
"Kau tidak bisa mengusir saya begitu saja! Jangan lupa kau harus ikut dengan saya mengurus saya dan juga menjahit di rumah saya!" ucap Angga.
"Saya pikir itu hal yang tidak mungkin, saya tidak bisa meninggal kan anak saya. Sementara Tuan tidak bisa melihat anak kecil," ucap Tania.
"Kamu bisa membawa anak kamu, di rumah saya akan ada pengasuh yang membantu kamu." ucap Angga.
Tania terdiam sejenak. "Kau tidak percaya dengan apa yang saya katakan?" tanya Angga. Tania diam.
"Anggap saja ini sebagai permintaan maaf saya karena sudah membuat anak itu dalam bahaya." ucap Angga.
"Tuan yakin?" ucap Tania seperti tidak percaya. "Saya melakukan ini agar kau bekerja di rumah saya karena saya tidak perlu datang ke sini lagi!" ucap Angga.
"Kalau begitu Tuan bisa pulang sekarang. Saya akan datang Besok ke rumah Tuan." ucap Tania.
"Besok?" ucap Angga. Tania menganguk.
"Saya meminta anda ikut dengan saya hari ini juga. Siapa yang Akan mengurus saya dengan keadaan seperti ini?" ucap Angga.
Tania melihat kaki Angga. Tidak terlalu banyak protes Tania membantu Angga masuk ke dalam mobil nya dan setelah itu dia menjemput Eki.
Selama di perjalanan Angga yang duduk di samping Tania terus menatap Eki yang terlihat sangat nyenyak sekali tidur di pangkuan mamah nya.
"Kenapa tuan melihat anak Saya seperti itu? Apa Tuan akan berbuat jahat lagi kepada nya?" ucap Tania.
Angga langsung fokus ke depan Tampa menjawab Tania.
Tania melihat jam sudah jam 1 siang. Perut nya terasa lapar sekali. "Kita berhenti di restoran." ucap Angga. Tania sangat senang karena kebetulan Angga juga lapar.
Namun setelah berhenti di depan Restoran Angga melihat kesekitar terlihat sangat ramai sekali.
"Bawa dia makan." ucap Angga pada bodyguard nya memaksudkan Tania dan anaknya.
Tidak beberapa lama akhirnya mereka sampai di halaman rumah yang begitu begitu besar berwarna putih yang campur dengan warna abu-abu.
Serta halaman yang begitu luas sekali. Tania turun dari mobil. "Wahh rumah ini sangat besar sekali." ucap Tania dalam hati.
__ADS_1
Dara dan Fani langsung datang menyambut tuan nya. Mereka juga menyapa Tania dengan sangat sopan.
"Apa yang terjadi pada Tuan?" tanya Dara.
Angga Menggeleng kan kepala nya.
"Seseorang hampir saja membuat saya lumpuh. Segera minta dokter untuk datang." ucap Angga. "Baik Tuan." jawab Dara.
Tania hanya diam saja. Dia melihat Angga memaksa kan diri nya untuk Jalan sendiri sementara sudah banyak orang yang mau membantu nya.
"Mari ikut dengan saya Mbak." ucap Fani pada Tania.
"Kenapa begitu ramai orang yang tinggal di rumah ini?" ucap Tania dalam hati.
Dia duduk di ruang tamu. "Mulai dari hari ini dia Akan bekerja di sini sebagai penjahit.Tunjuk kan pada nya ruangan penjahit di sini." ucap Angga.
Semua orang hanya bisa mengangguk. Tidak beberapa lama dokter datang memeriksa Angga. Keadaan nya cukup parah. Luka nya juga sudah infeksi.
Setelah selesai di periksa Dara datang membawa kan Teh untuk Tania dan juga Tuan nya.
Angga mengangkat tangan nya. "Kalian bisa pergi dari sini, saya ingin berbicara dengan wanita penjahit ini." ucap Angga menatap Tania.
"Saya tidak bisa tinggal di sini Tuan lebih lama, saya akan kembali bekerja besok." ucap Tania.
