
Tania tersenyum. "Aris ketika bersama dengan Nada berbeda sekali, penampilan nya sangat keren, dia juga Menata rambut Serta wangi banget. Berbeda sekali ketika mengajakku." ucap Tania.
"Ya udah deh kalau begitu sebaiknya kamu pulang yah, Tuan Angga tidak ada di sini." ucap Nada.
"Kami pulang dulu yah Tania. Kamu jaga diri baik-baik." ucap Aris.
Tania menganguk. Mereka pergi Tania melambaikan tangan nya walaupun dia benar-benar sangat cemburu ketika melihat Aris Membuka kan pintu untuk Nada.
"Aku gak boleh cemburu. Aku sendiri yang memilih untuk berteman dan tidak pacaran dengan nya." ucap Tania.
Aris adalah mantan nya. Setelah itu dia menikah dengan pria yang baru saja di kenal oleh nya namun sudah memikat hati nya orang tua nya juga setuju.
Setelah berpisah dengan suaminya Aris kembali. Aris meminta Tania untuk menjadi kekasih nya lagi namun Tania menolak karena dia sedang hamil.
Walaupun sebenarnya dia sangat mencintai Aris, dia tidak bisa melupakan cinta dan waktu bersama mereka selama itu.
Tidak terasa dua bulan sudah Tania berada di rumah Angga.
"Rendi!" panggil Tania kepada Rendi yang sedang bekerja.
"Ada apa? Kamu butuh sesuatu?" tanya Rendi. Tania menggeleng kan kepala nya.
"Lalu kamu ngapain ke sini? Ini bukan kawasan kamu, bagaimana kalau ada yang melihat pelayan masuk ke Sini?" tanya Rendi.
"Tenang saja di luar sepi kok, aku hanya ingin bertanya apa Tuan Angga Masih lama pulang?" tanya Tania. Rendi menatap Tania.
"Kenapa kamu bertanya tentang Tuan Angga? Jangan bilang kalau kamu Merindukan Tuan Angga." ucap Rendi. Tania langsung Menggeleng kan kepala nya.
"Enggak seperti itu, hanya saja aku sudah lama tidak melihat Eki, aku ingin pulang beberapa hari." ucap Tania.
Rendi menatap Tania. "Bagaimana kalau tuan Angga tau?" tanya Rendi.
"Aku mohon bantuan kamu. Aku merindukan Anak ku." ucap Tania.
"Ya sudah kalau begitu kamu boleh pergi, jangan sampai ada yang tau." ucap Rendi. Tania menganguk.
"Makasih yah Rendi." ucap Tania.
Rendi kembali bekerja karena masih ada dua jam lagi waktu untuk bekerja.
Tania keluar dari rumah itu dengan hati-hati agar tidak ada yang melihat nya.
"Semoga saja Tuan Angga tidak tau kalau aku keluar dari rumah. Lagian di Sana aku juga bosan. Tidak ada pekerjaan yang harus aku kerjakan selain menjahit." ucap Tania.
__ADS_1
Dia menggunakan taksi pulang ke rumah nya namun baru saja sampai dan membayar taksi Tania di jegat dua preman yang berbadan besar.
Itu adalah rentenir. Tania belum membayar tagihan nya bulan ini. dia bingung harus membayar nya bagaimana sementara dia tidak memiliki uang.
"Bayar utang mu!" ucap pria itu.
"Saya belum memiliki uang Pak, saya akan membayar nya ketika saya mendapat kan uang." ucap Tania.
"kami tidak perduli! Kau harus membayar nya sekarang!" ucap Pria itu mengambil tas Tania dan menyerak Kan semua nya karena tidak ada uang di dalam nya.
Melihat melihat Dompet Tania. "Nah ini dia." ucap Preman itu mau mengambil uang dari dalam namun Tania Menahan nya.
"Jangan pak, ini adalah uang saya, untuk beli keperluan dan makan saya." ucap Tania. Mereka tidak perduli mereka bahkan melukai Tania, mendorong nya sehingga kepala nya terbentur ke batu.
"Pak jangan ambil uang saya." ucap Tania.
"Ini hanya lah uang bunga nya saja, kami akan datang dua hari lagi!" ucap pria itu menendang kaki Tania.
