
Angga Menghela nafas panjang. "Kau sama sekali tidak bisa di ajak bekerja sama! Kau membuat saya malu di depan Klien dan memilih berbicara dengan pria gatal itu!" ucap Angga.
"Saya minta maaf tuan. kalau Tuan tidak membayar saya tidak akan mempermasalahkan nya." ucap Tania. Angga hanya diam saja.
Sepanjang perjalanan Tania kedinginan karena baju nya yang terlalu terbuka.
"Huff kalau tau akan sedingin ini aku tidak akan mau menggunakan pakaian ini. Dan aku juga rugi memakai nya semua Para mata pria melihat ke arah dada ku terus menerus." batin Tania.
Angga melihat Tania yang sampai sedikit meringkuk karena kedinginan.
"Apa kau kedinginan?" tanya Angga. Tania langsung duduk dengan benar Menggeleng kan kepala nya.
"Tidak tuan." ucap Tania.
"Saya sedikit kepanasan tolong Buat AC nya lebih dingin." ucap Angga. Supir nya sampai kebingungan karena Dia juga sudah merasa dingin. Tania hanya diam walaupun sebenarnya dia sangat jengkel melihat Angga.
"Seperti nya kau sudah terbiasa dengan pakaian seperti ini." ucap Angga menoleh ke dada Tania. Namun tiba-tiba Tania menutupi nya.
"Tuan jangan macem-macem yah!" ucap Tania langsung. Angga tertawa kecil.
"Tenang saja, saya tidak berselera dengan Wanita yang lebih tua dari saya." ucap Angga. Tania merasa aman.
Mereka kembali fokus pada jalanan. Namun Angga sama sekali tidak bisa tenang.
Lengan dan leher Tania tidak bisa hilang dari pandangan nya, dia mencuri-curi pandang melihat kulit mulus tanpa luka dan Wangi badan Tania yang sangat dia sukai.
Namun tiba-tiba Tania kejedot karena ketiduran. Angga menarik kepala Tania agar bersandar di bahu nya.
Tangan Angga awal nya tidak menyentuh Tania, namun dia sangat ingin menyentuh tangan Tania.
"Walaupun dia lebih Tua dari ku, dia memiliki kulit yang lebih sehat dari pada aku." batin Angga. Namun dia merasa tidak nyaman kalau membiarkan Tania akhirnya dia membuka jas nya pelan-pelan dan menyelimut kan pada Tania.
Tidak beberapa lama akhirnya mereka sampai di rumah.
"Kita sudah sampai! Mau sampai kapan kau akan tidur?" tanya Angga mengagetkan Tania.
Tania membuka mata nya dia kaget karena dia tertidur di bahu Angga.
"Maaf tuan." Dia langsung duduk dengan benar. Angga turun tanpa ekspresi apapun dan masuk terlebih dahulu.
__ADS_1
Tania mau turun namun dia baru sadar kalau badannya terasa hangat dan ternyata Jas Angga.
"Pantesan aku tidak merasa kedinginan." batin Tania. Padahal Setelah dia tidur Angga meminta AC di kecil kan lagi.
Tania mengikuti Angga masuk ke dalam Lift.
"Tuan terimakasih." ucap Tania mengejar Angga ke depan pintu kamar nya. Angga menoleh ke arah Tania.
"Untuk apa?" tanya Angga.
"Untuk Jas dan juga sudah membiarkan saya istirahat di bahu Tuan." ucap Tania.
"Cuci saja jas itu!" ucap Angga. Tania menganguk. Angga membuka pintu dia melihat Pengasuh dan Eki di dalam.
"Saya minta maaf Tuan masuk ke dalam kamar tuan Tampa ijin. Eki selalu ingin masuk ke dalam." ucap pengasuh.
"Papah...." Eki yang belum tidur melihat Angga sangat senang. "Tolong bawa dia keluar, saya sangat lelah." ucap Angga.
"Tapi dari tadi dia menunggu tuan." ucap pengasuh.
"Biar saya bawa saja Tuan." Tania masuk karena mendengar suara Eki.
