Janda Muda Dan Brondong Kaya

Janda Muda Dan Brondong Kaya
Episode 32


__ADS_3

"Saya ingin Tuan menghapus isu itu, dan jangan pernah mengganggu Butik itu lagi. Saya yang mempunyai masalah di sini." ucap Tania.


"Baiklah Saya setuju." ucap Angga. Setelah di tanda tangani, Angga meminta dara mengurus semua nya. Di Butik Nada tiba-tiba di kasih tau kalau pesanan ada lagi. Nada mencoba melihat berita dan ternyata isu tentang Butik nya sudah hilang.


"Saya akan kembali ke rumah sakit melihat keadaan adik saya Tuan. Saya akan datang di pagi hari." ucap Tania.


"Kamu sudah boleh pulang. Ini adalah hari terakhir kamu menghabis kan waktu sebelum bekerja di sini." ucap Dara.


"Baik Mbak." ucap Tania. Dia beranjak dari tempat duduknya.


"Tunggu dulu!" Angga menahan Tania.


Tania berhenti dia menoleh ke arah Angga.


"Saya ingin berbicara dengan dia, kamu bisa keluar!" ucap Angga pada Dara.


"Baik Tuan." Dara meninggalkan mereka di ruangan itu.


Tania melihat Angga yang berjalan membuka lemari.


"Nah!" Angga memberikan kotak p3k pada Tania.


"Luka saya tidak terlalu sakit kok Tuan. Ini tidak parah." ucap Tania. "Saya tidak ingin kau membuat alasan lagi tidak datang bekerja!" ucap Angga.


Tania mengambil nya. Angga duduk di meja melihat Tania yang sangat ragu-ragu membersihkan Luka nya.


"Aaahh!!! Auhh!!" Dia meringis kesakitan ketika membersihkan Luka nya. "Kalau kau membersihkan nya seperti ini tidak akan selesai dan tidak akan sembuh." ucap Angga mengambil kapas.


"Pelan-pelan Tuan." ucap Tania. Angga menatap Tania membuat Tania langsung diam.


Angga duduk di lantai.


"Sakit Tuan." Tania menjerit. Angga melihat ternyata di luka itu adalah pasir sedikit sehingga sulit di bersihkan.


Tania menahan sakit sampai air mata nya keluar. Angga menatap Tania dia melihat juga tangan Tania yang meremas kaki nya sendiri karena sangat sakit.


Angga meniup nya agar tidak terlalu perih. Tania membuat tangan nya di bahu Angga.


"Sudah selesai! Saya sudah memecat security itu." ucap Angga.


Tania terdiam sejenak. "Lepaskan tangan mu dari bahu saya!" ucap Angga.

__ADS_1


"Ma-maaf Tuan." ucap Tania.


Angga memanggil supir untuk mengantarkan Tania.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah sakit. Tania melihat adik nya di dalam ruangan itu namun ternyata dia sedang tidur.


Tania duduk menunggu di luar. Namun dia melihat dokter keluar dari ruangan Tomi.


"Dok apa keluarga Tomi belum juga datang?" tanya Tania.


"Bibik nya yang datang menjaga dia di sini, dan dia juga sudah lebih baik sekarang. Kalau kamu mau masuk menjenguk nya silahkan." ucap dokter.


Tania menganguk. Dia belum melihat keadaan Tomi dia masuk ke dalam. ibu-ibu yang di dalam langsung keluar karena perintah Tomi.


"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Tania. Tomi belum bisa banyak berbicara dia hanya bisa menahan Tania.


"Saya tidak pernah berfikir kalau kamu akan sejahat ini kepada adik saya." ucap Tania.


"Karena kamu Adik saya lumpuh, dia masih di ruangan ICU. Saya sangat membenci kamu, dan jangan sampai saya melihat kamu bersama adik saya lagi!" ucap Tania.


Tomi hanya diam saja. Tania langsung keluar dan pulang ke rumah nya tidak lupa mengambil Eki dulu.


Eki di jemput oleh Tania sangat senang sekali.


Bibik nya mengkhawatirkan Tania namun dia tidak Keberatan kalau mengasuh Eki, dia Bibik angkat sekaligus tetangga Tania yang sangat baik sekali.


