
"Kamu baik banget sih, padahal kalau di lihat-lihat kamu pasti adalah anak orang kaya. Kulit putih, bersih dan juga badan yang Bagus, rambut yang lebat. Wajah yang cantik, hidung mancung." ucap Bibi.
Tania tersenyum. "Dari tadi Bibik tidak berhenti memuji ku, aku hanya lah wanita biasa." ucap Tania.
"Dan kamu juga memiliki mata yang sangat cantik. Mata ini membuat Bibi teringat seseorang." ucap Bibi. Tania terdiam.
"Ya udah kalau begitu lebih baik kamu panggil Tuan Angga untuk makan Malam." ucap Bibik. Tania menganguk.
Dia sampai di depan pintu kamar Angga.
"Tok!! Tok!! tok!! Dia mengetuk pintu sebelum masuk.
Tidak ada sautan dia langsung masuk. Tania melihat Angga tidak ada di kamar nya.
"Loh Tuan Angga kemana?" tanya Tania. Dia keluar mencari Dara.
"Mbak, tuan Angga kemana? Ini sudah waktunya makan malam." ucap Tania.
"Oohh dia tidak bilang ke kamu kalau dia tidak pulang malam ini?." ucap Dara. Tania Menggeleng kan kepala nya.
"Emang nya Tuan Angga kemana?" tanya Tania.
"Saya lupa bilang ke kamu kalau Tuan Angga lebih banyak menghabiskan waktu nya di rumah nya sendiri." ucap Dara.
"Rumah nya sendiri? Maksud nya?" tanya Tania bingung. "Tuan Angga membeli rumah khusus untuk dia sendiri, ketika hati dan pikiran nya kacau dia akan menenangkan diri di sana." ucap Dara.
"Sungguh Pria yang aneh, tapi bagus deh kalau Tuan Angga tidak pulang. Aku bisa menghabiskan waktu untuk menjahit." ucap Tania dalam hati.
"Ya udah kalau begitu aku pamit dulu ya mbak." ucap Tania langsung pergi.
"Ada apa sayang?" tanya Rendi tiba-tiba memeluk Dara dari belakang. "Apa yang kamu lakukan Rendi? Semua orang belum pada istirahat." ucap Dara. Rendi melepaskan pelukannya.
"Hari ini Tuan Angga tidak pulang, kita keluar yok." ajak Rendi. Dara menganguk.
Mereka pun meninggalkan kediaman Angga. Di ruangan menjahit Tania baru saja menyelesaikan jahitan nya.
"Huff badan ku sudah sangat pegal, mata ku juga sudah sangat mengantuk. Sebaiknya aku istirahat." ucap Tania.
Dia segera keluar dari sana dan ke kamar nya.
__ADS_1
Sebelum tidur dia harus mandi dulu karena dia belum mandi sama sekali.
"Sabun-sabun ini sangat wangi sekali, dulu waktu orang tua ku hidup aku masih bisa memakai sabun yang mahal, namun sekarang tidak bisa lagi." ucap Tania.
"Uuhh badan ku kembali Segar." ucap Tania yang baru saja keluar dari kamar mandi. Namun dia sangat terkejut melihat Angga tidur di kasur nya tengkurap.
"Tuan Angga?!" ucap Tania. Dia mendekati Angga. "Tuan! Tuan!" panggil Tania. Namun Angga sama sekali tidak menghiraukan nya.
"Tuan Angga kenapa bisa di sini?" tanya Tania mendekati Angga sambil menggoyang kan lengan nya.
Namun tiba-tiba Angga menarik nya ke kasur dan memeluk nya begitu erat. Tania sempat berteriak namun tiba-tiba dia menutup mulutnya karena mencium bau minuman yang sangat menyengat sekali.
"Apa Tuan baru minum?" ucap Tania. "Hummmm." Angga tidak sadar.
"Sangat bau sekali." ucap Tania. Angga mengendus bau badan Tania.
"Kamu sangat wangi sekali sayang." ucap Angga tepat di leher Tania.
"Tuan mabuk. Sebaiknya Tuan kembali ke kamar Tuan. Ayo saya bantu." ucap Tania. Badan Angga cukup besar sehingga dia tidak kuat.
