Janda Muda Dan Brondong Kaya

Janda Muda Dan Brondong Kaya
Episode 47


__ADS_3

Tidak beberapa lama Tania keluar meninggalkan Eki bersama Angga, dia ingin menyiapkan pekerjaan nya dengan cepat agar dia bisa menjahit.


Angga kembali berbaring, Eki langsung ikut berbaring namun dia sangat aktif sehingga Angga yang di ganggu tidak sabar dia mengerjai Eki.


Tempat tidur sangat berantakan sekali karena melemparkan bantal ke bawah dan juga Angga mengajak nya gelut.


Dara kebetulan melihat Tania yang sedang menyetrika.


"Eki di mana?" tanya Dara.


"Eh mbak Dara. Eki lagi sama Tuan Angga." jawab Tania.


"Bersama Tuan Angga? Kamu yakin tuan Angga bisa menjaganya?" tanya Dara. "Humm kelihatan nya baik-baik saja mbak." ucap Tania.


"Jujur saja yah sebenernya saya sangat kaget dan juga heran melihat Tuan Angga akhir-akhir ini." ucap Dara.


"Kenapa mbak? Apa karena saya di sini tuan Angga semakin pemarah?" tanya Tania.


"Bukan.. Justru kamu di sini Tuan Angga lebih baik. Tidak seperti dulu lagi bahkan semua orang harus kesusahan karena dia." ucap Dara.


"Sekarang Tuan Angga lebih baik? Huff saya rasa sama saja mbak, saya tidak bisa membayangkan bagaimana tuan Angga dulu." ucap Tania.


"Sebenarnya Tuan Angga tidak seperti ini dulu, dia sangat baik perduli pada orang-orangnya." ucap Dara. "Yang membuat Tuan Angga dingin dan galak serta kejam seperti ini karena tunangan nya meninggal bersama Ibu nya." ucap Dara.


Tania terdiam. "Dia menyalah kan diri nya karena kepergian orang yang sangat dia sayangi. Dia mengurung diri beberapa bulan sampai dia terbiasa tidak bertemu orang-orang. Ketika dia mau bangkit lagi dia tidak sekuat dulu ketika bertemu keramaian dia akan stres dan tiba-tiba pingsan." ucap Dara.


"Apa karena itu Tuan Angga jarang keluar?" tanya Tania. Dara menganguk.


"Apa mbak Dara sama sekali tidak tau tentang kematian tunangan Tuan Angga?" tanya Tania.


"Saya tau." ucap Dara.


"Apa mbak juga tau kalau mata yang aku pakai untuk melihat sekarang adalah mata almarhum tunangan tuan Angga?" tanya Tania.


"Humm saya tau. Bahkan Tampa di beri tahu pun mata ini sangat familiar sekali." ucap Dara. Tania tersenyum.


"Seperti nya Sosok Tunangan Tuan Angga sangat berarti di rumah ini yah." ucap Tania.


"Kamu juga harus tau kalau sebelumnya dia adalah sekretaris Tuan Angga sebelum nya." ucap Dara.


"Oohhh ya udah kalau begitu kamu lanjut saja yah, saya ke bawah dulu." ucap Dara.

__ADS_1


"Tunggu dulu mbak." Tania menahan Dara yang Hendak pergi.


"Ada apa?" tanya Dara. "Apa benar Tuan Angga malam ini di undang ke acara pernikahan teman nya?" tanya Tania.


"Kamu tau dari mana? Jangan bilang kalau Tuan Angga mengajak kamu?" ucap Dara.


"Iyah Mbak, dia membayar ku untuk di ajak pergi." ucap Tania.


"Huff sudah saya duga." ucap Dara.


"Sebenarnya saya sangat bingung sekali mbak, saya takut akan membuat Tuan Angga malu. Bertemu orang saja saya sangat malu." ucap Tania.


"Ikuti saja permintaan Tuan Angga agar tidak terkena masalah." ucap Dara. "Iyah Mbak." ucap Tania.


"Kalau begitu kamu harus meninggalkan ini. Ayo ikut dengan saya." ucap Dara.


"Kemana mbak? Bagaimana kalau Tuan Angga marah?" tanya Tania.