Di rumah Tania baru saja menidurkan anaknya. "Mamah berfikir sebelum nya hidup kita akan jauh lebih baik nak, namun sekarang mamah sangat pusing." ucap Tania.


"Dan untuk kamu. Mamah sangat minta maaf nak. Kamu jadi korban dari semua ini. Maafkan mamah." Tania memeluk anaknya dan menangis.


Besok pagi nya Nada pagi-pagi sekali sudah di depan rumah Tania. Dia menanyakan apa yang terjadi. Namun setelah mendengar keputusan Tania membuat nya sangat sedih karena Tania harus berjuang sendiri.


Penderitaan nya tak kunjung selesai.


Setelah cukup lama mereka berbincang-bincang Nada mengantarkan Tania ke rumah Angga.


"Kamu yakin Tania?" tanya Nada sambil menurunkan koper Tania. "Kamu jangan mengkhawatirkan aku. Aku ingin kamu menjaga adik dan juga anak ku, aku mohon kepada kamu." ucap Tania.


"Kamu tenang saja, aku akan melakukan yang terbaik untuk kamu." ucap Nada, dia melambaikan tangan membiarkan Tania masuk ke dalam.


Tania melihat rumah yang besar itu. Mengingat sifat Angga membuat nya langsung Takut.

__ADS_1


"Enggak bisa takut! Aku harus kuat. Ini hanya empat bulan." ucap Tania.


Di menarik koper nya masuk ke dalam.


"Selamat pagi Tania. Kamu cepat banget sampai nya." ucap Dara. "Saya tidak ingin Tuan Angga marah." ucap Tania.


"Bagus deh kalau begitu. Kamu harus mengusahakan agar Tuan Angga tidak marah.


"Ayo ikut dengan saya." ucap Dara.


"Saya akan mengantarkan kamu ke kamar kamu terlebih dahulu sebelum bekerja. Karena pekerjaan kamu di pagi hari sangat padat sekali." ucap Dara.


Tania dan Dara masuk ke lift. "Loh kamar saya di samping kamar tuan Angga?" tanya Tania. Dara menganguk.


"Kamu di sini khusus hanya melayani tuan Angga, semua tentang dia harus kamu urus." ucap Dara.


Sambil berjalan masuk ke dalam kamar Tania.


"Kamu bisa tidur di sini, semoga saja kamu betah dan selalu sabar." ucap Dara.


Tania menganguk. "Oh iya tugas kamu pagi ini membangun kan Tuan Angga sebelum jam sepuluh pagi. Sebelum itu dia harus Sudah siap untuk mulai bekerja. Menyimpan Sarapan dan juga Tuan Angga belum bisa mandi sehingga kamu membantu menyeka tubuh nya." ucap Dara.


"Kenapa aku seperti mengasuh anak kecil sih." batin Tania.


"Kamu juga harus merapikan kamar Tuan Angga setelah dia pergi kerja. Oh iya saya lupa kamu juga harus menyiapkan pakaian nya untuk bekerja." ucap Dara.


"Kamu paham kan?" ucap Dara. Tania menganguk walaupun sebenarnya dia rada-rada Takut.


"Kalau begitu kamu bisa lanjut bekerja. Ini seragam kamu." ucap Dara memberikan baju khusus pelayan putih hitam. Namun berbeda dari yang lain.


"Mbak yakin ini adalah Seragam nya? ini sangat kecil." ucap Tania setelah mencoba nya.


"Ini sudah sangat cantik, kamu harus segera membangun kan Tuan Angga!" ucap Dara. Tania langsung ke kamar Angga.


"Bismillahirrahmanirrahim aku pasti bisa." Dia membuka pintu kamar Angga pelan-pelan. Dan ternyata Angga sedang tidur.


"Ya Allah nih kamar kenapa sangat berantakan sekali." batin Tania. Dia membuka gorden mengunakan remote.


Cahaya masuk ke kamar itu membuat Angga bergeliat.


"Tuan Angga bangun! Ini sudah jam sembilan pagi. Tuan bekerja jam sepuluh pagi." ucap Tania meninggikan suara nya seperti membangun kan Adik nya. Dia menarik selimut Angga. Namun tiba-tiba dia berteriak.

__ADS_1


"Aaaaaa!!" Dia melempar kan selimut itu lagi pada Angga.


__ADS_2