Janda Muda Dan Brondong Kaya

Janda Muda Dan Brondong Kaya
Episode 152


__ADS_3

"Ini sudah atas nama ku, sekarang perusahaan itu milik ku." ucap Angga.


"Kurang ajar! Kamu benar-benar keterlaluan!" ucap Danil memarahi Angga.


namun Angga Terus tersenyum.


"Aku rasa kamu sudah bisa tenang, karena Mulai dari sekarang aku akan menguasai semua nya." ucap Angga.


"Jangan lakukan itu Angga! Kalau kamu melakukan itu kamu akan tau akibat nya." ancam Danil.


Angga tertawa. "Sebaik nya kamu menikmati kehidupan kamu di sini yah, semoga kamu nyaman dan juga betah di rumah baru kamu." ucap Angga.


Danil sangat Emosi, namun dia tidak bisa melakukan apapun kecuali hanya bisa menggertak Angga.


"Angga sialan!!" maki Danil dia di bawa masuk ke dalam jeruji besi itu lagi.


Setelah dari sana Angga menemui Livy. Melihat Livy yang sangat berantakan membuat Angga prihatin. Namun walaupun seperti itu dia tetap tidak bisa melupakan karena Livy dia kehilangan orang tua nya.


"Ngapain kamu ke sini? Kamu sangat jahat sekali! kamu benar-benar sangat tega kepada ku!" ucap Livy.


Angga menghela nafas panjang. Dia mendekati Livy.


"Aku hanya ingin melihat keadaan kamu? Apa itu tidak boleh?" tanya Angga.


"Pergi kamu dari sini! Kamu sangat jahat!" ucap Livy.


"Lebih jahat mana kamu atau aku?" ucap Angga.


"Selama ini kamu menghianati aku, dan kamu membunuh kekasih serta orang tua ku, apa itu tidak jahat?" tanya Angga.


"Pergi kamu dari sini! kamu tidak benar-benar sangat jahat sekali!" ucap Livy.


"Tuan urusan dengan polisi sudah selesai. Sebentar lagi Tamu Tuan akan datang, sebaiknya kita kembali ke kantor." ucap Rendi.


"Baiklah." ucap Angga. Mereka pun meninggalkan kantor polisi.


Tidak terasa sudah sore.. Angga sudah selesai bekerja dia Menuju ke Butik.


"Permisi.. Apa Tania masih ada di ruangan nya?" tanya Angga kepada kasir Butik. "Masih Tuan, apa perlu saya antar!" tiba-tiba Nada muncul.


"Terimakasih.. Saya bisa ke sana sendiri." ucap Angga.


"Tunggu dulu Tuan." ucap Nada menahan Angga. "Ada apa?" tanya Angga.


"Ada undangan untuk Tuan." ucap Nada.


Angga membaca nya.

__ADS_1


"Secepat itu?" tanya Angga. "Bukan kah lebih cepat lebih baik tuan? Saya dan Aris sudah yakin untuk menikah.. Jadi tidak ada salah nya bukan?" ucap Nada.


"Selamat yah, semoga lancar sampai hari H." ucap Angga.


"Tuan bisa datang kan? Karena tamu istimewa kamu hanya dua orang. salah satu nya tuan. Saya akan merasa sangat bahagia kalau tuan mau datang." ucap Nada.


"Saya pasti akan datang." ucap Angga.


"Asikk..." ucap Nada Sangat senang sekali.


"Kalau boleh tau siapa tamu Istimewa satu lagi?"' tanya Angga.


"Tania Tuan. Saya ingin kalian datang berpasangan." ucap Nada. Angga tersenyum.


"Baiklah kalau begitu, kamu tidak perlu khawatir kami tidak bisa datang." ucap Angga.


"Terimakasih banyak Tuan.. Kalau begitu silahkan menemui Tania di ruangan nya." ucap Nada. Angga menganguk.


Angga berjalan ke arah ruangan kekasih nya namun yang pertama menyambut dan sadar dia datang adalah Eki.


Eki langsung meminta di gendong oleh Angga.


"Eh kamu sudah datang?" ucap Tania. Angga tersenyum.


"Nih saya membawa makanan. Kamu istirahat dan makan ini dulu." ucap Angga. Tania menganguk.


"Saya tadi dari kantor polisi." ucap Angga.


"Kantor polisi? Ngapain?" tanya Tania.


