
"Saya harus pergi sekarang, saya sudah telat. Jaga diri baik-baik. Tunggu saya pulang." ucap Angga. Tania hanya diam.
Angga masuk ke dalam mobil. Dara yang tadi nya tercengang berpura-pura tidak melihat apa yang telah terjadi.
"Ayo kita berangkat." ucap Angga. Tania melihat mobil itu meninggal kan halaman rumah yang begitu luas itu.
Tania memegang bibir nya dengan wajah yang kebingungan.
"Apa maksud nya ini? Kenapa aku tidak menolak nya?" ucap Tania.
"Mbak Tania. Eki sudah bangun.." ucap Pengasuh. Tania langsung ke atas. Dia masuk ke kamar Angga. Dia melihat Ada kertas di atas kepala Eki yang baru saja bangun.
Dia melihat nya.
"Buka laci nakas yang ada di samping tempat tidur." isi surat itu. Tania mengikuti nya dan membuka dia kaget ada handphone baru di dalam laci.
"Hah! Ini handphone siapa?" ucap Tania dia menghidupkan nya ternyata sudah aktif.
"Handphone ini untuk mu." ucap pesan dari kontak yang bernama Tuan Angga.
"Terimakasih banyak Tuan." balas Tania. Dia sangat senang sekali. Apalagi handphone itu handphone bagus, sudah tidak pernah lagi dia memakai handphone mahal seperti ini.
Di dalam mobil Angga membuka Notif yang masuk ke handphone nya. Dara mengintip namun Angga langsung menatap nya.
"Ya Allah terima kasih banyak." ucap Tania sangat senang sekali. Tidak beberapa lama Adik nya datang.
"Mbak." panggil Mona. Tania menoleh ke arah mona. "Iyah Kenapa?" tanya Tania sambil membantu Mona duduk.
"Nanti Siang aku bakalan terapi lagi mbak." ucap Mona. Tania menaikkan Alis nya.
"Aku Segan kalau Terus merepotkan Mbak Nada sama Kak Aris." ucap Mona. "Tapi mau gimana lagi, Mbak gak bisa meninggal kan rumah ini." ucap Tania.
"Sekali ini saja mbak, ini adalah yang terakhir." ucap Mona. Tania menghela nafas panjang.
"Baiklah Mbak akan minta ijin terlebih dahulu yah." ucap Tania. Mona tersenyum sambil mengangguk.
"Handphone mbak bagus banget." ucap Mona melihat handphone Tania.
"Humm kamu suka?" ucap Tania. Mona menganguk.
"Ya udah kalau begitu kita tukaran saja yah. Handphone kamu biar untuk mbak saja." ucap Tania.
__ADS_1
"Jangan mbak, handphone ku sudah banyak rusak nya terkadang mati sendiri." ucap Mona.
"Udah gak apa-apa, nanti mbak jadi lebih mudah menghubungi kamu dan Eki." ucap Tania. Mona tersenyum.
"Ya udah deh Mbak aku mau." ucap Mona. Tania tersenyum, dia mengambil kartu Yang ada di dalam memindahkan ke ponsel Adiknya.
Melihat Mona tersenyum sangat senang dia juga jadi ikut senang.
Tidak terasa sudah siang Aris datang menjemput Mona dan juga Eki bersama Bibik.. Namun mereka tidak bisa masuk hanya bisa menunggu di luar gerbang.
"Bagaimana ini nak Aris? apa kita menunggu di sini terus?" tanya Bibik Sisi.
"Sebentar lagi mereka sudah mau keluar Bik, Sabar yah." ucap Aris.
Tidak beberapa lama Tania datang mengendong Eki mengiringi Mona yang berjalan pelan-pelan.
"Maaf ya Bik, Maaf yah Ris membuat lama menunggu." ucap Tania.
"Enggak apa-apa kok." ucap Aris.
"Oh iya aku mau ikut mengantar kan Mona k k
"Udah kok Bik." ucap Mona. Setelah itu mereka pun berangkat. Fani tidak sengaja melihat Tania pergi bersama pria.