"Kau bisa keluar, Istirahat lah." ucap Angga pada pengasuh. Pengasuh menganguk.
"Ini sudah jam berapa nak? Kenapa kamu belum juga tidur." ucap Tania.
Tania membawa Eki keluar namun tiba-tiba dia berteriak Papah. "Kita harus keluar, kamu harus tidur." ucap Tania. dia membawa anak nya keluar.
Keesokan harinya...
"Mona bagaimana keadaan mu?" Tanya Nada yang baru saja datang mengunjungi Mona setelah pulang dari Rumah sakit.
"Sudah lumayan membaik Mbak." ucap Mona. "Nih aku bawain makanan dan juga buah. Ini juga ada obat dari rumah sakit." ucap Nada.
"Terimakasih banyak yah Mbak. Aku jadi merepotkan Mbak." ucap Mona.
"Kamu bukan hanya merepotkan aku, tapi mbak kamu Tania, Keponakan dan juga Bibi Sisi." ucap Nada. Mona terdiam.
"Setelah kamu sembuh kamu harus menyelesaikan sekolah mu, dan jangan bergaul lagi dengan anak-anak seperti pacar mu itu!" ucap Mona.
__ADS_1
"Sudah nak, Mona lagi sakit." ucap Bibik Sisi.
"Justru kalau lagi sakit seperti ini bisa di nasehati Bik, kalau sudah sembuh dia sama sekali tidak mau mendengar kan. Tania tidak ada tegas sama sekali." ucap Mona.
Bibik Sisi terdiam. "Ya udah kamu jangan mengabaikan Makan, lebih banyak melatih otot-otot kamu, aku sudah meminta guru untuk memberikan kamu sekolah online saja." ucap Mona.
"Terimakasih Mbak, sekali lagi aku minta maaf mbak." ucap Mona.
Mona takut pada Nada karena Nada cukup tegas kepada nya tapi perduli. Dia seperti itu hanya karena cerita Tania. Mona sama sekali tidak mau mendengar kan dia lagi.
Dia keluar bersama Bibik.
"Apa Eki Belum sembuh nak?" tanya Bibik Sisi.
"Sudah kok Bik. Tapi mungkin sekarang dia lagi ingin sama mamah nya, nanti malam aku akan datang mengunjungi dia." ucap Nada.
"Oohh baik lah. Semoga Eki cepat di bawa ke sini, kasihan Tania kerepotan." ucap Bibik Sisi. Nada menganguk. " Ya udah bik kalau begitu aku pulang dulu yah." ucap Nada.
"Iyah nak, terimakasih banyak sudah mau datang jauh-jauh ke sini." ucap Bibik. Nada menganguk. Sisi keluar dari rumah Bibik Sisi berjalan beberapa meter agar bisa ke parkiran mobil, karena ke depan rumah Bibik Sisi tidak bisa masuk.
Saat lewat didepan rumah Tania Nada melihat Surat. Dia masuk dan mengambil nya.
"Surat apa ini?" nada membuka nya dan ternyata tagihan utang Kemarin. "Tidak terasa sudah satu bulan saja, bagaimana cara membayar ini?" batin Nada.
"Aku akan mengantar kan nya nanti pada Tania, sekarang aku harus kembali ke butik." ucap Nada.
Namun saat mau masuk ke dalam mobil ada mobil yang telah tidak asing berhenti di belakang nya.
"Pak Aris?" ucap Nada.
Aris keluar dari mobil nya tersenyum ke arah Nada.
"Bagaimana bisa kamu di sini?" tanya Aris.
"Justru saya yang bertanya kenapa bapak bisa di sini?" tanya Nada. "Kamu lupa yah kalau saya adalah teman nya Nada, saya sering datang berkunjung ketika memiliki hari libur." ucap Aris.
"Tapi Tania tidak ada di sini." ucap Nada. "Loh di mana?" tanya Aris. Nada menceritakan semua nya karena merasa Aris adalah teman baik Tania.
Aris mendengar cerita itu sangat kaget sekali. Dia sama sekali tidak tau apa-apa.
__ADS_1