
Setelah selesai dia lanjut bekerja.
Bibik sisi di dalam bus termenung. Dia mengingat dulu betapa sedihnya Tania mengandung sendirian, melahirkan hanya di temani dia ke dukun karena tidak memiliki uang.
Bibik sisi masih mengingat dengan sangat jelas kepedihan Tania yang di tinggal kan suami, dan juga orang tua nya.
Berada di titik sekarang tidak lah muda bagi Tania. Dan Bibik Sisi hanya ingin Tania menikmati masa sendiri nya dulu, berbahagia bersama anak dan Adik nya.
Tidak terasa sudah sore Angga belum bisa pulang karena pekerjaan nya belum selesai, padahal orang tua nya sudah menelpon karena Eki menangis tiba-tiba dan memanggil papah.
Setelah beberapa lama akhir nya selesai juga. "Tuan ini butuh di tanda tangani." ucap Fani.
"Antar ke rumah saja, saya harus pulang cepat." ucap Angga.
"Ini akan di kirim malam ini juga." ucap Fani. Namun Angga tidak menghiraukan nya dia pergi begitu saja meninggalkan Fani yang kebingungan.
"Tuan mau kemana buru-buru tanya Stevan di bawah.
"Eki menangis di rumah." ucap Angga langsung masuk ke dalam mobil.
Stevan terdiam sejenak.
"Tuan Angga kenapa buru-buru sih? Seperti mengejar sesuatu." ucap Fani Bertanya kepada Stevan.
Stevan menoleh ke arah Fani.
"Kenapa kamu melihat ku seperti itu? Jawab pertanyaan ku!" ucap Fani. Stevan terdiam karena Fani sangat jarang berbicara dengan nya selain di jam kerja karena membahas pekerjaan.
"Kata nya mau mengejar Eki yang menangis di rumah." ucap Stevan. Fani Menghela nafas kasar.
"Ada apa?" tanya Stevan.
"Ini ada surat-surat yang harus di tanda tangani agar bisa langsung di kirim malam ini juga." ucap Fani.
"Kalau begitu ayo Susul tuan Angga ke rumah nya. Aku sudah selesai bekerja." ucap Stevan.
"Baiklah, aku juga sudah istirahat." ucap Fani.
Akhirnya mereka menyusul Angga ke rumah. Angga sepanjang perjalanan menancap gas agar cepat sampai di rumah.
Setelah sampai dia keluar dari dalam mobil. Semua orang yang siap menyambut nya keheranan karena Angga keluar terburu-buru.
"Di mana Eki?" tanya Angga.
"Ada di atas Tuan bersama bapak dan Ibu." ucap Dara.
Angga berlari ke atas. Sampai di atas dia melihat Eki yang menangis di gendongan mamah nya.
__ADS_1
Namun setelah di gendong oleh Angga dia langsung diam, seperti nya sudah lama menangis dan kelihatan sangat lelah sekali.
"Kenapa kamu menangis?" tanya Angga kepada Eki.
"Papah.... Mamah... hanya itu yang keluar dari mulut Eki.
Angga mencoba menenangkan nya memberikan susu dan akhirnya tertidur.
"Dari siang tadi Eki tidak tidur yah mah?" tanya Angga kepada Mamah nya.
"Dia di bawa main-main oleh anak yang lain di lantai bawah sehingga tidak mau tidur." ucap Mamah nya.
Angga menghela nafas panjang, dia menatap wajah Eki.
"Seperti nya dia sudah kelelahan sekali." ucap Angga mengelus kepala Eki.
Di tempat lain Tania melihat ke arah pintu ruangan nya.
"Biasanya jam segini dia sudah datang, namun kenapa tak kunjung datang." batin Tania.
"Huff seperti nya dia langsung pulang ke rumah." batin Tania.
"Hayoo mbak nungguin siapa?" tanya Kasir yang baru saja datang.
"Aku nungguin kamu lah, kamu akhirnya datang juga, mana laporan nya aku akan segera ke rumah Nada hari ini." ucap Tania.
"Aku harus mengunjungi Nada." ucap Tania.
