
"Kenapa Masih sangat bau? Apa pembersih udara itu rusak?" tanya Angga. "Itu hanya perasaan tuan saja, tidak ada bau sama sekali." ucap Tania.
Angga terlihat sangat pucat.
"Ambil kan saya Air minum." ucap Angga. Tania mengambil air dan memberikan nya pada Angga.
Angga menatap Eki yang tertawa melihat nya. "Kamu sangat keterlaluan, saya hampir kehilangan nyawa saya." ucap Angga.
Tania tersenyum. "Bau kotoran anak bayi tidak se bau kotoran dewasa. Tuan terlalu berlebihan sekali." ucap Tania.
"Bagaimana bisa kau mengatakan saya berlebihan? Seumur hidup saya baru kali ini melihat anak kecil membuang kotoran nya." ucap Angga.
"Ya udah kalau begitu saya akan keluar." ucap Tania mengendong Eki. "Kau harus menyiapkan pakaian dan air mandi ku." ucap Angga.
Tania menganguk dia pun langsung mengerjakan perintah bos nya itu.
"Apa hari ini kau tidak menjahit?" tanya Angga pada Tania yang berdiri di depan Lemari.
"Bagaimana bisa saya bekerja tuan. Saya harus mengikuti Eki Kemana pun Tuan membawa nya." ucap Tania.
"Apa kau mencurigai saya?" tanya Angga. Tania menggeleng kan kepala nya.
"Anak saya terlalu nakal, saya takut itu akan merepotkan tuan." ucap Tania. "Lain kali kau tidak perlu khawatir Atau takut. Saya mulai terbiasa dengan hal ini." ucap Angga.
Tania menatap Angga.
"Terbiasa?" ucap Tania.
"Humm saya rasa Eki bisa membuat saya tidak merasa bosan ketika sedang bekerja atau melakukan apapun." ucap Angga.
"Tapi Tuan pasti keganggu." ucap Tania.
"Sedikit terganggu tapi itu bukan lah masalah yang besar." ucap Angga. Tania menatap Angga dengan tatapan bingung.
"Huff beberapa Minggu yang lalu dia sangat membenci suara anak kecil, dan sekarang dia yang selalu ingin bersama anak kecil." batin Tania.
"Kenapa kamu menatap saya seperti itu? Apa kau berniat mau membantu saya membuat anak kecil?" tanya Angga. Tania membulat kan mata nya dengan sempurna kaget campur heran karena Angga berbicara sangat gampang sekali.
"Tidak Tuan. Saya tidak mau." ucap Tania.
"Saya akan membayar nya. Berapa pun yang kau minta." ucap Angga sambil menoleh ke arah perut rata Tania.
"Tuan jangan berfikir yang tidak-tidak yah, tidak semua nya harus di beli dan di bayar. Saya tidak memberikan rahim saya kepada orang lain." ucap Tania.
__ADS_1
Angga menatap Tania. Dia berdiri dan mendekati nya.
"Apa kamu meragukan saya? Saya bisa membuat perut rata mu ini kembali mengembang seperti balon." ucap Angga.
Tania mendorong Angga namun tidak terasa oleh Angga.
"Menikah lah dengan saya dan berikan saya anak sama imut nya seperti Eki." ucap Angga.
"Maafkan saya Tuan, saya tidak bisa." ucap Tania mau menepis Angga namun sekarang di sudah terkurung di dua tangan Angga di depan lemari.
wajah nya semakin panik. Di tatap oleh Angga membuat nya deg-degan.
"Saya ingin kau menikah dengan saya!" ucap Angga. Tania tidak berani menatap wajah Angga.
"Kenapa kau terlihat takut seperti itu? Apa menikah dengan saya adalah mimpi buruk untuk kau?" tanya Angga.
"Cihhh mana mungkin saya menikah dengan janda seperti kau, itu tidak pernah saya inginkan dan tidak terlintas di pikiran saya menikah dengan pelayan." ucap Angga.
Tania tiba-tiba mendorong Angga dari depan nya.
