Janda Muda Dan Brondong Kaya

Janda Muda Dan Brondong Kaya
Episode 115


__ADS_3

"Saya tidak pernah mengharapkan uang dari Tuan Angga karena saya tulus apa adanya mencintai nya." ucap Tania.


Livy tertawa.


"Kamu bukan mencintai Angga namun hanya mencintai uang nya dan jabatan nya." ucap Livy.


Tania menolak uang itu.


"Tuan simpan saja uang Tuan dan berikan pada orang yang sebenarnya mengincar nya." ucap Tania.


"Apa maksud kamu?" ucap Livy kesal.


"Saya permisi Tuan." ucap Tania.


Livy tiba-tiba jadi sangat kesal. "Sudah-sudah tidak perlu marah-marah, sekarang dia sudah pergi." ucap papah Angga.


Livy tersenyum.


"Terimakasih yah Om." ucap Livy. Papah Angga tersenyum.


"Tidak ada yang bisa merebut Angga dari ku, sekali pun wanita yang dia sukai dengan mudah aku akan membuat nya pergi." ucap Livy dalam hati.


Orang tua Angga tidak bisa lama-lama di sana. Mereka akhirnya pulang. Livy menyusul Angga ke kamar nya.


"Sayang ayok makan dulu." ucap Livy kepada Angga.


Angga yang duduk di pinggir kasur menatap Livy dengan tatapan tajam.


"Ini semua karena kamu!" ucap Angga. "Kenapa kamu menyalahkan aku? ini demi kebaikan hubungan kita." ucap Livy.


"Kebaikan Apa? aku dengan kamu tidak memiliki hubungan apapun, dan sampai kapan pun aku tidak akan menikah dengan kamu." ucap Angga.


"Aku juga tidak akan menyerah untuk mendapatkan kamu." ucap Livy. Angga tersenyum sinis.


"Saya sangat menyesal bertemu dengan kamu, mengenal kamu adalah penyesalan seumur hidup saya! Saya mau kamu pergi dari Rumah ini!" ucap Angga.


Livy menggeleng kan kepala nya. "Kalau kamu mengusir ku, aku akan memberi tahu kepada orang tua kamu." ucap Livy.


Angga merasa sangat kesal sekali.


"Sungguh wanita yang licik!" ucap Angga. "Aku tidak licik namun aku memperjuangkan cinta ku." ucap Livy.


Angga mengambil kunci mobil nya. "Kamu mau kemana? Kamu tidak bisa kemana-mana hari ini!" ucap Livy.


Angga menepis tangan Livy.


"Jangan berani-berani nya kamu melarang saya!" ucap Angga. Tiba-tiba handphone nya berdering telpon dari orang tua nya.

__ADS_1


"Halo Pah."


"Papah ingat kan sekali lagi jangan pernah menemui wanita itu kalau kamu mau keadaan dia baik-baik saja!" ucap Papah nya.


"Maksud papah apa?" ucap Angga.


"Papah memantau kamu setiap detik. Jangan berharap kamu bisa menemui wanita itu!" ucap papah nya.


"Pahh..."


"Tidak boleh di bantah! Kalau papah tau kamu menemui dia Papah pastikan kamu mendengar berita buruk tentang dia dan keluarganya." ucap papah nya.


"Aku mohon jangan Pah, jangan lakukan apapun kepada nya." ucap Angga.


panggilan langsung mati.


"Orang tua kamu lebih memihak ku, karena aku adalah mantu idaman mereka." ucap Livy.


Angga kesal dia pun pergi untuk menenangkan dirinya menemui kedua temannya yang sudah lama tidak pernah bertemu.


Sementara Tania masih di dalam taksi, dia bingung harus pulang Kemana. tidak mungkin dia pulang ke rumah nya dengan keadaan seperti itu.


Akhirnya dia memilih untuk menginap satu malam di hotel menenangkan diri nya.


Akhirnya sampai dia duduk di kasur sambil menangis.


"Sakit ini kembali lagi, aku merasakan nya lagi. Kenapa ini sangat menyiksa ku." ucap nya. Tiba-tiba handphone nya berdering dia melihat dari nomor baru.


Dia bingung mau menjawab nya atau tidak karena yang punya nomor nya hanya Angga.


"Halo!!" jawab nya.