"Saya belum memberikan ijin untuk kamu." ucap Angga.
"Tapi adik saya pasti menunggu di rumah, anak saya juga sudah sangat lapar." ucap Tania dia pun langsung pergi begitu saja.
"Tunggu!" Angga menguatkan suara nya sehingga semua bodyguard keluar dan menahan Tania.
"Kamu harus datang tepat waktu dan juga kamu pulang di antar oleh supir saya!" ucap Angga.
"Apa? Dengan supir Tuan Angga, itu artinya dengan mobil Tuan Angga?" ucap Fani kaget pada Dara.
"Sungguh Aneh bukan?" ucap Fani. "Kamu berlebihan banget sih, aku tidak perduli sama sekali." ucap Dara.
__ADS_1
"Bagaimana kamu tidak perduli ini menyangkut Tuan Angga. Arti nya menyangkut hidup kamu sendiri." ucap Fani.
"Lalu Aku harus mengatakan apa? Apa aku harus melaporkan sifat Tuan Angga kepada polisi?" ucap Dara.
"Bukan begitu Dara. Kamu gak sadar seperti nya Tuan Angga menyembunyikan sesuatu tentang wanita itu. Kita juga bisa melihat kalau Tuan Angga menatap wanita itu dengan tatapan tajam penuh arti." ucap Fani.
"Sudah lah Fani aku tidak perduli, mau Tuan Angga kasarin tuh perempuan, atau mau menjadikan nya budak aku tidak mempermasalahkan itu." ucap Dara.
"Apa kamu tidak kasihan? Dia mempunyai anak, seperti nya dia tidak mempunyai suami. Kasian hanya karena masalah sepele Tuan Angga menyiksa nya." ucap Fani.
"Sudah lah Fani tidak perlu membahas itu, aku bahkan merasa kalau sebenarnya Tuan Angga membawa dia ke rumah ini karena mengingat seseorang. Tuan Angga tidak akan pernah membawa orang lain atau sampai mengejar orang itu." ucap Dara.
"Oh iya kamu benar juga sih." ucap Fani. "Kamu tau kan dia mempunyai keahlian menjahit, dan jahitan nya benar-benar sangat bagus sekali. Itu sangat mengingat pada almarhum Mamah nya Tuan Angga." ucap Dara.
"Humm kamu benar juga sih." ucap Fani. "Kamu lebih baik fokus pada urusan kantor saja, jangan mengurus kehidupan pribadi orang lain." ucap Dara pada Fani.
Sementara di tempat lain Tania baru saja sampai di rumah nya.
"Bu Tania saya akan datang menjemput Bu Tania jam delapan Pagi ke kediaman Tuan Angga." ucap supir. Tania menganguk. Tidak Lupa juga dia mengucapkan terimakasih.
Setelah itu dia pun membiarkan supir pergi.
"Ekhem-Ekhem!! Siapa tuh?" tetangga yang biasa julid kepada nya lewat.
Tania membalas nya dengan senyuman Saja. "Palingan itu adalah om-om simpanan nya, uang pak Aris mungkin sudah habis untuk membayar hutang orang tua nya itu sebabnya dia mencari om-om yang lain." ucap teman ibu itu.
"Ya Allah Bu, saya tidak seperti itu." ucap Tania.
"Kalau tidak begitu terus siapa yang memakai mobil itu, kami tidak ingin yah kompleks ini terdengar buruk karena janda gatal seperti kamu." ucap Ibu itu.
Tania berusaha untuk Sabar. Tidak beberapa lama Mona datang di antar kan oleh Tomi.
"Kelakuan adik sama kakak sama saja, pulang di antar kan oleh Pria yang entah dari mana." ucap ibu itu lagi.
"Astagfirullah Bu, berhenti menuduh kami yang tidak-tidak." ucap Tania. Mona sama sekali tidak perduli, dia langsung masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Heh Tania! Kalau mau seperti ini jangan tinggal di kompleks ini! Kami malu mempunyai tetangga seperti kamu ini, huff kalau memang sudah janda ya pasti seperti ini!" ucap ibu itu langsung pergi.