
"Aku belum kefikiran Pah. Aku masih memiliki banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan." ucap Angga.
"Kamu selalu saja membuat alasan. Bagaimana kalau Livy pergi lagi sama seperti almarhum mantan kamu." ucap Mamah tiri nya yang bernama Mina.
"Jangan membahas itu Mah, aku tidak ingin membahas itu." ucap Angga.
"Itu sebabnya segera lah menikah." ucap Bu Mina.
"Nanti tunggu ada waktu nya Mah, Pah." ucap Angga.
"Kapan lagi? Kamu sudah cocok menikah di usia mu, dan kamu juga sudah sukses." ucap Pak Adi.
"Sabar dulu Om. Tante. Mungkin Angga nya Masih ingin menikmati masa muda nya." ucap Livy.
"Kalau kamu menikah secepatnya Papah akan memberikan kamu Saham yang kamu inginkan selama ini." ucap Pak Adi.
Angga menatap Papah nya.
"Papah tidak bercanda kan?" tanya Angga. "Papah tidak bercanda. Papah ingin kamu menikah secepatnya agar pikiran papah tenang. Semua anak-anak papah menikah di waktu Papah hidup itu adalah impian papah." ucap Pak Adi.
"Baiklah kalau begitu, aku akan memikirkan hal ini." ucap Angga menatap Livy.
Di tempat lain Tania baru saja sampai di rumah Bu Sisi ternyata tidak ada orang satu pun di rumah. Bu Sisi berkunjung ke rumah keluarga nya membawa Mona dan Eki.
Terpaksa ia harus menunggu di rumah nya sendiri untuk beberapa Jam.
Dia membuka pintu rumah itu. "Surat? Perasaan aku sudah membayar hutang ku bulan ini." batin Tania melihat surat di bawah pintu.
Dia membuka surat itu dan melihat ternyata bukan surat dari Rentenir melainkan dari orang yang tidak di kenal hanya menulis kan Apa kabar.
Tania sangat bingung dari mana surat itu. Setelah di lihat dari balik surat ternyata surat itu untuk Mona.
"Tumben-tumbenan banget ada yang bertanya kabar Mona seperti ini? Tidak ada nama pengirim dan juga hanya pesan singkat." batin Tania.
Tania tidak ingin menambah beban fikiran dia pun langsung membuang kertas itu.
Melihat rumah yang berantakan membuat nya sedih karena sudah empat bulan rumah nya tidak di bersihkan.
Dia membersihkan semua nya agar dia bisa istirahat dengan tenang.
Karena rumah tidak terlalu besar dia bisa membersihkan nya dengan cepat.
__ADS_1
Tania baru saja duduk Namun handphone nya tiba-tiba berdering. "Tuan Angga?" ucap Tania. Dia ragu mau menjawab atau tidur.
"Halo Tuan." jawab Tania.
"Selamat sore. Kamu lagi di mana?" tanya Angga.
"Saya sedang di rumah saya Tuan. Saya mohon jangan minta saya untuk kembali terlebih dahulu, saya belum bertemu dengan Eki." ucap Tania.
Angga tersenyum. "Saya hanya bertanya." ucap Angga.
"Tu-tuan di mana?" tanya Tania.
"Saya masih di rumah orang tua saya." ucap Angga.
"Kalau begitu sebaiknya Tuan berbicara lagi dengan orang tua Tuan. Saya tidak ingin mengganggu." ucap Tania langsung mematikan sambungan telepon.
"Huufff nih perempuan tidak memiliki Sopan santun sama sekali." ucap Angga kesal karena dia Masih ingin berbicara.
"Ayo kita pulang sayang." ucap Livy. Mereka masuk ke dalam mobil.
"Kamu abis nelpon siapa?" tanya Livy mengambil handphone Angga. Angga mencoba mengambil nya namun Livy memaksa untuk melihat nya.
"Tania..." Ucap Livy.
"Saya hanya bertanya di mana dia, saya meminta nya untuk kembali ke rumah." ucap Angga.
"Kamu menyukai Tania kan? Kamu menyukai pelayan yang mirip dengan almarhum Tunangan kamu yang kamu bunuh itu kan?" ucap Livy.
