
"Kenapa kamu berfikir seperti itu? Saya benar-benar suka dengan anak itu." ucap Angga.
"Kamu Bohong, mana mungkin kamu gak suka sama Mamah nya." ucap Livy.
"Kamu jangan terlalu cemburuan seperti itu." ucap Angga.
"Bagaimana aku tidak Cemburu, aku mendengar kamu memiliki pelayan baru dari Dara, dia sangat cantik dan juga janda." ucap Livy.
Angga menghela nafas panjang.
"Tidak mungkin aku suka sama orang lain sementara aku memiliki kekasih. Kamu percaya sama aku kalau aku sangat mencintai kamu." ucap Angga.
"Kamu gak bohong kan?" ucap Livy.
"Aku tidak berbohong pada orang yang aku sayang." ucap Angga. "Tapi kalau kamu tidak memiliki perasaan kenapa kamu menolak untuk tidur dengan ku?" tanya Livy.
"Sejak kapan aku tidur dengan wanita? Apa sebelum nya kamu melihat aku tidur dengan wanita yang belum menjadi istri ku? Bahkan untuk menyentuh kamu saja aku sangat jarang." ucap Angga.
"Iyah Sih, tapi aku takut kalau suatu saat nanti kamu menemukan wanita yang sangat menjadi selera kamu." ucap Livy.
"Berhenti berbicara omong kosong. Sudah waktunya tidur." ucap Angga. "Ya udah deh kalau begitu." ucap Livy.
"Selamat malam sayang. I Love you." ucap Angga. Panggilan langsung mati.
"Bagus deh kalau Angga memilih setia. Aku tidak akan membiarkan wanita lain mencoba mengambil nya dari aku." ucap Livy.
Angga meletakkan ponsel nya. Dia turun dari kasur Menuju keluar.
"Dara!" panggil Angga. Dara menyusul Angga.
"Jam berapa kita berangkat besok?" tanya Angga.
"Sekitar jam Sepuluh pagi tuan." ucap Dara.
"Oohh baik lah, kamu istirahat saja." ucap Angga. "Baik Tuan. Tuan sendiri mau kemana?" tanya Dara.
"Saya tidak bisa tidur. Ada beberapa pekerjaan saya belum selesai." ucap Angga. "Apa perlu bantuan saya tuan?" tanya Dara. Angga Menggeleng kan kepala nya.
"Lebih baik kamu segera istirahat." ucap Angga.
Dara menganguk.
"Huff untung saja Tuan Angga tidak meminta bantuan ku. Aku juga sudah sangat lelah dan mengantuk." ucap nya.
__ADS_1
Angga turun ke lantai bawah dia melihat Tania dan Eki menonton di Ruang tv tempat nya untuk mau bekerja.
"Tuan Angga." ucap Tania melihat Angga.
"Kenapa Kalian belum tidur?" tanya Angga.
"Eki tidak mau tidur Tuan. Seperti nya siang tadi dia kebanyakan tidur." ucap Tania.
"Papah.. Papah.." Eki meminta di gendong oleh Angga.
Angga mengendong nya dan duduk di samping Tania.
"Kamu kenapa tidak tidur?" tanya Angga. Eki hanya tertawa sambil berceloteh saja. Angga melihat Tania seperti nya sudah sangat mengantuk bahkan mata nya sudah sangat layu.
"Saya mau bekerja, kamu ambil dia." ucap Angga.. Tania mau mengambil nya namun Eki tidak mau. Angga bekerja namun Eki sangat dekat dengan nya.
Satu jam sudah Angga bekerja fokus di depan laptop nya dia melihat Eki sudah tidur di paha nya.
Dia menoleh ke arah Tania yang juga sudah tidur bersandar ke sofa. Angga tersenyum. "Kenapa ketika melihat wajah nya aku sangat bahagia. Walaupun awal nya aku merasa sedih namun sekarang sangat berbeda. Mata itu benar-benar sangat cocok pada nya." batin Angga.
Diam-diam dia mengelus Pipi Tania dengan lembut.
"Bagaimana saya bisa pergi sangat lama kalau kamu dan Eki membuat saya ingin cepat-cepat pulang?" Batin Angga.
