu dari mana saja?" tanya Nada kepada Tania. "Maafin aku yah, aku pergi dari Butik tiba-tiba ada kejadian mendesak." ucap Tania.
Nada memerhatikan penampilan Tania.
"Kok makeup kamu luntur sih? Humm pakaian kamu juga berantakan. Bibir kamu bengkak ada apa?" tanya Nada.
"Aku hanya kurang enak badan." ucap Tania. "Eh tunggu dulu deh, mana mungkin kurang enak badan seperti ini." ucap nya melihat leher Tania sudah ada tanda merah.
Tania langsung menutup nya.
"Hayoo kamu ngapain sama Tuan Angga?" ucap Nada. Tania menarik tangan Nada ke dalam ruangan itu.
"Pelan-pelan Tania sakit tau!" ucap Nada.
"Aku mohon jangan beritahu Siapa pun." ucap Tania. "Kamu habis tidur dengan Tuan Angga yah?" tanya Nada, Tania menggeleng kan kepala nya.
"Enggak!! Kamu jangan salah paham, kamu hanya melakukan hal-hal tipis saja, tidak sampai ke sana." ucap Tania. Nada tersenyum curiga.
"Kau bersumpah, aku hanya ingin menenangkan Tuan Angga!" ucap Tania. "Masa sih." ucap Nada lagi.
"Aku juga sudah sangat merindukan dia." ucap Tania.
"Seperti nya Eki akan mendapatkan Adik baru dengan cepat." ucap Nada. "Jangan berfikir seperti itu, kamu tidak melakukan hal yang tidak-tidak." ucap Tania.
"Iyah-iyah aku paham kok," ucap Nada. "Jangan beri tahu siapa pun." ucap Tania. "Iyah.. kamu pasti sangat suka yah kan di sentuh dan di cium oleh tuan Angga, aku jadi iri deh, kamu sangat beruntung." ucap Nada.
Tania tersenyum. "Kamu sudah lama tidak di sentuh oleh seorang lelaki pasti rasanya sekarang nikmat bukan?" ucap Nada, Tania memukul lengan Nada.
"Jangan berbicara seperti itu!" ucap Tania.
__ADS_1
"Aku hanya bercanda saja." ucap Nada, Tania menghela nafas panjang. "Ya udah deh kalau begitu aku mau menyelesaikan pekerjaan ku." ucap Tania.
"Kamu pasti sudah sangat capek, sebaik nya kamu pulang saja." ucap Nada. Tania menatap Nada. "Huff kamu bisa berhenti mengejek ku tidak?" ucap Tania dengan kesal. Nada tertawa.