"Banyak yang harus saja urus." ucap Angga. "Oohh." ucap Tania.


"Kamu jangan berfikir yang tidak-tidak!! Saya diminta datang oleh polisi bukan karena ingin menemui Iivy." ucap Angga.


"Aku tidak mengatakan apapun." ucap Tania. Angga terdiam sejenak. "Raut wajah kamu membuat saya jadi berfikir kalau kamu marah." ucap Angga.


Tania tersenyum. "Aku percaya sama kamu." ucap Tania. Angga tersenyum.


"Saya di undang ke acara pernikahan Nada dan Aris. Saya harus mendampingi tamu istimewa nya." ucap Angga Tania Menghela nafas panjang.


"Hufff kamu sengaja kan meminta Nada mengatur itu?" ucap Tania. Angga menggeleng kan kepala nya.


"Saya tidak melakukan itu, kamu jangan menuduh saya yang tidak-tidak." ucap Angga. Tania tertawa.


"Apakah saya boleh daya sebagai pasangan kamu?" tanya Angga.


Tania terdiam sejenak. "Boleh atau tidak?" tanya Angga.

__ADS_1


"Iyah boleh." ucap Tania. Angga sangat senang .


"Kamu harus menjahit Jas baru untuk saya." ucap Angga.


"Tidak bisa lagi.. Aku sudah mengambil jahitan untuk tamu-tamu penting di pernikahan Nada. Aku tidak memiliki Waktu untuk menjahit Jas kamu." ucap Tania.


"Kamu serius? Lalu saya harus memakai apa?" tanya Angga.


"Sudah tidak apa-apa.. Kamu bisa memakai yang lama." ucap Tania. Angga menggeleng kan kepala nya.


"Oaku sudah tau kalau saya tidak akan memakai jas Lama saya dua kali ke acara yang sama." ucap Angga.


"Tapi ini tempat yang berbeda, orang yang melihat juga berbeda." ucap Tania. Angga menggeleng kan kepala nya.


"Saya mau jas yang baru." ucap Angga. "Kalau begitu kamu bisa mencari di butik-butik yang lain. Mungkin banyak yang sudah jadi dan sangat bagus." ucap Tania.


Angga menggeleng kan kepala nya. "Saya hanya mau jas dari Butik ini dan jahitan kekasih saya Sendiri." ucap Angga.


Tania menghela nafas panjang. "Humm terserah kamu saja, aku sudah bilang aku tidak akan bisa. Aku akan kembali bekerja." ucap Tania.


"Ini sudah jam lima Sore, waktu nya pulang." ucap Angga.


"Aku harus menyelesaikan semua pesanan dengan cepat. Dalam Minggu ini aku pasti akan Sibuk." ucap Tania.


"Kalau seperti itu apa kamu tidak memiliki waktu normal bertemu dengan keluarga saya?" tanya Angga.


"Menurut kamu bagaimana? Aku harus menyelesaikan ini dulu." ucap Tania.


"Baiklah kalau begitu saya akan menunggu kamu." ucap Angga. Tania membiarkan Angga menunggu nya.


Namun sudah sangat malam Tania tak kunjung selesai. Angga sudah sangat lelah dan juga mengantuk. Eki juga sudah tidur di pangkuan nya.


"Tania ini sudah larut malam, sebaik nya kamu pulang." ucap Angga. Tania menggeleng kan kepala nya. "Sebentar lagi yah." ucap Tania.


Satu jam kemudian akhirnya selesai . Tania melihat jam.


"Sudah jam sebelas." ucap nya sambil meregangkan otot-otot nya.


Dia melihat Angga dan Eki sudah tidur di karpet dengan nyenyak.


"Ya ampun bagaimana bisa aku lupa kalau mereka di sini?" ucap Tania. Dia mau membangun kan mereka namun tidak tega.


."Ah sudah lah sebaik nya kamu tidur di sini saja malam ini. Karena Besok pagi aku harus ke sini dengan cepat." ucap Tania.


Tania tidur di samping Angga. Angga antara sadar dan tidak sadar dia memberikan lengang nya jadi bantal agar Tania bisa nyaman tidur. Karena Hanya satu bantal di sana.


Tania menatap wajah Angga.

__ADS_1


"Terimakasih yah sudah mau menunggu, dan selalu sabar." ucap Tania.


__ADS_2