Angga mendekati wajah Tania dia mau mencium kening Tania namun tiba-tiba Eki bergeliat dan semakin naik ke pangkuan Angga.
Angga Menghela nafas panjang. "Huff seperti nya Eki belum setuju." ucap nya.
"Heii.. Bangun.." ucap Angga. Tania langsung bangun. "Maaf Tuan saya ketiduran." ucap Tania.
"Bawa Eki tidur ke kamar!" ucap Angga. Tania melihat Eki tidur di pangkuan Angga.
Dia langsung mengambil nya namun tiba-tiba rambut nya yangkut di kancing baju Angga.
"Aaa!!" Dia merasa kesakitan ketika rambut nya tertarik.
"Tunggu dulu!" Angga berusaha melepaskan nya.
"Bisa gak Tuan?" ucap Tania.
"Ada apa ini? Kenapa jantungku berdetak sangat cepat sekali?" ucap Tania.
Tiba-tiba bisa di lepaskan.
__ADS_1
Angga merapikan rambut Tania yang berantakan membuat Tania tercengang menatap wajah Angga.
"Kenapa kau menatap saya seperti itu?" tanya Angga.. Tania langsung sadar.
"Saya minta maaf Tuan." ucap Tania.
"Tunggu dulu." Angga menahan Tania.
"Seperti nya tempat tidur mu tidak akan cukup untuk berbagi tiga orang. Eki cukup aktif dan juga kaki dan luka-luka adik mu belum sembuh." ucap Tania.
"Mau bagaimana lagi tuan? Hanya itu kasur yang kosong." ucap Tania. "Kamu dengan Eki tidur di kamar saya saja." ucap Angga.
"Tidak perlu Tuan, saya tidak ingin mengganggu kenyamanan Tuan." ucap Tania.
"Eki tidak akan bisa tidur dengan nyenyak kalau begitu. Kamu juga tidak bisa bekerja dengan baik kalau bergadang." ucap Angga.
Akhirnya Tania mau. Sebenarnya dia juga sangat senang bisa tidur di kamar yang mewah, luas, kasur yang empuk dan juga wangi.
Tapi Tania berfikir lagi kalau mereka tidak bisa sering-sering satu kamar dan tempat tidur walau pun ada Eki di sana.
"Tuan sekali lagi saya minta maaf, seperti nya saya tidak bisa tidur kamar Tuan. Itu tidak lah baik." ucap Tania.
"Tidak baik? Ini bukan pertama kali nya." ucap Angga.
"Kita bukan muhrim tuan. Saya takut itu dosa." ucap Tania. Angga menghela nafas panjang. "Saya tidak akan tidur di kamar, saya akan tidur di sini." ucap Angga.
"Apa Tuan yakin?" tanya Tania. Angga mengangguk. Tania akhirnya mau dan dia pun ijin naik ke kamar. Angga melihat Tania sampai ke atas.
"Gila ini sungguh gila. Kenapa saya rela tidur di sofa demi kedua orang itu?" ucap Angga.
"Huff ini sungguh di luar dugaan sekali." ucap nya.
"Ah sudahlah. Besok aku tidak akan di sini melihat mereka." batin Angga. Dia menyudahi pekerjaan nya dan tidur di sofa.
Keesokan paginya...
"Selamat pagi Tuan.."Dara masuk ke kamar Angga namun kaget melihat hanya ada Eki di Sana.
"Kenapa hanya ada anak ganteng ini di sini? Tuan Angga yang ganteng itu kemana?" tanya Dara. Tidak beberapa lama Tania masuk.
"Tania kamu melihat tuan Angga tidak?" tanya Dara.
"Ada di ruang TV. Tuan Angga memilih tidur di sofa agar aku dan Eki bisa tidur di sini. Kamu tau sendiri kasur ku terlalu kecil." ucap Tania.
__ADS_1
"Wah tuan Angga seperti nya sudah luluh pada wanita penjahit nih." ucap Dara. "Ah kamu bisa saja. Tuan Angga hanya iba melihat Eki menangis." ucap Tania.