
"Tangan Tuan harus seperti ini. Dia tidak akan kemana-mana kalau Tuan menahan nya dengan benar." ucap Tania memegang tangan Angga.
Eki sangat senang sekali.
"Tuan harus berdiri agar dia bisa tidur dengan cepat ucap Tania. Angga hanya bisa pasrah dia menurunkan Tania dan mengayunkan badan nya agar Eki nyaman.
"Nanti kalau Tuan mempunyai anak, Tuan tidak Akan kesusahan lagi!" ucap Tania. "Saya tidak Akan mempunyai anak!" ucap Angga.
"Iyah juga sih, Siapa juga perempuan yang mau menikah dengan Pria seperti Tuan!" gumam Tania.
"Saya mendengar nya!" ucap Angga. Tiba-tiba Eki terbangun karena suara Angga yang kuat. Dia langsung menenangkan Eki lagi.
"Kau mau kemana?" tanya Angga melihat Tania.
"Saya akan membuat Susu untuk Eki tuan." ucap Tania. "Bagaimana kalau dia tiba-tiba bangun? Bagaimana kalau dia menangis?" tanya Angga.
"Dia tidak akan menangis Tuan. Lihat dia sudah sangat nyeyak sekali." ucap Tania. Angga menghela nafas panjang.
Tania pun keluar.
Angga melihat pantulan diri di cermin lemari.
"Kenapa anak ini memilih saya dari pada Mamah nya sendiri? Apa wanita itu menyuruh nya?" batin Angga.
"Seorang nya dia sengaja melakukan itu agar bisa membalas rasa kesalnya kepada ku." ucap Angga.
"Sampai kapan aku akan terus seperti? Tangan dan pundak ku sudah sangat letih." ucap Angga.
Dia melihat Tania tak kunjung kembali ke kamar. "Huff kemana wanita itu!" ucap Angga.
Angga memberanikan menyentuh kulit Eki memastikan kalau badan nya memang hangat. Namun setelah di sentuh dan benar saja badan Eki masih panas.
"Kenapa tidak membawa nya ke rumah sakit saja?" Batin Angga.
"Maaf Tuan saya lama." ucap Tania yang baru saja kembali ke kamar. "Kau dari mana saja? Badan anak ini sangat panas sekali." ucap Angga.
"Saya harus membeli susu dulu." ucap Tania. Dia meletakkan Tangan nya di dahi anak nya.
__ADS_1
"Kenapa panas nya tak kunjung turun." ucap Tania.
"Lebih baik membawa nya ke rumah sakit saja." ucap Angga. Tania terdiam. "Apa yang kau pikirkan! Bagaimana kalau tiba-tiba dia meninggal?" ucap Angga.
Tania terkejut dengan kata-kata Angga. Angga kesal melihat Tania tidak langsung mengambil tindakan dia berjalan terlebih dahulu Keluar. "Siap kan mobil Dara!" ucap Angga pada Dara.
"Baik Tuan." Jawab Dara. Tania mengikuti Angga dari belakang.
Angga memeluk Eki dengan erat yang sangat lemas. "Tuan saya tidak memiliki uang untuk membayar rumah sakit nya." ucap Tania menahan Angga yang hendak masuk ke dalam mobil.
"Saya akan membayar nya." ucap Angga. Dia masuk membawa Eki terlebih dahulu ke dalam mobil dan di ikuti oleh Tania.
Di dalam mobil Angga meminta supir lebih cepat.
"Dokter tolong periksa anak ini, badan nya sangat lemas dan juga panas. Nafas nya terasa sangat berat." ucap Angga.
"Mari ikut dengan saya." ucap dokter. Eki di bawa masuk ke dalam. "Anak ini hanya demam biasa karena masuk angin. Kami akan memberikan obat." ucap Dokter.
"Bagaimana bisa demam seperti biasa dokter? Dia sangat panas." ucap Angga. "Ini hal yang biasa pak Karena anak jaman sekarang susah di kasih makan." ucap dokter.
Tania menandatangani nya langsung memberikan nya kepada dokter.
