
"Kamu harus berterimakasih pada semua orang yang membantu kamu di sini." ucap Orang tua Angga.
Angga tersenyum kepada semua anggota nya. Dia melihat Nada. Mereka semua berpelukan.
"Terimakasih sudah mau membantu dan menolong saya." ucap Angga.
"Sama-sama tuan, mana mungkin kami membiarkan bos Tampan kami di penjara Tampa sebab." ucap Dara.
"Kamu bisa saja." ucap Angga.
"Tapi Tuan masih harus mengucapkan terimakasih kepada satu orang lagi." ucap Dara.
"Siapa?" tanya semua orang. Tapi Angga tiba-tiba berlari dia meninggal kan kantor polisi begitu saja.
Orang tua Angga bingung dengan Angga.
Nada, Dara, Fani berpelukan mereka sangat senang bisa berhasil menyelesaikan kasus tuan nya itu.
"Terimakasih banyak yah Dara, Fani." ucap orang tua Angga.
Angga baru saja sampai di Butik Nada tepat jam lima sore.
"Permisi pak, bapak mau mencari Siapa?" tanya karyawan Butik itu.
"Saya mau bertemu dengan Tania." jawab Angga. "Humm Mbak Tania mungkin sudah pulang Pak." ucap Karyawan.
Angga tampa basa-basi dia meninggal kan Butik.
Di kantor polisi masih sangat ramai. "Dara kalau ibu boleh tau siapa yang hendak di temui oleh Angga?" tanya mamah nya Angga.
"Tania Bu, Kalau bukan bantuan dari Tania mungkin Sampai sekarang kami tidak tau kalau tuan Danil adalah dalang dari semua ini." ucap Fani.
"Tania?" ucap papah Angga. Semua nya langsung terdiam.
"tidak ada sangkut pautnya dengan Tania." ucap papah Angga.
"Sudah Pah, jangan emosi seperti ini. Sebaiknya kita pulang dan mencoba membersihkan nama baik keluarga kita." ucap istri nya.
Setelah itu mereka pulang. Masih di perjalanan ke rumah Tania ponsel Angga berdering telepon dari Papah nya.
"Angga kamu di mana? sebaiknya kamu pulang! Jangan mencoba membuat papah marah!" ucap papah nya dengan tegas.
"Aku belum bertemu dengan Tania Pah," ucap Angga. "Papah tidak setuju kamu menemui dia!"
"Pah, aku harus mengucapkan terimakasih kepada Tania." ucap Angga.
"Jangan banyak alasan! kamu harus segera pulang!" ucap Papah.
Angga Menghela nafas panjang. "Baiklah Pah." ucap Angga. Sudah di depan rumah Tania.
"Papah tunggu di rumah banyak yang harus kita bicarakan."
__ADS_1
Angga menginyakan. Dalam situasi seperti ini dia tidak boleh banyak menentang Papah nya. Melihat Tania menyapu di teras rumah sudah bisa mengobati rasa rindu nya.
Sebelum Tania melihat dia ada di sana dia harus pergi. Namun sekilas Tania melihat ada mobil.
"Loh kok mobil nya putar balik lagi?" ucap Tania.
Namun ponsel nya tiba-tiba berdering.
"Dara.. Ini pasti kabar tentang Angga." batin Tania.
Dia menjawab nya.
"Halo Tania kamu di Mana? apa kamu sedang bersama Tuan Angga?" tanya Dara.
"Aku lagi di rumah, aku tidak bersama tuan Angga, ada apa?" tanya Tania.
"Tuan Angga menyusul kamu." ucap Dara.. Tania melihat mobil yang sudah jauh. Dia tau jelas itu salah satu mobil Angga.
"Kalau sudah Sampai di sana, tolong suruh Tuan Angga cepat pulang yah, orang tua nya sudah marah-marah, karena Masih banyak yang harus di selesaikan." ucap Dara.
"Baiklah." ucap Tania. telepon pun mati.
"Seperti nya Orang tua Angga tidak mengijinkan Angga menemui aku, lebih baik seperti ini saja, mungkin yang terbaik seperti ini." ucap Tania.
"Assalamualaikum Mbak." Mona datang.
"Walaikumsalam." jawab Tania dengan wajah tersenyum.
