
"Batal kan saja, kita lihat bagaimana butik nya akan berjalan." ucap Angga. Dara tidak bisa mengatakan apapun selain minta maaf.
"Saya akan segera berangkat." ucap Angga.
"Tunggu dulu Tuan!" Tania datang berlari sambil membawa paper bag besar di tangan nya.
Semua mata tertuju pada nya.
"Ini Jas Tuan." ucap Tania. "Kamu tidak melihat ini sudah jam berapa?" ucap Angga.
"Maaf kan saya Tuan. Saya minta maaf. Saya sudah mengusahakan secepat mungkin." ucap Tania.
"Saya sudah membatalkan nya, saya akan berurusan langsung dengan bos kamu." ucap Angga.
"Semua nya sudah siap Tuan. Saya hanya telat beberapa jam saja, Lagian Tuan Masih ada waktu." ucap Tania kesal.
"Tuan Ambil saja, ini sudah jadi, Tuan tidak memiliki jas di dalam koper." ucap Dara.
Dara mengambil Paper bag dari tangan Tania. Angga mengambil paksa tas Tania dan mengambil dompet nya.
"Apa yang Tuan lakukan?" tanya Tania. "urusan kita belum selesai, saya akan menahan KTP kamu. Setelah saya kembali saya akan mengurus nya." ucap Angga.
"Tapi Tuan.."
"Tidak ada tapi-tapian. Karena wanita seperti anda sama sekali tidak bisa menghargai waktu. Anda sudah membuat saya menunggu terlalu lama." ucap Angga.
"Saya butuh waktu untuk menjahit Jas." ucap Tania mencoba membela diri.
"Saya tidak perduli, saya membayar sangat mahal." ucap Angga. Setelah itu Angga pun langsung masuk kedalam membawa paper bag di tangan nya.
Tania menghela nafas panjang. Dia duduk lemas di Kursi itu.
"Terimakasih banyak atas bantuan Bu Tania." ucap Dara.
"Bagaimana dengan KTP saya?" tanya Tania.
"Saya tidak bisa mengatakan apapun Bu, ibu harus berurusan sendiri dengan Tuan Angga." ucap Dara.
Dara pun langsung meninggalkan Tania di sana. Tania memijit-mijit tangan nya yang sudah sangat pegal sekali, dia memijat leher nya.
"Ya ampun ini ternyata sudah jam tengah sepuluh. Eki.." ucap nya dia pun langsung segera pulang.
__ADS_1
Tidak beberapa lama akhirnya sampai juga.
"Assalamualaikum, mbak pulang." ucap Tania. Namun dia sangat terkejut melihat rumah sudah sangat berantakan sekali.
"Mona, Eki..." ucap Tania langsung masuk ke dalam memeriksa keberadaan Adik dan anak nya. Namun dia tidak menemukan mereka di dalam.
Badan nya yang sangat Lelah dan sangat emosi dia harus panik melihat rumah nya berantakan seperti ada orang masuk dan tidak menemui Adik dan anak nya.
"Mona..... Eki... Hiks.. Hiks.." Tania menangis melihat darah yang ada di lantai. Jantung nya seakan berhenti berdetak.
Dia memiliki tetangga yang lumayan jauh dia berlari ke sana namun ternyata mereka tidak di rumah.
"Kemana aku harus mencari mereka?" ucap Tania kepala nya sudah sangat pusing dia sangat Lemas.
"Mbak Tania..." panggil Mona. Tania Terkejut melihat adiknya Duduk di Balik semak-semak.
"Mona." ucap Tania tangis nya langsung pecah memeluk Mona dan Eki yang hanya diam di pelukan Mona.
"Kamu tidak kenapa-kenapa kan dek? Eki gak apa-apa kan?" tanya Tania.
"Gak apa-apa mbak, aku sangat takut." ucap Mona. "Kamu aman dek, mbak sudah di sini." ucap Tania memeluk badan Adik nya yang bergemetar dan sangat dingin.
"Aku sangat takut mbak, aku tidak mau pulang ke rumah itu, aku sangat takut." ucap Mona.
"Rentenir itu lagi Mbak, dia mencari Mbak. mereka meminta mbak untuk datang menemui bos nya." ucap Mona.
