
Kedua nya langsung menepuk kepala masing-masing.
"Ini sungguh rumit sekali." ucap mereka berdua.
"Tapi aku tidak berniat untuk membunuh mereka, aku hanya membalas kan dendam ku kepada Danil yang sudah berani mengambil Lidya dari ku. Bahkan aku tidak tau kenapa aku melakukan itu, aku hanya mendengar penjelasan dari Livy" ucap Angga.
"Sudah lupakan saja tentang itu, bagaimana kalau kamu menuruti saja keinginan Livy dan di saat dia lengah kamu mengambil bukti yang dia punya." ucap Dimas.
"Tidak semudah itu." ucap Angga.
Riski dan Dimas menghela nafas panjang.
"Sebaiknya kita minum saja." ucap Dimas. Karena ikut pusing mereka memutuskan untuk minum.
Livy di rumah dia sedang makan di meja makan tiba-tiba handphone nya berbunyi. Ternyata itu dari selingkuhan nya.
"Huff kenapa harus nelpon sekarang sih?" ucap Livy kesal.
"Siapa yang nelpon non? kenapa tidak di jawab?" ucap Dara. Livy tidak ingin di curigai akhirnya dia menjawab.
"Halo Sayang kenapa kamu tidak kembali ke sini? Aku sangat merindukan kamu." ucap kekasih nya.
"Seperti nya aku masih lama di sini, nanti aku Mengabari lagi." ucap Livy.
"Aku masih merindukan kamu sayang."
"nanti aku akan menelpon kembali." ucap Livy langsung mematikan sambungan telepon nya.
"Itu adalah teman akrab saya. Dia ingin saya cepat kembali." ucap Livy. "Kenapa non tidak pulang saja? Secara non kan di sini tidak ada kerjaan." ucap Dara.
"Kamu mengusir saya? Ini adalah rumah pacar saya!" ucap Livy.
Dara diam. "Humm bukan mengusir sih Non, hanya saja semenjak ada Non semua keadaan semakin kacau, yang awalnya baik-baik saja menjadi berantakan." ucap Dara.
"Saya akan melaporkan kamu kepada Angga!" ucap Livy Kesal.
"Silahkan saja Non." ucap Dara langsung pergi. "Dasar gak tau Sopan santun! Awas saja kamu." ucap Livy.
"Dara kenapa kamu seperti itu kepada Non Livy?" tanya Fani.
"Abis nya ngeselin sih!" ucap Dara. "Tapi bagaimana kalau dia benar-benar melaporkan kepada tuan Angga." ucap Fani.
"Aku sangat membenci nya, karena dia Tuan Angga dan Tania putus, padahal baru beberapa hari bersama. Apa kamu tidak melihat bahagia nya Tuan Angga saat bersama Tania?" ucap Dara.
"Kamu benar sih." ucap Fani.
__ADS_1
"Aku hanya ingin melihat Tuan Angga bahagia. Sangat jarang dia bisa bahagia dengan keputusan nya sendiri." ucap Dara.
"Kita tidak bisa ikut campur juga Dara. Kamu jangan sampai terbawa-bawa." ucap Fani. Dara menganguk.
"Tapi aku akan membuat si Nenek sihir itu keluar dari rumah ini." ucap Dara.
Fani tersenyum. "Aku tidak ikut-ikutan." ucap Fani. Dara Menghela nafas panjang.
"Oh iya ngomong-ngomong kamu tau tidak kalau Tuan Angga kemana? Aku ingin meminta dia memeriksa dokumen baru." ucap Fani.
Dara Menggeleng kan kepala nya. "Mungkin ke kantor." ucap Dara.
"Tidak mungkin malam-malam seperti ini ke kantor!" ucap Fani.
"Seperti kamu tidak tau saja kalau Tuan Angga sudah pusing dia pasti mabuk-mabukan. Masalah nya aku tidak tau di mana dia minum." ucap Dara. J J J J.
Keesokan harinya...
"Selamat pagi semua nya..." Angga masuk ke ruangan meeting dengan wajah yang begitu dingin sehingga semua orang yang melihat wajah Angga tampa Ekspresi takut.
Ruangan meeting yang tadi nya sangat hangat Sekarang sangat dingin dan terasa sangat tegang. Kali ini Angga meninggikan suara nya ketika ada yang salah sehingga semua orang benar-benar teliti.
