
"Baiklah. Kamu jaga diri baik-baik di sana." ucap Angga.
"Ya udah kalau begitu kamu istirahat yah Beby, aku mau lanjut kerja. Bye sayang..." Panggilan pun langsung mati.
"Kalian dari mana saja? Kenapa begitu lama?" tanya Angga. Tania sedang memberikan cemilan pada Eki.
"Eki mungkin merasa bosan di ruangan ini Saja tuan, Saya membawa nya jalan-jalan sebentar." jawab Tania.
Angga menghela nafas panjang. "Oh iya Tuan saya membeli ini untuk Tuan." ucap Tania sambil memberikan roti yang sangat di sukai oleh Tania.
"Saya tidak suka roti coklat." jawab Angga. "owh begitu ya Tuan, saya tidak tau." ucap Tania menurunkan kembali Roti itu namun tiba-tiba di tarik oleh Angga.
"Kau sudah membeli nya, mubajir kalau tidak di makan!" ucap Angga. Tania hanya dia saja. Dia melihat Angga kesusahan membuka kotak kue dia berniat membantu nya.
"Sini saya bantu buka Tuan." jawab Tania. Angga memberikan nya. Angga memerhatikan Cincin yang di jari manis Tania.
Tiba-tiba kepala nya sangat pusing. "Tuan! Tuan ada apa?" tanya Tania, dia memanggil dokter. Tidak beberapa lama akhirnya Angga tenang setelah di suntik oleh dokter.
Tania menyuapi nya memakan roti itu. Namun Tania baru sadar kalau Angga sedang memerhatikan cincin nya.
"Ada apa dengan Cincin saya Tuan?" tanya Tania. Angga menggeleng kan kepala nya.
"Dari tadi Tuan memandangi cincin saya, bahkan tuan juga pusing karena melihat Cincin saya." ucap Tania.
Tania meletakkan Roti dia memegang cincin nya.
"Ini adalah cincin pernikahan saya dulu Tuan. Mungkin kelihatan nya sangat tidak Cocok di saya sekarang karena harga nya yang mahal. Tapi yang membeli ini adalah papah saya." ucap Tania.
"Cihh Cincin pernikahan di belikan oleh orang tua wanita? Pria seperti apa suami kamu?" ucap Angga. Tania tersenyum.
"Saya sangat mencintai dia, kami saling mencintai namun pada saat itu dia belum bekerja, begitu juga dengan saya. Papah dan Mamah saya sangat baik sehingga mereka berkorban untuk menikah kan kami, memfasilitasi kami." ucap Tania.
Angga hanya diam. Angga sudah menghabiskan roti nya.
"Tugas saya di sini sudah selesai Tuan. Saya harus kembali menjahit." ucap Tania.
"Pergilah!" jawab Angga. "Tuan tidak akan marah kan?" ucap Tania. Angga hanya diam. Dia melirik ke arah Tania yang menggendong Eki.
"Oh iya Tuan saya akan datang setelah selesai menjahit sekitar jam Empat sore. Saya juga Akan membawa Jas yang sudah selesai saya jahit." ucap Tania.
Tania pamit pulang.
__ADS_1
"Ibu mau pulang, mari saya antar." ucap supir Angga.
"Dia pulang dengan saya saja!" ucap Nada.
"Nada!" Ucap Tania sangat senang akhirnya bertemu dengan nada. Nada tersenyum.
"Aku mendengar Kalau Tuan Angga sakit, apa benar?" tanya Nada.
"Kebetulan kamu di sini, lebih baik kamu pergi menjenguk nya, dia sedang sendirian." ucap Tania.
"Kamu serius?" tanya Nada, Tania menganguk.
"Oh iya pak saya tidak jadi mengantarkan Tania pulang. Tolong antar kan dia pulang dengan selamat ke tujuan nya." ucap Nada.
Supir itu hanya mengangguk. Nada berlari masuk kerumah sakit.
Dia tidak melihat satu pun pengawal di sana. Di mengetuk pintu dan masuk.
"Saya sudah menduga kau akan kembali. Karena botol susu anak itu tinggal!" ucap Angga. Namun ternyata yang datang adalah Nada dia langsung terdiam.