"Tania ini aku, kamu di mana? Aku di suruh Tuan Angga untuk mengantarkan kamu ke rumah dengan selamat." ucap Dara.


"Aku sudah sampai. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku." ucap Tania.


"Kamu jangan menangis. Aku jadi ikut sedih." ucap Dara.


"Tidak apa-apa kok. Hanya butuh waktu untuk menyembuhkan nya." ucap Tania.


"Aku datang ke sana yah. Aku takut kamu kenapa-napa." ucap Dara.


"Aku baik-baik saja, kamu jaga tuan Angga yah, aku Percaya sama kamu." ucap Tania langsung mematikan sambungan telepon.


Dara menghela nafas panjang. "Bagaimana?" tanya Fani. Dara menggeleng kan kepala nya.


"Aku sangat sedih, rumah ini terasa jadi sangat sepi." ucap Dara.

__ADS_1


"Tidak perlu terlalu lebay! Dia baru Lima bulan di sini!" ucap Livy. Mereka berdua langsung diam.


Angga sampai di sebuah Club. "Apa kabar Bro?" tanya Dimas baru datang bersama Riski.


Angga bersalaman dengan mereka.


"Tidak begitu baik!" jawab Angga dengan wajah yang sangat lesu.


"Putus cinta? Apakah Livy membuat mu patah hati lagi? akhir-akhir ini berita tentang mu cukup baik." ucap Riski.


Angga menghela nafas panjang beberapa kali.


"Coba ceritakan, kami berdua siap untuk mendengarkan nya." ucap Riski.


"Sulit untuk di jelaskan, sebaik nya Kalian menemani aku untuk minum." ucap Angga.


Riski dan Dimas menarik botol minuman dan gelas Angga.


"Mabuk bukan jalan satu-satunya menyelesaikan masalah, tidak akan pernah selesai. Justru itu hanya terlupakan sesaat, setelah kamu sadar itu akan menghantui diri mu sendiri." ucap Dimas.


Angga mengacak-acak rambut nya.


"Wanita yang selama ini aku cari sudah berhasil aku temukan dan sudah menjadi kekasih ku, namun orang tua ku tidak menyetujui nya karena Livy adalah pilihan mereka." ucap Angga.


Mereka yang sudah tau wanita itu Siapa langsung terdiam.


"Tidak tau harus menjelaskan nya bagaimana namun untuk sekarang ini aku sangat putus asa. Bagaimana cara aku mendapatkan nya lagi." ucap Angga.


"Apakah orang tua kamu tau Siapa Tania?" tanya Dimas, Angga menganguk.


"Ini cukup sulit. Di tambah lagi kalau kamu meninggalkan Livy tidak segan-segan dia pasti menjatuhkan Nama kamu." ucap Dimas.


"Justru itu. Papah ku juga mengancam agar aku tidak menemui Tania." ucap Angga. Dimas dan Riski jadi ikut pusing.


"Apa yang harus aku lakukan?" ucap Angga.


"Keluarga kamu cukup rumit. Tidak ada yang boleh melakukan kesalahan. Di tambah lagi orang tua kamu sudah sangat merestui hubungan kalian." ucap Dimas. Angga menghela nafas panjang.


"Kamu hanya perlu mencari bukti kalau kamu tidak membunuh Lidya, kalau suatu saat nanti Livy mengadukan itu, kamu bisa membela diri." ucap Dimas.


"Bagaimana aku mencari bukti kalau aku tidak bersalah? Aku sendiri yang membuat Rem mobil Lidya blong karena aku berfikir dia akan pergi bersama Danil, itu seingat ku" ucap Angga.


Kedua nya langsung menepuk kepala masing-masing.


"Ini sungguh rumit sekali." ucap mereka berdua.


"Tapi aku tidak berniat untuk membunuh mereka, aku hanya membalas kan dendam ku kepada Danil yang sudah berani mengambil Lidya dari ku. Bahkan aku tidak tau kenapa aku melakukan itu, aku hanya mendengar penjelasan dari Livy" ucap Angga.

__ADS_1


"Sudah lupakan saja tentang itu, bagaimana kalau kamu menuruti saja keinginan Livy dan di saat dia lengah kamu mengambil bukti yang dia punya." ucap Dimas.


__ADS_2