Janda Muda Dan Brondong Kaya

Janda Muda Dan Brondong Kaya
Episode 84


__ADS_3

Tania membuka mata nya. Namun tiba-tiba mati lampu dia kaget dan langsung memeluk Angga menyembunyikan wajahnya di dada Angga.


"Saya takut Tuan, saya takut. Tolong hidup kan lampu nya." ucap Tania.


"Ini mati lampu karena petir, mungkin Bentar lagi bisa hidup, kamu tidak memiliki lilin?" ucap Angga. Tania Menggeleng kan kepala nya. Angga mengambil handphone nya menghidupkan senter nya.


Angga melihat Tania yang Masih memeluk nya begitu erat. "Lampu sudah hidup, apa kamu akan memeluk ku sampai pagi?" tanya Angga.


Tania perlahan membuka mata nya dia melihat sudah ada cahaya Senter handphone.


"Kamu tunggu di sini, saya akan memeriksa Lampu." ucap Angga.. Namun Tania menahan tangan Angga. "Saya takut Tuan." ucap Tania.


Akhirnya Tania ikut pada Angga.. Namun tiba-tiba Lampu handphone nya mati karena habis Baterai.


"Kenapa mati tuan?" tanya Tania memegang tangan Angga semakin erat.


"Baterai nya sudah habis, kita tidak bisa melihat Lampu ke depan." ucap Angga. Akhirnya mereka duduk di lantai ruang tamu karena hanya di sana ada lilin.


Tania tidak melepaskan Angga sampai dia tidur. Angga bukan nya merasa risih dia sangat senang karena Tania sangat dekat dan dia juga bisa memeluk Tania.


Di pagi hari nya...


Tania bangun lebih awal, mereka ternyata ketiduran di ruang tamu. Dia melihat Lampu sudah hidup. Tania melihat Angga yang memeluk nya.


"Tuan Angga!!" ucap Tania kaget sekali dan langsung duduk. Angga terbangun di menatap Tania dengan tatapan Heran.


"Kenapa Tuan tidur di sini? Tuan melakukan hal yang tidak baik kepada ku kan?" ucap Tania.


"Justru kamu yang tidak ingin saya pergi, kamu memeluk saya begitu erat." ucap Angga. "Tidak mungkin." ucap Tania.


"Ya sudah kalau kamu tidak percaya. Tapi kelihatannya kamu sangat nyenyak tidur di pelukan saya." ucap Angga.


"Lupakan saja! Saya tidur dengan Tuan karena saya takut." ucap Tania. Angga tersenyum. Dia duduk.


"Aaarggghh..." Angga merasakan sekujur tubuh nya itu sakit dan juga pegal-pegal.


"Huff ini adalah pertama kali saya tidur merasakan badan yang begitu sakit sekali." ucap Angga. "Ini semua karena kamu, kamu tidur di lengan saya dan menindih saya." ucap Angga.


"Tuan jangan menyalah kan aku, itu semua kesalahan Tuan sendiri." ucap Tania. "Ada apa ini pagi-pagi sudah ribut?" tanya Bibik sisi.


Tania langsung berdiri.

__ADS_1


"Enggak ada kok Bik." ucap Tania. Eki dan Mona keluar juga dari kamar.


"Keadaan kamu sudah lebih baik sekarang, apakah hari Senin kamu sudah bisa sekolah?" tanya Tania pada Mona.


"Sudah mbak, aku juga tidak ingin ketinggalan pelajaran." ucap Mona.


"Bagus deh kalau begitu." ucap Tania. "Tuan Angga kenapa?" tanya Bibik sisi karena melihat Angga mengurut pinggang nya sendiri memasang wajah kesakitan.


"Mungkin pegal-pegal Bu," ucap Angga.


"Apa tidak sebaiknya kamu pulang membawa Tuan Angga? Kasihan sekali Tuan Angga." ucap Bibik sisi kepada Tania.


"Sarapan dulu Bik, aku akan masak sebentar." ucap Sisi.


Angga Cuci muka ke kamar mandi dan setelah itu bermain dengan Eki di ruang tamu.


"Kalau kamu sudah besar kamu harus mencari uang yang banyak agar bisa memiliki rumah yang besar dan juga rumah yang nyaman." ucap Angga kepada Eki.