Angga langsung menginjak rem tiba-tiba sampai Livy kejedot.
"Auhhhh!!! Bisa pelan-pelan gak!?" ucap Livy.
"Aku tidak suka kamu berbicara seperti itu!" ucap Angga.
"Kenapa? Kamu marah karena yang aku bilang itu benar?" ucap Livy.
"Iyah aku menyukai Tania. Aku menjadikan dia pelayan ku karena aku tertarik kepada nya jauh sebelum aku kenal Lidya dan juga kamu." ucap Angga.
Livy menatap wajah Angga.
"Aku adalah pacar kamu, bahkan kita sudah mau tunangan.. Bisa-bisa nya kamu menyukai wanita lain!" ucap Livy.
__ADS_1
"Kamu mau menikah dengan ku? Sudah jelas-jelas kamu marah-marah di rumah orang tua ku karena tidak mau menikah dengan ku." ucap Angga.
"Aku hanya belum siap, kamu juga menikah bukan karena sayang tapi karena saham." ucap Livy.
"Sudah berapa kali aku mengatakan kalau aku tidak mencintai kamu!" ucap Angga. "Kamu lebih memilih pelayan itu dari pada aku?" ucap Livy.
"Iyahh! Aku jauh lebih mencintai dia dari pada kamu, aku sangat nyaman dan bahagia. Dia juga perduli dan sangat mengurus ku. Sementara kamu sudah dua tahun kita bersama hanya penghianatan yang aku dapat!" ucap Angga.
"Aku yakin kamu hanya bercanda kan? Baiklah aku akan menikah dengan kamu, aku akan meninggalkan selingkuhan ku, dan memilih untuk tinggal bersama kamu di sini." ucap Livy.
"Tidak perlu! Tidak ada gunanya lagi! Sekarang keluar dari mobil ku!" ucap Angga.
"Angga kenapa kamu menurun kan aku di sini?" tanya Livy.
"Kamu sudah melampaui batas. Kamu membuat kesabaran ku hilang." ucap Angga.
"Aku ingin sama kamu, Maafin aku, aku minta maaf." ucap Livy. "Aku janji deh tidak akan berbicara seperti itu lagi." ucap Livy.
Angga Menghela nafas panjang. Akhirnya dia mengantar kan Livy pulang.
"Saya ada urusan, sebaiknya kamu langsung masuk saja!" ucap Angga. "Kamu jangan terlalu larut malam yah pulang nya." ucap Livy.
Angga hanya diam. Dia menutup pintu dan meninggalkan rumah nya.
"Tania mana? di mana Tania?" tanya Livy langsung. Semua orang langsung berkumpul karena Livy berteriak.
"Tania sedang keluar bersama mbak Fani non." jawab pelayan.
"Suruh mereka Cepat pulang!" ucap Livy. "Maaf non aku tidak akan melakukan perintah kecuali dari Mbak Dara dan juga Tuan Angga. Ini juga hari libur, semua orang libur." ucap pelayan.
"Berani-beraninya Kalian semua melawan!" ucap Livy. Semua langsung pergi mengurus urusan masing-masing. Livy sangat emosi dia sangat kesal sekali.
Tania sudah menunggu Hampir satu jam lebih bahkan sudah jam Enam sore namun Bibik dan anak nya belum pulang. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah nya membuat nya kaget.
Dia baru saja keluar dari kamar mandi. "Siapa bertamu Magrib seperti ini?" ucap Tania. Dia membuka pintu.
"Tuan Angga!" ucap Tania. Angga melihat Tania dengan mukenah yang dia pakai.
"Kamu sudah sholat atau mau sholat?" tanya Angga. "Mau sholat Tuan. Tuan kenapa bisa sampai di sini?" tanya Tania sambil melihat di luar sudah mulai gerimis.
"Sebaiknya kamu sholat dulu." ucap Angga. Tania menganguk dia melaksanakan sholat nya dulu setelah selesai dia membuat kan Kopi untuk Angga yang sempat dia beli sebelum ke rumah nya.
__ADS_1