"Suami nya juga harus ikut tanda tangan Bu." ucap dokter. "Dia bukan suami saya Dok."' ucap Tania. Dokter langsung terdiam.
Tidak beberapa lama selesai di periksa Tania menggendong Eki. "Bagaimana keadaan nya?" tanya Angga meletakkan tangan nya di pipi Eki.
Tania serasa gugup sekali ketika Angga duduk begitu dekat dan sangat dekat dengan nya waktu Memeriksa Eki.
"Badan nya masih panas." ucap Angga. Angga menatap Tania. Tania memasang wajah gugup.
"Ma-maaf, saya hanya memeriksa anak itu." ucap Angga. "Terimakasih yah Tuan sudah mau perduli pada anak saya." ucap Tania.
"Tidak perlu kepedean! Saya adalah manusia yang mempunyai hati, saya melakukan itu karena kalau dia sakit kau tidak akan bisa bekerja dengan baik, saya yang akan rugi!" ucap Angga.
"Tapi saya sangat berterima kasih banyak kepada Tuan. Apapun alasan nya karena sebelumnya tidak ada yang pernah perduli dengan saya mau pun anak saya." ucap Tania.
"Itu sebabnya kalau berumah tangga tunggu dewasa, tidak hanya umur namun pola pikir, dan juga harus memantapkan ekonomi." ucap Angga.
__ADS_1
Tania terdiam. "Pak, Bu. Ini Obat nya. Di Bayar di bagian kasir yah." ucap suster. Tania Hendak mengambil nya namun langsung di ambil oleh Angga.
"Tunggu saja di sini." ucap Angga. Tania menganguk.
Angga menebus obat nya dan tidak beberapa lama kembali, dia melihat Eki yang sedang menangis begitu keras.
"Ada apa?" tanya Angga. "Tidak tau tuan. Tiba-tiba dia menangis." ucap Tania. Angga juga kebingungan harus melakukan apa.
"Sebaiknya kita langsung pulang." ucap Angga. Mereka masuk ke dalam mobil namun Eki tak kunjung Tenan.
"Anak ini sangat berisik sekali!" ucap Angga. "Maafin saya tuan, Eki kalau demam selalu seperti ini." ucap Tania. Eki Terus menatap ke arah Angga.
"Bawa ke sini! Siapa tau dia diam." ucap Angga.
Tania memberikan Eki kepada Angga. Tangan yang masih gemetaran, takut dan juga kurang pandai membawa Eki ke pelukan nya.
Tania juga sangat takut memberikan Angga di gendong oleh Angga namun sepertinya Eki nyaman di gendong oleh Angga.
Dan setelah di gendong oleh Angga Eki diam. Tania memberikan Susu agar lebih tenang. Dia memegang nya sehingga dia membungkuk tepat di depan Angga.
"Wangi rambut ini? Apa dia benar-benar menggunakan shampo yang di letakkan oleh Dara di kamar mandi nya?" batin Angga.
Tiba-tiba ada lubang besar yang Di tabrak oleh mobil sehingga tidak sengaja Tania hampir jatuh ke depan. Langsung di tahan oleh Angga di bagian lengan.
"Maaf-maaf Tuan, saya tidak sengaja." ucap supir. Tania sudah sangat gugup, jantung nya berdetak begitu cepat.
Angga sadar tangannya dia langsung melepaskan nya.
"Tuan bisa memegang nya sendiri." ucap Tania, Angga memegang botol susu itu.
Tania kembali ke tempat duduk nya. Angga melihat Susu yang di minum oleh Eki hampir habis.
"Anak bayi seperti ini seharusnya minum Asi, itu jauh lebih Bagus." ucap Angga. Tania terdiam.
"Kau sama sekali tidak bisa menjadi orang tua, Namun sudah langsung menikah, anak sekecil ini menjadi korban di pernikahan kalian!" ucap Angga lagi.
"Lain kali jika melakukan sesuatu pikirkan baik-baik." ucap Angga. Tania merasa sangat malu sekali di nasehati oleh orang yang lebih muda dari diam
__ADS_1