"Tidak akan marah." ucap Dara. Tania di bawa ke ruangan tempat untuk spa dan juga merawat tubuh. Dara meminta yang kerja di sana untuk menjadikan Tania sangat cantik hari ini.


Mereka menganguk dan meminta Tania berbaring dulu.


"Saya sangat terhibur hari ini karena anak ini." ucap Angga. Karena merasa perut nya lapar dia keluar dari kamar.


"Ayo ikut dengan saya. Perut saya sangat lapar." ucap Angga.


Dia menurunkan Eki ke lantai dan meminta nya untuk berjalan.


Eki yang belum bisa jalan dengan benar berpegangan ke paha Angga. "Kau adalah laki-laki harus bisa berjalan dengan benar." ucap Angga.


Angga mengajari nya berjalan dengan benar. Tiba-tiba Dara masuk ke kamar.


Melihat Angga yang senang hati mengajari Eki tersenyum.


"Tuan Angga sudah sangat Cocok menjadi Ayah." ucap Dara. Angga menoleh ke arah Dara.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Angga. "Saya ke sini mau memberi tahu pada Tuan perintah Tuan sudah saya lakukan. Sekarang Tania sudah ada di ruangan Spa." ucap Dara.


Angga mengirimkan pesan pada Dara saat dia ruangan menyetrika tadi. Kebetulan juga dia belum pergi dari ruangan itu.


"Bagus lah kalau begitu." ucap Angga.

__ADS_1


Eki menangis meminta gendongan dari Angga. Melihat Eki yang manja dan sangat menempel pada Angga membuat nya tersenyum.


"Eki sangat dekat dengan Tuan. Bagaimana bisa?" batin Dara. Angga mengendong Eki dan langsung pergi keluar.


Angga keluar dari kamar semua orang langsung siap-siap, mereka langsung siap melayani Tuan Angga nya itu.


"Tolong bawakan satu kursi untuk bayi!" ucap Angga. Semua orang langsung siap siaga. Dia meletakkan Angga di tempat duduk nya.


"Tania sedang ada di ruangan Spa Tuan, jadi saya akan menyiapkan makanan." ucap Dara. Angga menatap Dara dengan tatapan yang aneh.


Dara melayani tuan Angga Menganti kan Tania. Setelah itu dia duduk bersama mereka. "Sebaiknya Tuan Angga makan saja, saya akan membantu memberikan Anak ini makan." ucap Ucap Daraa.


"Kamu tidak akan bisa memberikan nya Makan." ucap Angga. Dara keras kepala dia mencoba menyuapi Eki namun dia tidak mau.


"Makan saja ini tidak ada racun." ucap Dara pada Eki, namun tetap saja Eki tidak mau.


"Jangan memaksa nya!" ucap Angga marah. Dia menyuapi Eki langsung mau.


"Huff kamu sungguh tau siapa yang memberikan kamu makan." ucap Dara kesal. Mereka makan sama-sama.


Pengasuh datang memandikan Eki setelah selesai Eki menangis meminta ke kamar Angga padahal Angga di dalam kamar nya sedang bekerja.


"Permisi Tuan, Eki dari tadi menangis." ucap pengasuh.


"Bawa dia ke sini. Jangan lupa bawakan juga susu." ucap Angga. Pengasuh menginyakan dan setelah itu pengasuh pergi.


"Saya sedang bekerja. Kamu jangan mengganggu saya!" ucap Angga.


"Tahh.. Papah.. Tahh..." Eki berceloteh tampa henti.


"Kamu bisa diam tidak?" tanya Angga. Karena Eki bukan hanya berceloteh dia juga Menarik laptop Angga Tampa henti.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Angga tambah kesal. Eki sampai terkejut dia terdiam menatap wajah Angga.


Perlahan bibirnya mulai berkedut mau menangis.


Angga Menghela nafas panjang. Eki langsung duduk tenang sambil menahan air mata nya.


"Anak sekecil ini sudah merajuk? perkembangan jaman sekarang sangat berbeda!" ucap Angga.


Dia fokus kembali bekerja, setelah beberapa lama di menoleh ke arah Eki. Dia mengantuk namun tidak bisa tidur karena belum minum susu.

__ADS_1


__ADS_2