"Loh Tania pergi sama siapa? Kenapa kelihatan nya sama laki-laki? Apa itu Taksi online? Tapi tidak mungkin deh." ucap nya bingung.
Dia pun langsung bertanya pada Rendi.
"Rendi dengan siapa Tania pergi ? Apa dia sudah ijin?" tanya Fani.
"Loh dia pergi? Kok gak Ijin sih." ucap Rendi. "Brabe nih kalau Tuan Angga tau " ucap Fani. "Jangan ada yang memberi tahu tuan Angga." ucap Rendi.
"Kamu lupa kalau Tuan Angga memegang semua CCTV?" ucap Fani. "Oh iya juga yah " ucap Rendi.
"Yahh bagaimana dong ini? mati lah kita." ucap Rendi.
"Kamu sudah di suruh untuk mengawasi Tania agar tidak keluar, namun kamu sendiri yang lalai." ucap Fani.
Di malam hari nya Rendi menunggu Tania di depan rumah.
"Tania Kemana sih? kenapa dia tidak pulang?" batin Rendi. "Huff...." Sepenjang malam dia menunggu namun tak kunjung pulang.
__ADS_1
Keesokan harinya... Rendi sudah sangat panik karena Tiba Angga menelpon nya.
"Jawab gak yah? Pasti Tuan Angga akan Marah kepada ku." ucap nya, dia langsung membuka Handphone nya dan menjawab nya.
"Ha-halo Tuan!" ucap Rendi dengan sangat gugup sekali..
"Di mana wanita penjahit itu? Saya menelpon nomor nya tidak aktif. " ucap Angga.
"Ada di ruangan menjahit Tuan, mungkin dia lupa mengaktifkan Handphone nya itu sebab nya tidak aktif." ucap Rendi.
"Berikan ponsel kepada nya! saya ingin berbicara dengan dia." ucap Angga. "Mati gua, gua harus Ngomong apa sekarang?" ucap Rendi.
"Kenapa kau hanya diam saja? berikan handphone pada nya!" ucap Angga.
"Maafin saya Tuan, sebenarnya Tania keluar dari kemarin siang sampai sekarang belum kembali ke rumah." ucap Rendi.
"Kemana dia?" tanya Angga.
"Saya tidak tau tuan, sebelum nya dia tidak ijin. Namun saya yakin sekarang lagi bersama anak dan Adik nya." ucap Rendi.
"Kenapa kau membiarkan nya? say meminta kau ingin mengawasi nya!" ucap Angga.
"Saya sedang bekerja di belakang Pak, namun langsung ada pria yang datang menjemput dia dan juga anak nya." ucap Rendi.
"Itu pasti Aris!" ucap Angga. "Saya tidak mau tau , wanita itu harus kembali hari ini ke rumah itu, kalau tidak kalian semua tau akibat nya dan dia akan saya tuntut!" ucap Angga.
"Baik tuan." ucap Rendi. Panggilan telepon pun langsung mati. "Huff bisa-bisa nya kau membohongi ku. Namun kau tidak bisa lolos begitu saja dari tangan Ku." ucap Angga.
"Permisi Tuan ink Berkas-berkas yang tuan minta." ucap Dara.
"Terimakasih banyak." ucap Angga. "Ada apa Tuan? kenapa tuan kelihatan nya sangat marah." ucap Dara.
"Wanita penjahit itu pergi dari kemarin sampai sekarang tidak kembali ke rumah." ucap Angga.
"Loh bagaimana bisa Tuan?" ucap Dara.."Pria itu pasti sudah membawa nya pergi." ucap Angga.
"Bisa jadi Tuan. tuan harus memberikan pelajaran kepada pria itu." ucap Dara.
"Rendi menjalankan tugas sama sekali tidak ada yang benar-benar, bisa-bisa Nya wanita satu saja tidak bisa di jaga oleh nya!" ucap Angga kesal.
"Yang Sabar tuan, mana mungkin Tania pergi begitu saja sementara dia sudah terjerat oleh perjanjian sebelumnya. Rua Jangan khawatir, Tania pasti kembali dan bekerja kepada tuan." ucap Dara.
__ADS_1