Dia langsung pergi setelah meletakkan pakaian di atas kasur.
Dia membawa Eki dan segera pergi.
Angga tertawa karena berhasil membuat Tania gugup.
Saat mau ke kamar mandi tidak sengaja dia menginjak kertas.
"Apa ini?" ucap nya. Dia membuka nya dan ternyata surat penagihan hutang Untuk Tania.
"Untuk apa uang segini untuk wanita itu?" ucap Angga.
"Tapi seperti nya hutang ini sudah lama." ucap nya.
Dia membaca semua nya sampai dia paham.
Di malam hari nya.. Tania sedang asyik bermain dengan Eki. "Tangkap.." Tania melemparkan bola agar di kejar oleh Eki namun berhenti di kaki Angga.
Eki langsung berlari kepada Angga. Tania melihat itu menghela nafas panjang.
"Nih cowok gak siap-siap nya mengganggu kenyamanan ku." batin Tania.
"Apa ini milik mu?" tanya Angga menjulurkan surat.
__ADS_1
Tania mau mengambil nya namun tiba-tiba di tahan oleh Angga.
"Saya tau kau memiliki hutang yang cukup banyak menurut mu. Saya akan membantu membayar nya, tapi kau harus ma menikah dan memberikan saya keturunan." ucap Angga.
"Sampai kapan pun saya tidak mau menikah dengan orang yang lebih muda dari saya! Karena bocah tengil seperti Tuan tidak akan bisa membimbing saya!" ucap Tania.
Angga tertawa dengan ledekan Tania. "Berani-beraninya kau mengolok-olok saya!" ucap Angga. "Tuan membuat saya tidak nyaman seperti ini, banyak perempuan yang menjual rahim nya kepada Tuan, kenapa harus saya?" ucap Tania.
"Karena saya ingin memiliki keturunan seperti Eki " ucap Angga. "Oh iya Tuan saya lupa bilang kalau sifat anak itu tergantung orang tua nya." ucap Tania.
Angga langsung paham apa yang di maksud oleh Tania.
"Kamu mengatakan orang tua nya Eki baik sementara saya tidak?" ucap Angga.
"Saya tidak mengatakan seperti itu." ucap Tania.
"Tapi kau tujuan nya ke sana kan? Kamu harus di hukum karena berani kepada saya." ucap Angga.
Tania Menghela nafas panjang. "Sebaiknya Tuan jangan menambahkan masalah kepada saya. Saya ingin istirahat dengan tenang karena ini sudah waktunya untuk istirahat." ucap Tania.
"Bekerja sebagai pelayan di sini harus 24 jam tidak ada jam istirahat." Ucap Angga.
Tania hanya bisa pasrah, dia bingung harus mengatakan apa pada Tuan nya itu agar dia pergi.
"Saya minta maaf tuan." Tania terpaksa meminta maaf karena dia juga tidak sopan.
Angga keluar begitu saja. Namun tiba-tiba kembali lagi membawa laptop nya.
"Mana nomor rekening mu? Saya belum membayar upah kamu menjadi kekasih pura-pura saya." ucap Angga. Tania memberikan nya.
"Saya sudah mengirim nya." ucap Angga menunjuk nya kepada Tania.
"Ini.. Ini sangat banyak tuan." ucap Tania.
"Ini juga sebagai upah lelah, karena kau sudah menjahit Jas membuat saya tampil keren malam kemarin." ucap Angga.
"Ini seriusan untuk saya tuan?" tanya Tania. Angga menganguk.
"Alhamdulillah ya Allah, aku bisa membayar hutang ku bulan ini." ucap Tania. dalam hati.
Eki sibuk main, Angga di sofa Sibuk dengan laptop nya.
Karena merasa Eki aman-aman saja dia pun memutuskan sholat isya terlebih dahulu sebelum tidur.
__ADS_1
Angga melihat nya masuk ke kamar mandi dan tidak beberapa lama sudah bertukar pakaian. Wanginya tercium oleh Angga.
Namun Angga hanya diam. Pura-pura tidak perduli namun mencuri-curi pandang.