Eki hanya tersenyum saja melihat wajah Angga.


Angga melihat ke arah dapur..


"Mamah..." ucap Eki.. Angga mengendong Eki, walaupun badan nya sakit dia harus bisa mengendong Eki ke dapur.


"Apa yang kamu masak? Saya tidak percaya itu bisa di Makan." ucap Angga. Tania menatap Angga.


"Ya ampun nih wanita kenapa sangat cantik sekali." batin Angga.


"Kalau tuan tidak mau memakan nya tidak perlu memakan nya." ucap Tania.


Angga terdiam. Angga melihat leher putih mulus milik Tania membuat nya tertarik, apalagi suasana nya benar-benar dingin karena Masih gerimis.


"Apa yang Tuan lakukan?" tanya Tania kesal karena Angga menarik penjepit rambut Tania.


Angga tidak menjawab. Tania melanjutkan untuk memasak setelah merapikan rambut nya kembali.


"Sebaiknya Tuan dan Eki ke luar dari dapur ini. Tuan membuat ku kesal saja!" ucap Tania. Angga menghela nafas panjang.


Angga dan Eki pun ke depan. Angga melihat Bibik sisi mulai bekerja mencuci pakaian dan juga Mona bersih-bersih. Dia dan Eki menonton TV di ruang tamu.


Tidak beberapa lama waktu nya sarapan. Angga melihat masakan Tania.

__ADS_1


"Saya ragu memakan ini." ucap Angga. "Coba saja Tuan, ini rasanya sangat enak. Tania sangat pintar memasak." ucap Bibik Sisi.


Angga tidak enak kepada Bibik Sisi akhirnya dia memakan namun dua suap dia mencoba nya dia langsung suka.


"Kalau suka bilang aja kali Tuan, pura-pura tidak suka namun Makan begitu lahap. Makanan murah seperti ini juga enak, bukan hanya makanan mahal yang Enak." ucap Tania.


Angga hanya diam dia fokus pada makanan nya. Sudah waktunya pulang Eki tidak mau di tinggal, namun di Harus tetap tinggal.


Sebenarnya Tania tidak tega. Tapi itu Demi kebaikan Eki juga.


Di dalam mobil menuju pulang Angga menatap Tania.


"Saya ingin kamu memasak seperti itu lagi." ucap Angga. Tania Menggeleng kan kepala nya.


"Saya tidak ingin memasak di rumah Tuan karena sudah ada pelayan yang khusus memasak." ucap Tania.


"Saya adalah pemilik nya, saya adalah bos kamu, kamu tidak boleh membantah perintah saya!" ucap Angga.


Tania Menghela nafas panjang. "Tuan tidak suka pada masakan saya, untuk apa saya memasak lagi?" ucap Tania.


"Masakan mu sangat enak, saya benar-benar kenyang sekali, saya mohon Masak lah lagi!" ucap Angga.


"Baiklah kalau begitu." ucap Tania sambil senyum-senyum. Dia sangat senang Angga memuji masakan nya.


Namun tiba-tiba handphone Angga yang baru saja di charger di dalam mobil berdering. Tania melihat nama "My Love"


"Saya menjawab telepon dulu." ucap Angga.


"Halo.." ucap Angga.


"Halo sayang, kamu dari mana? kenapa nomor Kamu tidak aktif? Kamu membuat ku khawatir saja.$ ucap Livy.


"Handphone ku mati, aku tidak lupa untuk mengisi daya." ucap Angga. "Oohh, tapi sekarang kamu baik-baik saja kan?" tanya Livy.


"Baik, apa kamu sudah sampai di rumah?" tanya Angga. "Sudah sayang tadi malam. Aku sangat merindukan kamu." ucap Livy.


"Aku juga sangat merindukan kamu, tapi aku harus segera mematikan sambungan telepon." ucap Angga.


"Baiklah. Nanti kabarin aku lagi yah." ucap Livy. Angga menginyakan memberikan kata-kata romantis dan mematikan sambungan telepon.


"Kamu jangan memikirkan pembicaraan saya dengan Livy." ucap Angga. Tania menatap Angga dengan tatapan tajam tampa ada rasa takut.

__ADS_1


__ADS_2