Dua jam meeting kelar.
"Ini data-data meeting hari ini perlu tanda tangan bapak agar segera di kirim kan." ucap Fani. Angga menandatangani nya.
"Makan siang dengan Tuan Sandi." ucap Fani.
"Tumben-tumbenan sekali papah mengajak makan siang." ucap Angga.
Fani diam.
"Baiklah kalau begitu saya keruangan saya." ucap Angga. "Tuan.." panggil Fani.
"Ada apa?" tanya Angga.
"Apa.tuan baik-baik saja?" tanya Fani.
Angga berbalik dia menatap Fani.
"Apakah saya kelihatan nya sakit?" ucap Angga. Fani sedikit tidak enak.
"Bukan seperti itu maksud saya Tuan." ucap Fani.
"Saya baik-baik saja, tidak perlu mengkhawatirkan saya." ucap Angga. "Tapi Tuan wajah tuan terlihat sangat pucat, saya takut Tuan sakit lagi." ucap Fani.
__ADS_1
Angga menghela nafas panjang. Dia meletakkan kedua tangannya di pundak Fani sampai Fani kaget.
"Saya bilang baik, percaya lah, ini hanya kurang tidur dan kebanyakan minum." ucap Angga. "Tuan yakin?" ucap Fani.
"Terimakasih sudah memperdulikan saya. Kamu dan Dara bagaikan saudara perempuan saya." ucap Angga. Fani bisa merasakan kesedihan Angga, namun Angga mencoba untuk menutupi nya.
"Saya ingin memeluk Tuan." ucap Fani. Angga Menggeleng kan kepala nya. "Kamu melunjak." ucap Angga menggeplak kepala Fani dengan pelan.
"Tunggu Dulu Tuan." ucap Fani. Fani memperbaiki pakaian Angga dan juga dasi nya.
"Apakah saya kelihatan sangat kacau hari ini?" tanya Angga. Fani mengangguk.
"Apa?" ucap Angga kaget.
"ma-maksud saya bukan seperti itu Tuan. Biasanya Tuan tidak marah-marah. Selalu datang ke kantor pagi dan juga rapi. Namun kali ini tuan benar-benar sangat berbeda." ucap Fani.
"Sekacau ini saya Tampa kamu Tania." batin Angga.
"Baiklah kalau begitu kamu lanjut bekerja. Terimakasih sudah memperbaiki nya." ucap Angga. Fani menganguk.
Angga duduk di kursi nya sambil membuka handphone nya dia melihat nomor Tania.
Dia memutuskan untuk menelpon Tania namun ternyata tidak bisa di hubungi.
"Kenapa? Ada apa dengan nomor nya?" tanya Angga. Dia jadi panik sendiri namun tiba-tiba Staf masuk. Staf yang suka pada Angga datang membawa kan kopi.
"Silahkan di minum dulu kopi nya Tuan, ini bisa menenangkan fikiran." ucap Staf itu.
"Terimakasih banyak." ucap Angga.
"Humm kelihatan nya Tuan kurang Enak badan, bagaimana kalau saya membantu memijit-mijit punggung Tuan?" ucap Staf.
"Tidak perlu!" jawab Angga. "Pijatan saya enak kok Tuan..Tuan coba dulu deh." ucap staf langsung memijit-mijit tampa ijin namun Angga langsung berdiri.
"Saya bilang tidak yah tidak! Jangan mencoba menggoda saya!" ucap Angga. Staf itu melihat Angga marah membuat nya takut. "Keluar kamu dari ruangan saya!" ucap Angga.
Staf itu keluar dari sana. Angga Menghela nafas panjang.
"Membuat emosi saja!" ucap Angga.
"Kenapa kamu marah-marah seperti itu Angga?" tanya Danil yang baru saja datang. Angga melihat Danil.
"Siapa yang mengijinkan mu masuk?" ucap Angga.
"Sejak Kapan ada peraturan yang melarang aku masuk ke sini?" ucap Danil. Angga diam.
__ADS_1
"Kelihatan nya kau seperti memiliki Masalah? Kenapa? Apa karena masalah pekerjaan?" tanya Danil. Angga menghela nafas.
"Sebaiknya kau pergi dari sini, aku tidak ada urusan dengan mu lagi!" ucap Angga.