Nada tersenyum. "Bagaimana keadaan Tuan?" tanya Nada.
"Maafkan saya masuk tanpa ijin, saya ke sini karena ingin melihat keadaan Tuan." ucap Nada.
Angga diam. "Kalau Tuan kurang nyaman saya di sini, saya bisa keluar." ucap Nada. "Tunggu dulu!" Angga menahan Nada.
Tania sudah sangat senang sekali Angga menahan nya.
"Iyah Tuan." jawab Nada.
"Apa saya boleh bertanya tentang sesuatu?" tanya Angga.
"Tuan boleh bertanya apapun yang ingin tuan tanyakan." ucap Nada.
"Terimakasih." ucap Angga. Nada tersenyum.
"Saya ingin tau dari mana anda mendapatkan penjahit seperti wanita itu?" tanya Angga.
"Wanita mana Tuan? Penjahit saya sangat banyak wanita." ucap Nada.
Angga seperti berfikir dia mencoba mengingat keras nama seseorang.
__ADS_1
"Apa yang tuan maksud Tania?" tanya Nada, Angga langsung menganguk.
"Oohh dia awalnya hanya ingin menjadi penjahit di butik saya, dia membawa baju yang dia jahit oleh nya. Sebagai bukti kalau dia bisa menjahit. Pada saat itu dia sangat butuh uang. Karena jahitan nya sangat rapi, model yang bagus baju nya terjual mahal dan pada akhirnya butik saya sangat ramai karena dia." ucap Nada.
"Seperti nya dia adalah anak orang kaya." ucap Angga lagi.
"Itu dua tahun yang lalu, mungkin Tuan juga kenal dengan orang tua nya." ucap Nada.
"Maksudnya?" tanya Angga. "Orang tua nya meninggal dua tahun yang lalu. Semua Harta kekayaan yang di tinggal kan oleh orang tua nya hanya habis membayar hutang, bahkan sampai sekarang hutang orang tua nya banyak yang harus di bayar." ucap Nada.
"Anda tau banyak tentang dia, apa dia kerabat anda?" tanya Angga. "Kami Hanya temenan di saat kuliah, namun tidak begitu berhubungan Bagus." ucap Nada.
"Oohhh." jawab Angga singkat.
"Oh iya Tuan apa Tuan sudah makan? saya Akan membawa kan makanan untuk Tuan." ucap Nada, Angga mau menolak namun tidak enak karena Nada hanya berniat baik.
Sementara Tania baru saja sampai rumah. "Pasti Mona sudah sangat mengkhawatirkan aku." ucap Tania.
Dia melihat pintu rumah Masih terkunci. "Loh apa Mona tidak pulang ke rumah?" batin Tania.
Di Membuka dan masuk ke dalam dan benar saja Mona tidak pulang.
Dia mau menelpon Mona namun handphone nya sudah rusak.
"Kemana dia? Tidak mungkin dia langsung ke sekolah, baju sekolah nya saja Masih ada di kamar." batin Tania.
Namun karena tidak enak supir menunggu nya terlalu Lama akhirnya mereka segera ke rumah Angga.
Dia menyerahkan Eki pada pengasuh nya.
"Sus kalau Eki sedikit Rewel harap di maklumi yah." ucap Tania. "Tidak apa-apa Bu, Nama nya juga anak kecil." ucap suster.
"Kamu tidak perlu meragukan baby sitter lulusan S1 ini, dia juga sudah di latih sebelum masuk ke keluarga Ini." ucap Fani.
Tania sangat terkejut mengetahui pengasuh Eki adalah orang berpendidikan.
"Kalau begitu ayo saya antar ke ruangan kamu." ucap Dara yang juga baru datang. Tania menganguk. Dia masih belum hapal lika-liku Rumah itu karena sangat banyak ruangan.
"Bagaimana keadaan Tuan Angga?" tanya Dara.
"Kelihatan nya tuan Angga sangat cepat pulih Mbak, saya yakin karena Obat dari dokter yang sangat paten dan juga itu bukan rumah sakit sembarangan." ucap Tania. Dara hanya tersenyum.
__ADS_1