"Sudah kamu jangan banyak tanya. kamu langsung makan setelah itu bantu mbak jagain Eki." ucap Tania.
"Aku kan ingin tau juga mbak." ucap Mona.
"Sudah masuk sana." ucap Tania.
"Jawab Dulu mbak. Apa tuan Angga sudah keluar dari penjara?" tanya Mona.
"Lebih baik kami baca-baca berita di handphone kamu deh." ucap Tania.
Mona langsung membuka handphone nya.
"Huhhh dasar wanita licik. Laki-laki licik!" ucap Mona mengumpat. Tania menghela nafas panjang.
"Walaupun dulu aku tidak suka pada Tuan Angga tapi aku tidak tega kalau Tuan Angga di fitnah seperti ini, mana mungkin Tuan Angga membunuh ibu dan tunangan nya sendiri." ucap Mona.
"Kamu mandi sana!" ucap Tania.
"Iyah mbak, Iyah. Jangan marah-marah gitu dong." ucap Tania.
"Bagaimana tidak marah, di bilangin sekali gak dengar-dengar!" ucap Tania. "
"Ada apa ini? kenapa kamu marah-marah seperti itu?" tanya Bibik sisi baru saja pulang.
__ADS_1
"Eh Bibik sudah pulang? Ini Loh bik, di suruh mandi malah main handphone." ucap Tania. Bibik Sisi tersenyum. "Mandi gih sana Mona, kamu jangan membuat mbak kamu emosi." ucap Bibik Sisi.
"Iyah Bik. Aku mandi dulu yah." ucap Mona.
"Bagaimana kerjaan Kamu?" tanya Bibik kepada Tania.
"Lancar Bik, sangat ramai." ucap Tania. "Alhamdulillah." ucap Bibik Sisi.
"Bibik gak usah bekerja menjadi pencuci seperti ini lagi bik, pasti ini sangat melelahkan." ucap Tania.
"Aku bisa kok memberikan Bibik uang harian." ucap Tania.
"Tidak apa-apa nak, sebaiknya kamu menabung saja, utang kamu juga belum lunas, Bibik melakukan ini agar tidak Bosan saja di rumah." ucap Bibik Sisi.
"Aku sudah membagi nya bik, utang ku sebelum nya sudah di bayar oleh tuan Angga." ucap Tania.
"Alhamdulillah kalau begitu. Sebaiknya kamu lebih fokus menabung." ucap Bibik sisi.
"Aku ingin Bibik berhenti kerja bik, Bibik sudah tua, istirahat saja di rumah." ucap Tania. "Tidak apa-apa nak." ucap Bibik Sisi yang sama sekali tidak mau berhenti bekerja.
Tania menghela nafas panjang.
"Ya sudah kalau Bibik tidak mau berhenti, tapi Bibik gak boleh kecapean yah. Ini sudah aku sisihkan untuk Bibik." ucap Tania memberikan uang kepada Bibik sisi..
Bibik sangat senang, begitu juga dengan Tania.
"Ekhem-Ekhem!! Ada apa nih? kelihatan nya serius sekali..aku ganggu gak?" tanya Aris yang baru saja datang.
"Aris... kamu kapan sampai nya?" tanya Tania.
"Baru saja." ucap Aris.
"Bibik istirahat saja di dalam, aku berbicara dengan Aris dulu." ucap Tania.
"Eki mana? aku bawa jajanan untuk dia dan juga Mona." ucap Aris. Tania memanggil Eki.
"Apa kamu sudah tau tentang Angga?" tanya Aris. Tania menganguk.
"Sudah kok." ucap Tania.
"Aku tidak menyangka kalau ternyata kekasih nya seperti itu, benar-benar menusuk Tuan Angga." ucap Aris.
"Aku tidak ingin membahas nya." ucap Tania.
"Tapi aku dengar-dengar kamu masih sering bertemu dengan tuan Angga, apa benar kamu memiliki hubungan dengan dia?" tanya Aris lagi.
"Huff Kepo deh.." ucap Tania.
"Jawab Tania, aku sebagai teman kamu harus tau." ucap Aris.
Tania tersenyum sambil menggeleng kan kepala nya membuat Aris semakin penasaran.
__ADS_1