"Aaaa.." Tania menjerit.
Tidak ada satu pun berani menolong dia, bahkan banyak juga yang julid.
"Loh bukannya dia bekerja dengan orang kaya? Kenapa dia tidak memiliki uang?" ucap ibu-ibu.
"Tania! Tania.." panggil Bibik Sisi.
"Kenapa kalian semua hanya melihat tidak membantu nya?" ucap Bibik Sisi.
"Kami mempunyai pekerjaan masingmasing." ucap semua nya dan langsung pergi.
"Aku tidak apa-apa bik, aku bisa sendiri." ucap Tania.
"Ya Allah Tania kepala mu luka, tangan dan bagian leher. Tiba-tiba Tania pingsan membuat Bibik Sisi kaget dan sangat khawatir sekali.
Di rumah Angga...
"Tuan Angga sudah dekat.." pengumuman. Rendi mendengar pengumuman itu membuat nya panik.
"Sudah dekat? Kenapa tuan Angga tidak bilang dia kembali hari ini? Bagaimana ini?" ucap Rendi sangat panik sekali karena dia mengijinkan Tania pergi.
Tidak beberapa lama Mobil Angga berhenti di depan rumah itu. Dia turun dari mobil dan di sambut semua karyawan dan pekerja yang ada di rumah itu.
"Selamat datang Tuan." ucap semua nya. Angga menganguk sambil membuka kaca mata nya dia berjalan masuk ke dalam namun dia tidak melihat wanita yang dia cari.
__ADS_1
"Rendi ikut dengan saya!" ucap Angga. Rendi mengikuti Angga walaupun jantung nya sudah berdetak dengan cepat.
"Di mana wanita itu? Apa kau tidak memberi tahu nya ketika saya sampai di sini semua orang harus menyambut saya di depan?" ucap Angga.
"Maafkan saya Tuan. Tania kembali ke rumah nya tadi siang karena merindukan Anak nya." ucap Rendi.
"Siapa yang memberikan Ijin? Kenapa tidak memberitahu kepada saya?" tanya Angga..
"Handphone Tuan tidak aktif. Saya juga tidak tau kalau Tuan akan pulang hari ini." ucap Rendi.
"Berani-beraninya kau memberikan dia ijin, apa kau sudah sanggup untuk bertanggung jawab?" ucap Angga. Rendi diam.
Angga menelpon nomor Tania namun tidak aktif.
"Siap kan mobil!" ucap Angga.
"Tuan baru saja sampai, Tuan mau pergi lagi?" tanya Rendi.
"Saya harus memberikan wanita itu hukuman!" ucap Angga.
"Ini tidak salah Tania Tuan, ini adalah salah saya, hukum saya!" ucap Rendi.
"Menyingkir lah dari Depan saya!" ucap Angga mendorong Rendi.
Semua orang terdiam mendengar suara Angga yang begitu kuat walaupun mereka tidak tau Masalah nya apa.
Melihat wajah angga semua nya gugup. Angga masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumah itu.
"Loe sih ngapain pakai ngijinin Tania pergi!" ucap Fani memukul Rendi. "Di merindukan anak nya, Anak nya juga pasti sudah merindukan dia." ucap Rendi.
Tidak beberapa lama Dara datang. "Kenapa Tuan Angga pergi lagi?" tanya Dara karena dia datang terakhir.
"Gak tau mbak, tuan Angga marah-marah karena Tania tidak ada di sini pergi tanpa ijin." ucap pelayan yang sudah sadar kalau Tania tidak ada.
Dara melihat ke arah Rendi dan Fani.
Mereka duduk di ruang tamu bertiga.
"Bagaimana pekerjaan nya?" tanya Fani. "Sukses!" ucap Dara bersorak.
"Aku sangat senang sekali." ucap Dara.
"Bagus deh kalau begitu, bisnis kita selanjutnya akan jauh lebih lancar." ucap Fani.
__ADS_1
"Perasaan Tuan Angga pulang sangat bersemangat sekali, kenapa dia malah pergi sih. Aku tidak pernah melihat Tuan Angga se senang itu mau pulang." ucap Dara.