Tania terdiam. "Aku gak mau pulang ke rumah itu Mbak." ucap Mona.
Tania menghubungi Nada, hanya itu jalan satu-satunya.
Tidak beberapa lama akhirnya Nada datang.
"Apa yang terjadi Tania?" tanya Nada. "nanti aku ceritakan, tapi aku mohon tolong bawa kami dulu." ucap Tania.
"Baiklah, ayo masuk." ucap Nada, dia membantu Mona masuk, sementara Tania mengendong Eki ke dalam mobil.
"Nih minum dulu, tenang kan Adik dan anak kamu." ucap Nada. Kali ini Nada perduli pada mereka.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di rumah Nada.
"Malam ini kamu bisa tidur di sini." ucap Nada. "Yakin tidak apa-apa Nad?" tanya Tania. "Tidak apa-apa." ucap Nada.
__ADS_1
Tania meminta Mona tidur karena dia terlihat sangat trauma sekali.
Tidak beberapa lama Mona tidur, Eki pun ikut tidur. Nada masuk ke kamar membawa baju untuk Eki.
"Aku kebetulan ada baju bayi, ganti baju anak kamu nih." ucap Nada.
Tania tersenyum dia mengucapkan terimakasih dan memasang kan pakaian itu pada anak nya.
"Apa yang terjadi?" tanya Nada. "Almarhum Ayah ku memiliki hutang kepada rentenir yang cukup banyak, mereka sudah menunggu lama dan meminta ku untuk datang namun aku tidak bisa datang, alhasil mereka datang ke rumah untuk mengacak-acak rumah." ucap Tania.
"Ya ampun Tania. Malang banget sih nasib kamu, semua hutang Ayahmu kamu tanggung sendiri, adik dan anak kamu tanggung sendiri." ucap Nada.
"Ibu kamu sungguh tidak mempunyai hati." ucap Nada.
Tania terdiam. "Bagaimana kalau aku membantu kamu?" tanya Nada. Tania langsung menggeleng kan kepala nya.
"Tidak perlu Nada, aku baru beberapa hari bekerja dengan kamu, namun kamu sudah banyak membantu ku. Aku tidak ingin menyusahkan kamu, keadaan ekonomi kamu juga kurang baik." ucap Tania.
"Berapa hutang Ayah kamu?" tanya Nada. "Tidak perlu Nada, aku akan mengusahakan nya." ucap Tania.
"Berapa hutang nya?" tanya Nada.
"70 Juta." jawab Tania. "Aku memang tidak bisa membantu membayar semua nya, tapi aku bisa memberikan uang Lima juta untuk kamu bawa menemui rentenir itu. Apa kamu ingin anak dengan Adik kamu kena imbasnya?" tanya Nada.
"Kamu seriusan Nada?" tanya Tania. nada menganguk.
"Sudah tidak perlu sedih, atau memikirkan nya, kamu Tidur dan istirahat." ucap Nada.
"Terimakasih Nada." ucap Tania. Nada tersenyum sambil mengangguk. "Kamu boleh tinggal di sini sampai kapan pun kamu mau, sekolah Adik kamu juga dekat dari sini." ucap Nada.
"Aku sudah sangat mengantuk, kamu tidur aku juga mau tidur." ucap Nada. "Selamat malam ganteng. Bobo yang nyenyak yah." ucap Nada mengelus pipi Eki.
"Boleh kah aku memeluk kamu?" tanya Tania. Nada tersenyum. Tania langsung memeluk Nada.
"Terimakasih banyak Nada." ucap Tania dia benar-benar sangat terharu sekali kebaikan teman yang awal nya tidak dekat dengan nya.
"Kamu adalah wanita kuat, aku akan selalu mendukung kamu." ucap Nada, dia pun keluar. Tania tidak berhenti menetes kan Air mata nya. Dia menatap wajah Eki.
Tidak beberapa lama dia tertidur. Namun baru saja terlelap Eki sudah menangis karena haus mau minum susu. Dia baru ingat susu nya tidak ada di sini.
Sementara dia tidak menyusui badan, akhirnya dia membuat kan teh manis pada anak nya.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen nya yah kak, kasih bintang lima, vote dan hadiah juga. Agar author tambah semangat lagi.
Terimakasih 🙏