"Tuan harus pindah." ucap Tania. Angga perlahan membuka mata nya dia melihat Wajah Tania berubah menjadi wajah Violet almarhum tunangan nya.
"Saya bukan violet Tuan, saya adalah Tania." ucap Tania mendorong Angga sampai dia terjatuh ke lantai.
Angga kesakitan, Tania panik karena dia merasa tidak mendorong begitu kuat.
"Maaf Tuan, saya tidak bermaksud membuat jatuh ke lantai." ucap Tania sambil menjulurkan tangannya. Angga sekarang bisa melihat Tania dengan jelas.
Dia melihat tangan Tania yang siap membantu nya berdiri.
Angga tidak melepaskan tatapan nya dari wajah Tania.
"Tuan seperti nya sangat Mabuk. Malam ini Tuan bisa tidur di sini." ucap Tania. Dia membaringkan Angga.
"Saya sangat merindukan kamu Violet. Aku sangat senang kamu mau kembali kepada ku." ucap Angga.
Tania Menghela nafas panjang. "Violet seperti nya adalah almarhum Tunangan Tuan Angga yang mirip dengan ku." batin Tania.
"Tuan lihat saya baik-baik, saya bukan violet, saya Tania." ucap memegang tangan Angga yang hendak merabah Pipi Tania.
__ADS_1
"Kau sudah mengambil mata Tunangan saya! Keluarga mu sudah membunuh ibu dan tunangan saya!" ucap Angga lagi.
Dia menangis dan seperti nya sangat terpukul mengingat itu, Tania paham rasa nya seperti apa dia langsung memeluk Angga dengan sangat erat.
"Keluar mu membuat saya hidup sengsara seperti ini, saya tidak memiliki siapapun lagi. Orang yang saya sayang pergi meninggalkan saya." ucap Angga.
"Tuan tidak sendirian, saya di sini." ucap Tania. Dia berusaha menenangkan Angga.
Tania bisa merasakan trauma yang di hadapi oleh Angga, dia pernah merasakan hal itu namun diiringi waktu dia bisa sembuh dari rasa trauma itu.
"Saya di sini Tuan. Saya akan menemani tuan." ucap Tania.
Angga menangis di pelukan Tania. Perlahan tangan nya mulai memeluk Tania. Cukup lama Tania harus menenangkan Angga.
Tania mau melepaskan pelukannya karena Angga sudah lebih tenang namun Angga memeluk nya cukup erat.
Dia tidak ingin Angga sedih lagi akhirnya dia berbaring di samping Angga.
"Aku tidak tau kronologi cerita nya seperti apa. Tapi aku tau Tuan Angga tidak memiliki siapapun pun sekarang. Di usia nya yang masih muda dia pasti mengalami trauma yang begitu berat." batin Tania.
Tania memiliki pikiran yang begitu dewasa, walaupun sebenarnya dia tidak suka pada Angga namun ini semua karena orang tua nya.
Keesokan harinya...
Tania bangun lebih awal. Dia mendapati dirinya Berbaring di lengan Angga dan wajah nya begitu dekat dengan wajah Angga.
Dia mau bangun namun tiba-tiba Angga juga bangun.
Angga terlihat sangat kaget melihat Tania satu ranjang dengan nya.
"Ngapain kau ada di sini?" tanya Angga langsung mendorong Tania dengan kaki nya sampai jatuh ke lantai.
"Ini kamar saya Tuan. Justru Tuan yang datang ke sini." ucap Tania. Angga melihat ke sekeliling.
"Kau sengaja membawa saya ke sini dalam keadaan mabuk kan? Kau menjebak saya." ucap Angga.
"Mana mungkin saya melakukan itu Tuan. saya hanya membantu Tuan karena menangis sepanjang malam, badan tuan juga bergemetar." ucap Tania.
"Kamu adalah wanita seperti yang di luar sana! Membawa majikan nya ke kamar dan setelah itu menuduh yang tidak-tidak!" ucap Angga.
__ADS_1
Tania terdiam. Angga keluar dari kamar itu namun ternyata ada Dara di depan pintu kamar yang hendak membangun kan Tania.