"Oohh ya udah kalau begitu, mbak hati-hati yah.. Maafin aku jadi ngerepotin mbak seperti ini." ucap Kasir.
"Tidak apa-apa. Kalau begitu Ku pergi dulu yah." ucap Tania. Tania menggunakan Taksi online ke rumah Nada. Tidak beberapa lama akhirnya sudah sampai di sana.
"Assalamualaikum..." Tania mengetuk pintu.
"Walaikumsalam." jawab Orang tua Nada.
"Eh kamu Tania, ayo masuk..." Orang tua nya sangat ramah menyambut Tania.
"Ada Nada nya Bu?" tanya Tania.
"Dia lagi di kamar, kamu langsung ke kamar nya saja." ucap Orang tua Nada.
"Baiklah Bu." ucap Nada, dia berjalan ke arah kamar Nada.
"Permisi..." Tania membuka pintu.. Nada menoleh ke arah pintu.
"Akhirnya kamu datang juga Tania..." ucap Nada.
__ADS_1
"Ada apa? Kenapa seperti nya kamu memiliki Masalah?" tanya Tania.
"Kamu datang sendirian?" tanya nada.
"Iyah.. Eki ada pada Angga." ucap Tania. "Oohhh." ucap Nada.
"Kamu kenapa? Kelihatan nya kamu memiliki masalah." ucap Tania. Nada menunjuk kan foto yang ada di handphone nya kepada Tania.
Tania penasaran dia langsung melihat dan sangat terkejut melihat foto yang ada di handphone Nada.
"Ini kan Mantan Aris." ucap Tania.
"Iyahh.. Teman aku melihat mereka siang tadi bertemu." ucap Nada.
"Tidak mungkin deh, soalnya siang tadi Aris dari Butik." ucap Tania.
"Tempat ini tidak jauh dari Butik, ini juga sekitar jam dua, aku tau dia datang ke Butik hanya sebentar saja." ucap Nada. Tania terdiam dia tidak bisa mengantakan apa pun.
"Aku yakin mereka pasti memiliki hubungan lagi, Aris selingkuh di belakang ku." ucap Nada.
"Kamu jangan berfikir yang aneh-aneh dulu. Coba tanya baik-baik sama Aris." ucap Tania.
"Dia tidak mungkin jujur." ucap Nada. Tania Menghela nafas panjang.
"Kenapa setelah mau menikah seperti nya ini aku tau dia masih dekat dengan mantan nya?"' ucap Nada.
"Aku sangat menyesali buru-buru mau menikah sementara aku belum tau dia seperti apa." ucap Nada.
"Ssstttt jangan berbicara seperti itu. Kamu tidak boleh langsung percaya sebelum mencari tau." ucap Tania.
Tiba-tiba ada pesan masuk foto baru. Ternyata foto Aris dan juga mantan nya nonton bioskop sama-sama. Teman Nada yang di suruh mengikuti Aris memberikan laporan.
Melihat itu Nada sangat kecewa, dia mencoba menelpon namun tidak bisa di telpon nomor Aris.
Tania juga tidak bisa mengatakan apapun karena kelihatan nya Aris benar-benar selingkuh.
"Ap yang harus lakukan Tania? Apa aku membatalkan pernikahan ini saja?" ucap Nada.
"Jangan Nada... kamu dan juga keluarga kamu pasti akan sangat malu. Mereka juga pasti akan marah kepada kamu." ucap Tania.
"Aku sudah tidak mau kalau seperti ini, aku merasa sangat bodoh sudah sangat percaya kepada Aris, namun ternyata dia seperti ini." ucap Nada.
"Aku sudah lama mengenal Aris, tidak mungkin dia seperti ini. Aku akan membantu mencari tau yang sebenarnya." ucap Tania.
"Kamu jangan gegabah dulu, ingat pernikahan kamu sudah mau dekat. Undangan sudah tersebar." ucap Tania.
Nada menangis. "Aku benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa kalau sudah seperti ini, Aris membuat aku sakit hati."' ucap Nada.
__ADS_1